Archive

Archive for December, 2010

Miris …..

December 26, 2010 Leave a comment

Hanya lagi pengen nulis aja …. (miss u my blog)

Udah beberapa hari ini, or tepatnya minggu ini blog ini kontennnya tidak pernah update …

bukannya tidak ada waktu tapi memang sibuk banget perasaan …

 

But, anyway tulisan ini bukan tentang itu, cuma tentang rasa miris yang timbul akibat beberapa kali melihat kejadian yang secara nalar, pantaskah hal itu dilakukan, atau bukan pantas tepatnya, tapi apakah tidak ada cara lain yang lebih elegan …

Kejadian pertama, suatu ketika sedang duduk manis ditempat makan yang lumayan strategis dan ekonomis disekitaran setiabudi. waktu ini kalo tidak salah menunjukan jam 7.30 malam. Ketika sedang asyik menyantap makanan, tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang ibu, dengan dandanan yang cukup rapih, berjilbab , tidak terlihat letih berjalan dengan mengipit (atau mengetek ya ??) tas kulit sintetis dan segepok kertas yang ntah apa isinya.

setiap menemui tenda makanan yang berjejer rapih di belakang the peak sudirman, ibu tersebut masuk, bicara sebentar sambil menyodorkan kertas yang dia bawa, begitu terus sampai akhirnya giliran sampai ke tempat orang yang nulis blog ini makan. Dengan sopan si ibu tersebut mengucapkan salam, dengan tutur bahasa yang sopan dan halus si ibu tersebut berkata yang pada intinya, bagi siapa saja yang mau membantu anak yatim silahkan untuk mengisi amplop (yg tadi dikira kertas), yang dibagikan oleh si ibu tersebut. dan akupun kebagian amplop tersebut.

Amplop tersebut, pada bagian luarnya dengan jelas terlihat ada cap yang ntah apa tulisannya, karena sudah kabur akibat sudah agak leceknya amplop tersebut. Ibu tersebut kemudian berdiri sejenak, menunggu amplop tersebut dikembalikan. setelah amplop tersebut dikumpulkan semuanya oleh si ibu tadi, dengan senyuman yang terlihat tulus, sibu tersebut keluar dari tenda itu dimana aku sedang duduk.

Kejadian kedua, terjadi beberapa minggu lalu, tempatnya di kantor, di The promenade building. Hari itu dikantor sedang komplit, semua tim JWEBS lagi pada kumpul, ada rama, zaky, sandy dan aku sendiri. Ketika itu ketika sedang asyik melihat ke dinding, melihat sorotan cahaya infocus yang menampilkan gerakan-gerakan animasi yang sedang menggiring dan menendang bola A.K.A sedang maen PES, tiba-tiba, di luar terlihat ada 2 orang wanita cantik berjalan dan melihat kedalam kantor. (kantor kita itu pintunya teruat dari kaca polos, sehingga orang luar bisa melihat dengan jelas ke dalam). dengan refleks, kami berseru, wow ada pemandangan indah d luar tuh … (kekeke). Tak berapa lama, kemudian kedua wanita tersebut ternyata berjalan mendekati pintu kantor kami dan mengetuk pintu dengan sopan. lalu setelah dipersilahkan masuk, mereka dengan bas-basi yang intinya meminta sumbangan juga. akhirnya, ntah karena malu atau sensi, waktu itu kami memberikan sumbangan dengan tetap menampilakn senyuman yang dibuat sok manis … (wkwkwkw).

kejadian ketiga, terjadi tadi maghrib, sebelum kickoff malaysia Indonesia, kejadiaanya apersis seperti kejadin peratam, cuma kali ini yang datang 2 orang gadis berjilbab lengkap, dan dengan sedikit basa-basi intinya meminta sumbangan buat anak yatim.

Dari ketiga kejadian tersebut ada pola yang sama yaitu meminta sumbangan yang alasannya untuk membantu anak-anak yang kekurangan.

Yang jadi masalah adalah kok cara meminta sumbangannya jadi terkesan seperti mengemis ? sampai dor to dor kayak gitu ? apakah tidak ada cara yang lebih elegan istilahnya, biar tidak terlihat mengemis. Bukankah kita mempunyai departemen sosial yang seharusnya mengurusi hal-hal seperti ini, apakah tidak lebih baik langsung meminta bantuan ke dinsos terkait ?

Ataukah karena tipe birokrasi di Indonesia yang menyebabkan akhirnya mereka memilih terjun langsung meminta bantuan dari pada minta bantuan ke dinas terkait ? gak tahu juga apa jawabannya.

