Archive

Archive for May, 2011

Change SSH port for security reason on AIX

May 5, 2011 Leave a comment

Today i face a problem about ssh and sshd services on my AIX box. Absolutely i can’t connect to the machine using standard port of SSH. This is definitely annoying because this  service of ssh is currently used for maintain and manage the machine remotely.

Thanks to telnet, on first deployment i install the telnet services alongside the ssh for backdoor connection if of the ssh services is failed, so i still connect to my machine.

First step i do is checking the services of sshd an ssh using command below :

#lssrc -s sshd

the result show the services is on inoperative state.

then i invoke the command below to restart the service :

#stopsrc -s sshd

#startsrc -s sshd

the i invoke the first command to see the service state, and the result show the services still on inoperative state.

To see what happened on detail process, the following command invoked :

#/usr/sbin/sshd -de

the terminal show there’s problem on binding port, means the port already used.

to resolve the problem, i decide to change port from standard port to more restricted port. in this case let says the port changed to 789456.

So, what do I do to change this from the AIX side?
Using the following command :

#vi /etc/ssh/sshd_config

I’ve edited the port in /etc/sshd_config (removed the #) Port 789456

I also changed the defaults to 789456 in my  /etc/services

ssh 789456/udp # SSH Remote Login Protocol
ssh 789456/tcp # SSH Remote Login Protocol

then i restart the service again using the following command :

#stopsrc -s sshd

#startsrc -s sshd

to check if the configuration is running well, try to connect to the machine using the following command :

#ssh -p 789456 ahmad@localhost

and voila …. now i can connect to my machine again …

I have read about the security benefits of not using  default port of SSH then i change mine. and now my AIX Box feel more secure …

Cheers

BOG Camp, May 5th 2011

A. Ahmad Kusumah

Categories: Teknologi Informasi Tags: , ,

Empat Media Penyebab Fahisyah …

May 1, 2011 1 comment

Bismillah ….

Setelah sekian lama akhirnya bisa menulis kembali …

kesibukan yang yang melanda akhir-akhir ini juga beberapa kejadian yang mengharuskan diri lebih bersabar telah secara langsung membuat semangat untuk menulis menjadi berkurang. Namun sesuai dengan ungkapan populer ..” lebih baik telat daripada tidak sama sekali”, yang suka dijadikan senjata orang-orang pemalas dan futur untuk justifikasi perbuatannya, kayaknya masih relevan untuk dijadikan sebagai landasan menulis kembali …

Tulisan ini dilhami oleh maraknya fenomena Fahisyah yang semakin merejalela di negeri tercinta ini. Tidak orang besar, orang kecil, gejala ini merasuk ke semua elemen sampai ke persendian kehidupan bermasyarakat. Dahulu, ketika manusia masih punya “malu” dan kesadaran akan adanya hari pembalasan, kejadia-kejadian ini merupakan sebuah aib besar dan sebuah pukulan terhadap norma sosial bermasyarakat, namun sekarang hal itu sepertinya sudah dianggap sebuah hal yang biasa.

Fenomena MBA (married by Accident), kebanggaan akan kehamilan yang terjadi sebelum nikah, menjamurnya film-film esek-esek atas nama kebebasan berekspresi merupakan contoh kejadian-kejadian yang kayaknya sudah dianggap biasa oleh sebagian masyarakat. dan maslahnya ini bukan hanya terjadi di kota-kota besar dan metropolitan, bahkan di pelosok perkampungan yang dulu dijadikan sebagai basis untuk mengontrol norma, hal itu sepertinya sudah dianggap sesuatu hal yang wajar.

Benar ungkapan orang tua dulu , ” nanti diakhir zaman, ketika dunia mendekati akhir, kalo sekarang berzina sembunyi-sembunyi, maka pada masa itu orang cuma bisa berkata , ” tolong, jangan berzina di tengah jalan, carilah tempat yang tersebunyi””.

Yang jadi pertanyaan, mengapa hal itu bisa terjadi ? dan bagaimana cara mencegahnya agar tidak semakin parah?. padahal jelas-jelas di dalam Alqur’an Allah berfirman :

Dan janganlah kamu mendekati zina,  sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan  yang keji ( fahisyah ) dan suatu jalan yang buruk.” ( QS. Al Isra’, 32)

Dalam ayat ini dijelaskan , bahwasanya Allah  Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang kejinya zina, karena kata “fahisyah” maknanya adalah perbuatan keji atau kotor yang sudah mencapai tingkat yang tinggi dan diakui kekejiannya oleh setiap orang yang berakal, bahkan oleh sebagian banyak binatang.

Dalam ayat lain , Allah berfirman :

“Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman,   ( yaitu ) orang orang yang khusyu’  dalam shalatnya, dan orang orang yang  menjauhkan diri dari ( perbuatan dan perkataan ) yang tiada berguna, dan orang orang yang  menunaikan zakat, dan orang orang yang  menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri istri  mereka, atau budak budak yang mereka miliki,  maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari yang dibalik  itu, maka mereka itulah orang orang yang melampaui batas.” ( QS. Al Mu’minun, 1 – 7 ).

dari ayat ini , khususnya pada bagian ayat 5 -7, secara eksplisit dijelaskan bahwa orang yang tidak mampu menjaga kemaluannya adalah orang yang rugi (tidak beruntung), digolongkan sebagai orang yang tercela, dan termasuk orang yang melampaui batas.