Ada masalah lain, karena pola-pola ini sering terlihat di ibu kota ini, ntah itu di bis, atau dijembatan penyebrangan busway, ada saja yang membagikan amplop untuk bantuan anak yatim, akhirnya stigma yang muncul dimasyarakat.. wahh ini sih bukan buat anak yatim, tapi pola baru mengemis. akhirnya walaupun sejatinya kegiatan tersebut memang untuk kepentingan anak-anak yatim, tapi karena stigma tersebut akhirnya mereka dikelompokan oleh masyarakat sebagai kelas pengemis, sama seperti pengemis-pengemis lain yang katanya terorganisir.

Yang membuat miris adalah ketika anak-anak juga diterjunkan untuk hal-hal seperti ini. Ada anak-anak berpeci membawa tromol didepan indomart meminta sumbangan yang juga atas nama anak yatim.

Ada yang berkata, itu sih cara baru mengemis, biar mendapatkan uang lebih banyak. tapi wallahu ‘alam, Hanya Allah yang Tahu, yang terpenting seharusnya pemerintah bisa melihat fenomena ini, dan mencari solusinya. Milyaran duit hasil pajak, daripada digunakan untuk membiayai pejabat nonton bola, mendingan digunakan untuk membiayai mereka, anak-anak terlantar yang katanya ditanggung oleh negara agar mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak, sehingga cara-cara seperti “mengemis” ini bisa diminimalisir. karena secara tidak langsung, ketika anak-anak dilatih untuk “mengemis” seperti ini, selain merenggut masa anak-anak mereka, tapi juga secara langsung mendidik mereka untuk selalu bergantung kepada belas kasihan orang lain ….

 

Jakarta, 26 Des 2010

 

A. Ahmad K

 

 

Advertisements
Categories: Umum

Jujur dan apresiatif sekadarnya saja ….

December 17, 2010 Leave a comment

(ilustrasi courtesy of  multiply.com)

Ada yang bilang,

“jika kita melakukan sesuatu hal melampaui batas, malah yang akan kamu dapatkan adalah sebaliknya.”

“Siapa saja yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, pada akhirnya dia hanya akan mendapatkan sesuatu yang kosong saja”

Pernahkah kita menyanjung orang ? atau pernahkan kita memuji seseorang atas prestasinya ? atau pernahkah menjenguk orang yang sakit dan menghiburnya ?

Dari ketiga pertanyaan tersebut ada 2 aspek yang berbeda, yang bisa kita tinjau:

Yang pertama, masalah memuji atau memberikan apresiasi. pada dasarnya, memuji sesorang adalah hal yang wajar-wajar saja,  sebagai bentuk penghargaan terhadap apa yang telah dia capai. Namun perlu diingat, janganlah memberikan apresiasi sehingga seakan-akan terlalu hiperbolis. sekali dua kali kita mengatakan hal tersebut, pada orang tersebut, kemungkinan dia akan merasa bangga dan merasa dihargai, namun jika keterusan dan terkesan hiperbolis, maka ada kemungkinan dia malah menganggap kita menjelek-jelekannnya.

Contoh sederhana,

Ada seorang mahasiswa fisika, yang kesehariannya biasa-biasa saja, dalam hal akademis tidak terlalu menonjol. Pada suatu ketika, ketika mengikuti ujian mekanika kuantum yang terkenal sangat jlimet dan sangat sulit, dia mendapatkan nilai yang sangat mengagumkan, 99 dari skala 100. Seorang temannya, langsung memujinya, ” wah kamu, pintar banget, bisa dapat nilai nyaris sempurna dalam mata kuliah ini”. Si mahasiswa tersipu dan menjawab, ” ahh, biasa saja, mungkin lagi beruntung saja, saya menghapal bagian yang keluar di ujian.” lalu pada kesempatan lain, Seorang temannya ada memuji dia lagi, ” Wah, pintar sekali kamu, einstein aja kalah sama kamu, einstein perlu puluhan tahun untuk memahami mekanika kuantum , kamu cuma semalam saja, kereenn”. Namun si mahasiswa tadi bukannya senang malah marah.

Coba lihat , apa yang beda antara pujian yang pertama dan pujian yang kedua ?? dan mengapa reaksinya bisa berbeda ??

Yang kedua, masalah menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, atau memberikan sesuatu sebelum waktunya atau tidak tepat pada waktunya. Kejujuran adalah sesuatu yang diperintahkan dan menjadi salah satu nilai lebih bagi seorang manusia. namun kejujuran juga harus melihat waktunya, ada kalanya kejujuran itu harus kita sembunyikan.

Sebagai contoh sederhana.

Ada seorang laki-laki menjenguk temannnya yang sedang sakit tipus. Dengan membawa sekeranjang buah tangan (buah-buahan) dia masuk ke dalam kamar perawatan si sakit. kemudian, dia berbicara kepada yang sedang sakit ” Oh, mukamu pucat sekali, matamu menguning, bibirmu kering , dan penglihatanmu terlihat tidak fokus”. Coba kita renungkan, pantaskah kita mengatakan hal tersebut kepada orang yang sedang sakit ? dilihat dari segi kejujuran tidak ada yang salah, memang begitulah keadaanya, namun ditinjau dari sisi psikologis, apa yang diucapkan laki-laki tersebut malah akan menyebabkan semangat sembuh si sakit semakin drop, dia mungkin akan berpikir, ” benarkah saya sudah separah itu ?”.

ada lagi sebuah kisah yang diambil dari Istamti bi hayatik .

Ada seseorang yang mengunjungi seorang temannnya yang memang lagi sakit dengan penyakit yang cukup berbahaya. dia kemudian bertanya kepada si sakit, penyakitnya apa. setelah dijawab oleh si sait, si penjenguk tadi berkata “Ohh, penyakit ini pernah diderita si anu, dan akhirnya seminggu setelah dirawat dia meninggal dunia. Penyakit ini pula pernah diderita oleh teman saudaraku, dan kemudian dia meninggal juga”.

Coba renungkan lagi, pantaskah si penjenguk berkata hal demikian ?? walaupun apa yang dia akatakan itu benar ??

Ada kisah lainnya.

Ada seorang laki-laki menaruh hati pada seorang wanita. Bertahun- tahun dia memendam perasaan tersebut, dan tidak berani mengungkapkannya atau tidak mau berkata jujur kepada wanita tersebut bahwa dia menyukainya. Suatu ketika, ketika dia udah merasa siap, dengan berani dia berkata, gw harus jujur atau tidak sama sekali.

Dengan semangat 66, dia datang kerumah wanita tersebut, setelah memberikan salam, dia langsung berkata pada wanita tersebut. “teh, saya suka sama kamu. mau gak nikah sama saya”.

Namun apa yang terjadi, dia malah digebukin orang banyak. kenapa bisa terjadi begitu ? karena dia berkata ketika wanita tersebut lagi melakukan akad nikah dengan calon suaminya …. (… kisah ngelantur … 😀 😀 :D)

Jadi kesimpulannya ,

Katakanlah sesuatu pada tempat dan waktu yang tepat, serta jangan berlebihan.

(jujurlah ketika saatnya memungkinkan….) 😀

 

Jakarta, 17 Desember 2010

A. Ahmad Kusumah

Categories: Story of life, Umum Tags: ,

Menyalahkan diri sendiri atau mengevaluasi diri ???

December 16, 2010 1 comment

(ilustrasi courtesy of yhs.net)

Ada ungkapan yang cukup menarik,

“Orang akan mencintai dan menyayangi kamu selagi kamu mencintai dan menyayangi diri kamu sendiri”

Ada lagi, bagi seorang Muslim, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”  (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

Ada lagi,  “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bisa memberikan manfaat bagi manusia”

Pernahkah dalam hidup kita mendapati kegagalan ?, pernahkah dalam hidup kita merasa sebagai orang yang sangat useless, tidak berguna sama sekali ? pernahkah dalam hidup kita merasa apa yang dilakukan itu selalu serba salah? seakan-akan tidak pernah ada yang benar, selalu salah, dan dengan pandangan negatif, kita menganggap bahwa orang lain selalu beropini bahwa kita itu orang yang gagal ?

Ketika kita sampai pada level pemikiran seperti itu, otomatis kita sudah memasuki tahapan yang merusak, dalam artian merusak kepercayaan diri, merusak kepercayaan orang dan merusak esensi tujuan hidup kita sendiri.

ketika fase tersebut masuk kedalam hidup kita, maka kita tidak akan melihat lagi adanya kesuksesan, yang ada hanya kegagalan- dan kegagalan yang datang silih berganti. Masalahnya apa adalah ketika kita memasuki fase ini pula pandangan dan perspektif terhadap sesuatu hanya akan keluar dari perspektif yang bersifat subjectif dan dalam point of view dari diri sendiri. padahal ada kalanya , kita menganggap bahwa yang kita lakukan gagal, namun dari sisi perpspektif orang lain, ditinjau dari segi kemanfaatan dari apa yang telah kita lakukan sebenarnya bisa dikatakan sukses. Namun karena kita seakan-akan sudah menutup diri dari luar, maka yang kita pikirkan dan apa yang merasuki pikiran haya pikiran tentang kegagalan dan kegagalan. dalam fase ini biasanya kita akan menyalahkan diri sendiri karena ketidak mampuan untuk mencapai apa yang kita ukur sebagai tanda kesuksesan.

Namun yang paling parah, jika kita mulai mencar-cari objek lain untuk menyalahkan faktor luar sebagai penyebab kegagalan. untuk kasus yang pertama, kita masih memiliki kesadaran untuk introspeksi diri demi perbaikan, namun untuk kasus yang kedua, bisa dikatakan kita akan selalu menyalahkan orang lain tanpa mau mengintrospeksi diri sendiri.