Untuk menjaga agar tidak terjerumus kepada kenistaan yang telah disebutkan diatas, dalam salah satu kitabnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata bahwa ada 4 macam pintu masuknya maksiyat, barangsiapa yang bisa menjaga kontrol terhadap keempat pintu ini, maka Insya Allah Niscaya dia akan terhindar dari maksiyat.

1. Pandangan

Rasullullah SAW bersabda :

“Janganlah kamu ikuti pendangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.” ( HR. At Turmudzi, hadits hasan ghorib ).

“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan  pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah semata, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari kiamat.”      ( HR. Ahmad )..

Pandangan adalah pintu masuk awal perbuatan maksiat. karena dari pandangan itu akan menyebabkan adanya pikiran untuk berbuat maksiat, lalu di tanamkan dalam hati yang secara langsung akan menimbulkan dorongan motorik untuk melaksanakan perbuatan  yang didasari oleh syahwat.

Oleh karena itu, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah bahwa “bersabar dalam menahan pandangan mata ( bebannya ) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya.”

Sesungguhnya menahan pandangan itu lebih mudah dari pada meratapi penyesalan yang timbul akibat dari hasil pandangan tersebut. Maka dari itu, jagalah pandangan dari hal-hal yang bukan menjadi haknya …

2. Pikiran

Maksud pikiran disini adalah pikiran yang melintas sebagai hasil dari proses pandangan atau yang didahului oleh input dari dunia luar. Disinilah pengolahan pertama kali sebelum adanya perbuatan. dorongan syahwat atau dorongan untuk melakukan aksi sebagai response dari input luar disinilah mulai diproses sehingga akhirnya menghasilkan tekad yang kuat dan bulat.

Pikiran pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hati seseorang, sehingga ahirnya dia akan manjadi angan angan tanpa makna (palsu ).

“Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang orang yang dahaga, tetapi bila ia mendatanginya maka ia tidak mendapatkannya walau sedikitpun, dan didapatinya (ketetapan ) Allah di sisiNya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amalnya dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya.” ( QS. An Nur, 39 ).

Di sinilah akal, nalar dan pengetahuan itu berperan. Di sini akan diketahui siapa orang yang tinggi, siapa orang yang sukses, dan siapa orang yang merugi. Kebanyakan orang yang mengagungkan akal dan pengetahuannya, akan kita lihat dia mengorbankan sesuatu yang penting dan tidak khawatir kehilangan kesempatan untuk itu, demi melakukan sesuatu yang tidak penting yang tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya. Dan kita tidak akan mendapatkan seorangpun yang selamat dari hal seperti itu. Hanya saja ada yang jarang dan ada pula yang sering menghadapinya.

Akal dan nalar serta pegangan yang kuat terhadap tali-tali Allah akan membuat kita punya saringan untuk mengenyampingkan lintasan-lintasan . pikiran yang tidak baik dan lebih fokus untuk mewujudkan lintasan-lintasan pikiran yang baik, yang tujuannya adalah untuk mendapatkan keridloan Allah AWT.

“Dan nafsumu, bila engkau tidak menyibukkannya dengan kebenaran, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kebathilan.”

3. Lidah

Lidah adalah sarana kita berkomunikasi dengan dunia luar. baik buruknya hubungan kita dengan dunia luar ditentukan oleh mampu atau tidaknya kita menjada lisan kita.

Kalau kita ingin mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, maka lihatlah ucapan lidahnya, ucapan itu akan menjelaskan kepada anda apa yang ada dalam hati seseorang, dia suka ataupun tidak suka.

Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab “Mulut dan kemaluan”. ( HR. Turmudzi, dan ia berkata : hadits ini hasan shoheh ).

Ibnu Qayyim berkata :

Pada lidah itu terdapat dua penyakit besar. Bila seseorang bisa selamat dari salah satu penyakit itu maka dia tidak bisa lepas dari penyakit yang satunya lagi, yaitu penyakit berbicara dan penyakit diam. Dalam satu kondisi bisa jadi salah satu dari keduanya akan mengakibatkan dosa yang lebih besar dari yang lain.

Orang yang diam terhadap kebenaran adalah syetan yang bisu, dia bermaksiat kepada Allah, serta bersikap riya’ dan munafik bila dia tidak khawatir  hal itu akan menimpa dirinya. Begitu pula orang yang berbicara tentang kebatilan adalah syetan yang berbicara, dia bermaksiat kepada Allah. Kebanyakan orang sering keliru ketika berbicara dan ketika mengambil sikap diam. Mereka itu selalu berada di antara dua posisi ini.

4. Perbuatan

Tentu saja penyebab yang paling utama dari maksiat adalah perbuatannya. jika hanya sebatas baru niat , maka itu masih belom dimasukkan sebagai dosa, ketika sudah dilakukan barulah dianggap sebagai dosa. itu ungkapan sebagian ulama.

Namun perbuatan itu didasari oleh ketiga hal sebelumnya, sehingga jika kita bisa selamat dari ketiga penyebab diatas, maka yang keempat Insya Allah akan selamat.

akhir kata :

“Di antara tanda-tanda kiamat bila ilmu (syar’i)  menjadi sedikit (kurang), dan kebodohan menjadi tampak serta zina juga menyebar (di mana-mana), pria jumlahnya sedikit dan kaum wannita jumlahnya banyak sehingga untuk lima puluh wanita (perbandingannya satu orang pria.”( HR. Bukhori dan Muslim ).

Wallahu ‘Alam Bishowaab ..

Bogor, 1 Mei 2011

A. Ahmad Kusuman

Categories: Umum Tags: , ,