Kadang kita akan menyalahkan hal-hal lain jika kegagalan telah kita lewati, untuk mencari justifikasi bahwa kegagalan tersebut bukan bersumber dari kita sendiri, misalnya :
orang lain, properti, alat, alam, gurunya, temannya, musuhnya, komputernya, hpnya, orang bahkan tuanya.

Tapi siapa sangka, kalo kita introspeksi diri lebih lanjut, yang menyebabkan kegagalan itu adalah diri sendiri, misalnya karena
– malas
– kurang kerja keras
– kurang motivasi
– suka bermain
– lepas tanggung jawab

Jika hal ini tidak diatasi dengan segera, akan membuat tatanan hidup sosial kita akan kacau dan terganggu.

jadi apa sebenarnya yang harus kita lakukan ?

Perhatikanlah tindakan kita dan bukan orang lain. Awasilah diri kita dan bukan salahkan diri sendiri. Perhatian kita seharusnya fokus pada tindakan atau perbuatan dan bukan pada oranglain dan diri kita. Kita tidak bodoh, hanya aksi yang kita ambillah yang keliru dan itu bisa diperbaiki kan. Mulailah dengan meminta maaf.

Dan mulailah belajar untuk bisa menerima perbuatan-perbuatan dan aksi-aksi yang mendorong terhadap kegagalan, sebagai suata tahapan untuk memperkaya khazanah  diri dan sebagai tahapan untuk mencapai tingkatan yang lebih baik.

Ketika kita mengalami kegagalan, wajar saja jika kita mendapat rasa kasihan dari orang lain, tapi bukan berarti kita mengasihani diri kita sendiri. Dan bukan pula sebuah solusi jika kita terusa saja memaafkan kesalahan kita sendiri dengan melakukan justifikasi-justifikasi, tapi sadarilah kesalahan tersebut dan perbaikilah.  Jika sudah berusaha keras namun kita tidak bisa mengubahnya setidaknya ubahlah fokus pikiran kita sehingga kita tidak lagi fokus disana, dan ubahlah semua pandangan kita menjadi pandangan yang positif dan konstruktif, tidak sebaliknya, destruktif.

Ingatlah bahwa kita hidup itu sebagai homo socius, yang perlu berinteraksi secara sosial. Ingatalah apayang kita lakukan mau tidak mau, langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi tatanan kehidupan sosial kita. kuncinya adalah pahami diri sendiri, dan pahamilah fungsi dan posisi kita dalam lingkungan sosial kita, perkuatlah unsur Emotional Intelligence kita, self management, self skill, social skills dan social awareness kita …

Mulailah evaluasi diri, bukan menyalahkan diri …

 

begitukah ??

Wallahu ‘alam ….

Jakarta, 16 Desember 2010

A. Ahmad Kusumah

(Dibuat dengan sisa-sisa kesadaran yang masih melekat… 😀 )

Categories: Umum Tags: ,

IT Governance and Management

December 16, 2010 Leave a comment

IT Governance didefinisikan sebagai prosedur dan kebijakan-kebijakan yang dibuat dengan tujuan untuk memastikan bahwa Sistem teknologi informasi pada sebuah organisasi bisa menyokong tujuan orgasasi tersebut.

Diperlukan sebuah governance model yang terdefinisi dengan baik untuk memastikan tujuan dan pendelegasian tanggung jawab dalam project technology management bisa terlaksana dengan baik, yang pada akhirnya bisa memaksimalkan business value dari investasi teknologi di bidang IT pada sebuah organisasi.

Lebih lanjutnya prinsip-prinsip dan konsep project technology management yang didasari oleh governance model yang baik bisa memastikan bahwa implementasi teknologi yang dilakukan bisa dikontrol, dipertanggung jawabkan dan bisa mencapai tujuan yang diharapkan.

beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam melaksanakan proses ini adalah :

  1. Pengembangan rencana taktis dan strategis
  2. Pemahaman terhadap aturan-aturan yang berlaku
  3. Memastikan bahwa top-management memiliki kemampuan dalam project management
  4. Pemahaman konfigurasi dan infrastruktur organisasi

 

Pengembangan rencana taktis dan strategis dalam impelementasi IS/IT  dibutuhkan untuk mempersiapkan organisasi dalam menentukan kebijakan dan keputusan-keputusan yang harus dibuat, menentukan orang yang diberi tanggung jawab untuk membuat keputusan dan mekanisme pengambilan keputusan tersebut. Namun apakah hal ini cukup sebagai bagian dari sebuah rencana strategis? Kenyataanya dalam menentukan sebuah rencana strategis, banyak faktor yang terlibat, dan diperlukan analisis yang mendalam terhadap faktor internal seperti faktor kebutuhan yang jadi prioritas di organisasi dan faktor eksternal seperti sosial, politik dan orientasi teknologi yang akan berkembang kedepannya, jangan sampai investasi yang dilakukan tidak bisa dipakai untuk jangka panjang karena adanya tuntutan perubahan teknologi.  Hal ini lebih jauh mempengaruhi  keputusan berinventasi, standar , prinsip dan target serta arsitektur dari teknologi yang akan diterapkan.

 

Pemahaman regulasi yang berlaku dimulai dengan kemampuan manajemen resiko (risk management) yang harus didukung oleh pembuat keputusan dan harus didiseminasi ke semua pihak yang terlibat. Disini sisi proaktif dari organisasi lebih dibutuhkan untuk mengakomodasi regulasi yang dikeluarkan oleh pihak regulator, baik regulator internal maupun eksternal, misalnya pemerintah. Sebenarnya poin ini bisa dimasukan ke poin pertama, yaitu sebagai faktor pertimbangan dalam penentuan rencana strategis dalam implementasi IS/IT, yang erat kaitannya dengan faktor eksternal yang berhubungan dengan kebijakan regulator (misal pemerintah) dan faktor internal yang berhubungan dengan business strategy alignment yang dituangkan dalam bentuk aturan perusahaan.

Kemampuan Top-management dalam hal mengatur sebuah projek, merupakan sebuah keharusan. Dalam beberapa kasus pihak Top-management membentuk komite yang khusus mengurusi maslah-masalah yang berhubungan dengan project technology management, atau dengan mendelegasikan fungsi kontrol, pengaturan projek ke orang yang maish termasuk dalam Top-management, seperti CIO atau bahkan dipegang langsung oleh CEO.

Menentukan dan memahami bagaimana konfigurasi dan infrastruktur sebuah organisasi akan membuat organisasi tersebut memiliki kemampuan untuk menentukan  sistem informasi teknologi seperti apa yang dibutuhkan. Penentuan infrastruktur harus dilakukan seiring dan sejalan dengan penentuan sistemnya itu sendiri dan erat kaitannya dengan kebutuhan organisasi yang tertuang dalam rencana strategis organisasi.

Sebagai penutup, penulis mengemukakan bahwa, implementasi IS/IT harus dimulai dengan melakukan komunikasi yang aktif antar project team untuk menyamakan visi dan persepsi dan mendapatkan dukungan dari stakeholder.

 

Jakarta, 2009

 

A. Ahmad Kusumah

Categories: Umum Tags:

Relasi antara E-Government (E-Gov) dan Global Competitiveness Index (GCI)

December 16, 2010 Leave a comment

E-Government mengacu kepada penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah suatu Negara yang mempengaruhi hubungan antara masyarakat, dunia bisnis dan institusi pemerintahan lainnya. (World bank) .

Ada beberapa indikator yang digunakan dalam penilaian e-gov, yaitu : Network preparadness, required interface-functioning applications, management optimization, homepage, introduction to CIO dan promotion of e-gov. (Universitas Waseda)

Global competitiveness Index (GCI) digunakan sebagai ukuran kemampuan sebuah Negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. (Wikipedia).

Beberapa hal yang digunakan sebagai parameter untuk mengukur GCI, diantaranya adalah : Institutions, infrastructure, macroeconomic stability, health and primary education, higher education and training, good market efficiency, labor market efficiency, financial market sophistication, technological readiness, market size, business sophistication dan innovation (World Economic Forum)

Berikut adalah komparasi E-gov dan GCI untuk Negara Indonesia.

E-Gov  readyness

Tahun Peringkat
2008 106
2007 106
2005 96
2004 85

GCI

Tahun Peringkat
2008 55
2007-2008 54
2006-2007 54

Dari komparasi table dan indikator yang digunakan dalam penilaian GCI dan E-Gov readiness untuk Negara Indonesia bisa dilihat bahwa, e-gov cukup mempengaruhi GCI , yaitu hanya menyumbang 5.81 % dari total GCI (World Economic forum) untuk kasus Indonesia.

Hal ini disebabkan karena scope penilaian GCI, tingkat kompleksitas dan faktor yang dijadikan sebagai parameternya tidak hanya memperhitungkan faktor teknologi, tapi juga memperhitungkan bidang-bidang lain, seperti bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, kualitas SDM, tingkat kriminalitas, inovasi dan lainnya. Sedangkan e-government readiness hanya memperhitungkan tingkat penetrasi Teknologi Informasi dalam suatu Negara dan pengaruhnya untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan pemerintah terhadap masyarakat.

Kesimpulannya, e-government readiness secara langsung mempengaruhi Global Competitiveness index (GCI), sebesar 5.81% (studi kasus untuk Indonesia) di bagian technological readiness dari  total penilaian GCI .

 

Jakarta, 2009

 

A. Ahmad Kusumah

Categories: Umum Tags:

Chapter 1 : Ketika Debu Itu Berkumpul

December 13, 2010 Leave a comment

Iring-iringan kendaraan itu bergerak menyusuri jalanan yang sempit yang dihiasi teriakan bocah-bocah kecil berlarian, berseliweran seperti kupu-kupu yang baru keluar dari tunasnya. 1,2,5 ada 5 kendaraan yang berbeda merek dan bentuknya dengan tertib antri berbanjar seperti barisan pengibar bendera. yang sama diantara kelima kendaraan tersebut adalah raut muka
penumpangnya, berseri-seri walau berdesak-desakan dalam kendaraan jadul non AC keluarn 90-an itu. Keringat yang menetes dan mengalir dari kelenjar kulit akibat kepanasan seakan tidak mereka rasakan, hanya kebahagiaan yang terpancar diwajah-wajah lugu mereka. sesekali untuk
menunjukan kesenangan tersebeut bersama-sama mereka bersenandung shalawat badriyyah, seperti sering di dendangkan saaat peringatan maulud Nabi SAW.

Menjelang sebuah tikungan, kendaraan terdepan dari rombongan tersebut berhenti di sebuah gapura buatan yang berhiaskan bunga dan sebuah tiang melengkung yang ujungnya terdapat sebuah rangkaian daun kelapa muda berwarna kuning keemasan yang memancarkan aura kebahagiaan bagi siapa saja yang menengok ke dalam ruangan yang dibatasi oleh gapura tersebut. Perlahan tapi pasti, semua iring-iringan itu berhenti, berbaris rapi menunggu komando berikutnya yang diisyaratkan oleh pemimpin rombongan tersebut.

Kreeeeeet, suara pintu kendaraan paling depan terbuka, dan dengan sedikit bergetar, karena lamanya perjalanan yang ditempuh, keluarlah sesosok pria sepuh, bersorban putih, dengan muka yang kelihatan lelah namun senyumnya menghilangkan kesan semua hal yang biasanya nempel di wajah orang yang kecapean. Laki-laki sepuh itu, perawakannya tidak terlalu tinggi, dengan badan agak montok, janggut yang sudah berwarna perak, namun raut mukanya terlihat selalu menyenangkan bagi orang yang melihatnya, dengan langkah yang tegap, berjalan menuju ke depan gapura, dan memberikan isyarat kepada para pengiring yang ada didalam kendaraan untuk segera mengikuti beliau.

Setelah semuanya dirasa siap, laki-laki sepuh tersebut, dengan suara yang berkharisma mengucapkan salam, ” Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Baarakaatuhu “. Dengan serempak, orang-orang yang sejak kedatangan rombongan tersebut berkumpul didekat gapura tersebut, menjawab salam ” Wa’alaikum salam warahmatullaahi wa baarakaatuhu”. Salah satu dari mereka, yang sepertinya pengatur acara di dalam ruangan tersebut, memberikan Isyarat kepada kelompok Nasyid yang sepertinya sudah disiapkan jauh-jauh hari untuk mendendangkan lantunan sholawat yang berisikan ucapan penghormatan dan selamat datang kepada para tamu yang baru saja datang. Maka bergemalah, untaian nada acapela dari kelompok nasyid tersebut, yang dengan serempak diikuti oleh semua orang yang ada.

Dan ketika itu juga, pembawa acara mempersilahkan masuk seluruh rombongan untuk memasuki tempat yang telah disediakan,

“Silahkan masuk bapak dan ibu,untuk bapak silahkan menempati tempat disebelah kiri, dan ibu disebelah kanan”

” Selamat datang di tempat yang sederhana ini, kami sebagai wakil dari Shoohibul bait mohon maaf jika sekiranya tempat yang kami sediakan alakadarnya”, kata si pembawa acara melanjutkan.

Dengan tertib, setiap orang menyalami tamu yang baru datang, dengan pengecualian, tidak terlihat adanya jabat tangan antara tamu wanita dan laki-laki, begitupun sebaliknya.

Dan ditengah kerumunan tamu tersebut, ada seorang pemuda berbadan gelap, dengan muka yang kelihatan gugup, memakai jas hitam belel, berselendangkan sarung dengan dandanan yang terlihat seadanya, terlihat mengapit seorang pemuda lainnya yang dandanannya lebih necis dengan jas yang rapi, sepatu mengkilap dan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.

Amran, ya, Amran nama pemuda berbaju belel tadi, sedangkan pemuda yang berbaju necis tadi bernama Subhan, Subhan Syukroni lengkapnya.

================================****==============================

“Amran, Amran, cepet mandi !!!, sudah dzhuhur, cepetan abah kamu udah menunggu dimasjid tuh”

teriak seorang wanita sambil mengacungkan tangannya, memanggil seorang remaja kurus dengan kulit hitam legam akibat sering terpapar sinar matahari.

“Iya ummi, bentar lagi ini tanggung”, jawab Amran sambil terus saja menarik-narik benang layangan, tanpa melihat ke arah wanita tersebut yang ternyata ibunya.

“Amran, cepet, nanti abah kamu marah lagi ..!!!!!, mau kamu di tajir (di pukul telapak kaki oleh rotan) lagi seperti kemarin !!!!”

“Iya ummi, ini juga mau udahan”, kata Amran sambil memasang muka kurang senang karena kegiatan maen layangannya terpaksa harus dihentikan, padahal lagi-rame-ramenya, saling incar dengan teman-teman sebayanya untuk memutuskan layangan lawannya.

Dengan cepat Amran menarik benang dan menggulungnya ke kaleng bekas cat yang di uabh sedemikian rupa sehingga bisa digunakan sebagai gulungan benang layangan. setelah selesai dengan setengah berlari, Amran menuju Ibunya dan mengambil handuk serta peralatn mandi yang sudah dibawa oleh ibunya.

Siang itu, seperti siang-siang sebelumnya, setelah shalat Dzuhur, Amran duduk di madrasah disamping masjid, dengan membuka kitab kuning yang sudah kucel, dan dengan semangat, dia mudzakarah (menghapal kembali) pelajaran ilmu fikih hari sebelumnya yang diajarkan oleh Abahnya. Namun sebenarnya, dia menghapal bukan karena rajin, namun takut dinasehatin abahnya, yang menurut dia seperti mengomel, parah-parahnya, kalo tidak hapal bagian sebelumnya, bisa-bisa di suruh terus menghapal sampe Ashar tiba.

Dengan cermat Amran membaca kitab Safiinatun Najah , kitab fikih klasik yang banyak digunakan untuk mengenalkan tatacara ibadah dan hukum fikihnya yang berlandaskan madzhab Asy-Syaafi’i. Ketika sedang asyik membaca tersebut, datanglah seorang lelaki berumur sekitar 40-an tahun, dengan pakaian yang rapi, berbaju kemeja, dan bersarung, dengan peci hitam yang terlihat pas sekali menghiasi kepalanya yang ditumbuhi rambut yang sudah mulai ada warna peraknya. Wajahnya yang terlihat keras dengan beberapa kerutan dan warna hitam dikeningnya yang menandakan laki-laki tersebut sering bersujud berserah diri kepada Allah SWT, disetiap hari yang dilaluinya. Ketika lelaki itu datang, dengan segera Amran menghentikan mudzakarah nya, dan bersiap dengan sigap merapikan duduknya.

“Sudah mudzakarahnya Amran ?”, tanya lelaki tersebut setelah duduk di depan Amran.

‘Sudah Abah”, jawab Amran, menjawab pertanyaan laki-laki yang ternyata Abahnya tersebut.

Nuruddin nama laki-laki tersebut, dialah Ayah kandung sekaligus guru ngaji bagi Amran. Abah Nuruddin, pada masa mudanya adalah laki-laki yang giat dan rajin serta tampan. Hal itu terlihat dari otot-otot tubuhnya, dan raut mukanya. Seperti halnya Amran, Abah nuruddin juga pada masa kecilnya langsung dimasukan ke pesantren oleh Ayahnya. Entah berapa pondok pesantren yang dia datangi selama kurun waktu 15 tahun lebih semenjak umurnya 9 tahun untuk menimba ilmu agama, sampai akhirnya dia menikahi Ummi Kurniasih pada umur 24 tahun, salah satu puteri guru abah Nuruddin. pada tahun kedua pernikahannya dengan Ummi, lahir lah Amran sebagai anak pertama laki-laki di keluarga tersebut.

Abah Nuruddin adalah laki-laki yang keras kepada anak-anaknya, kalau menyangkut masalah kewajiban terhadap agama. Pernah sekali waktu Amran di tajir, sampai hampir tidak bisa jalan, karena tidak melakukan shalat dzuhur karena keasyikan maen bola. pernah juga sekali waktu, di guyur air sumur malam-malam, sampai amran menggigil kedinginan, karena tidak mengikuti pengajian akibat nonton layar tancep dikampung sebelah.

Namun walaupun keras, abah nuruddin sangat sayang kepada anak-anaknya. Walaupun dia seorang petani pekerja keras, dia tidak pernah menyuruh anak-anaknya termasuk Amran untuk mengikuti dia bahkan maminta bantuannya untuk mengolah sawah dan kebunnya. Abah nuruddin, malah lebih senang kalau anak-anaknya sekolah dengan giat, ikut pengajian, belajar fikih dan hal-hal yang berbau pengetahuan. Alasannya sangat sederhana, dia hanya ingin anak-anaknya lebih maju dari dirinya, dia ingin anak-anaknya menjadi manusia yang bisa mengimbangi jaman, tidak tertinggal seperti dirinya.

Pernah suatu ketika, Amran dinasehi oleh Abah Nuruddin,

” Amran, kamu tahu, abahmu ini bukan orang yang kaya, abah nanti tidak bisa mewarisimu harta, yang abah bisa wariskan kepada kamu hanya harapan dan ilmu pengetahuan. makanya kamu harus rajin belajar, sekolah, mengaji. itu semua buat masa depan kamu. Abah tidak ingin kamu menjadi seperti abah yang hanya berpendidikan sampai SD, abah ingin kamu menjadi insinyur. Abah, tidak ingin balasan apa-apa dari kamu, abah tidak ingin nanti kamu memberikan harta kepada abah, hanya satu yang abah inginkan dari kamu, jadilah anak yang sholeh, jangan sombong, ingat selalu Allah yang menciptakan kita, ingatlah bahwa semuanya akan kembali kepada-Nya. tidak ada guna harta, yang akan menemani kamu kelak, hanya amal sholehmu, Ilmu yang bermanfaat serta tabungan anak kamu yang sholeh, yang semoga kelak selalu mendo’akan kamu”.

continued ……..

A. Ahmad K

Categories: Kisah Tags:

ANALISIS STABILITAS UKM BERBASIS IT MENGGUNAKAN METODE ENTROPI CMMI

December 13, 2010 Leave a comment

Aah Ahmad Kusumah,

NPM: 0806482863

Email : aah.ahmad@ui.ac.id

Abstrak – Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan salah satu pendorong tumbuh dan berkembangnya perekonomian di indonesia. UKM juga merupakan salah satu penopang kestabilan perekonomian dan salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja cukup besar. Namun, dengan adanya korporasi usaha yang lebih besar dengan modal yang besar, diperlukan sebuah usaha untuk  menjaga eksistensi dan daya kompetitif UKM agar bisa bersaing dan bertahan. Dalam paper ini akan digambarkan hubungan antara kestabilan sebuah UKM dengan implementasi CMMI dengan menggunakan analisis metode ENTROPI.

Keyword – UKM, entropi, CMMI.

I. Pendahuluan

Perkembangan unit Usaha Kecil dan Menengah, meruapakan salah satu indikator bagus atau tidaknya level perekonomian di Indonesia. Hal ini merupakan efek langsung dari terserapnya tenaga kerja oleh UKM, yang sampai saat ini jumlahnya terus bertambah. Dengan terserapnya banyak tenaga kerja, maka secara langsung akan meningkatkan daya beli masyarakat, dan bisa meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum. Dua faktor ini merupakan indikator tingkat pertumbuhan perekonomian yang real.

Untuk menjaga keberadaan dan eksistensi UKM ini, pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan dan undang-undang yang mengatur dan menjamin dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan UKM ini.

Beberapa undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan UKM ini diantaranya adalah :

  1. UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil
  2. PP No. 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan
  3. PP No. 32 Tahun 1998 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil
  4. Inpres No. 10 Tahun 1999 tentang Pemberdayaan Usaha Menengah
  5. Keppres No. 127 Tahun 2001 tentang Bidang/Jenis Usaha Yang Dicadangkan Untuk Usaha Kecil dan Bidang/Jenis Usaha Yang Terbuka Untuk Usaha Menengah atau Besar Dengan Syarat Kemitraan
  6. Keppres No. 56 Tahun 2002 tentang Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil dan Menengah
  7. Permenneg BUMN Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan
  8. Permenneg BUMN Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara
  9. Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

Keberadaan UKM yang menjadi salah satu pendorong geliat perekonomian di indonesia perlu harus dijaga. Pemerintah dalam hal ini yang berfungsi sebagi regulator, dengan beragam undang-undang dan peraturannya, diharapkan lebih proaktif membantu pengembangan sektor UKM ini. Dengan adanya bantuan modal tanpa agunan, dan mendorong berkembangannya koperasi sebagai unit pendukung keberlangsungan UKM, diharapkan bisa terus menjaga eksistensi dan daya saing UKM.

Namun dari sekian banyak keuntungan yang timbul akibat perkembangan UKM, ada sesuatu yang harus dicermati oleh masyarakat yang bergerak di sektor UKM, yaitu persaingan bisnis antar UKM dan korporasi yang bermodal besar. Persaingan yang terjadi, di salah satu sisi bisa menjadi faktor pendorong inovasi dan kreatifitas UKM untuk menghadirkan produk dan terjangkau dan berkualitas. Namun disisi lain, jika tidak pandai memanfaatkan kesempatan dan kurangnya kemampuan untuk beradaptasi dalam lingkungan persaingan bisnis, khususnya yang terjun ke sektor red ocean, maka bisa menjadikan UKM yang bersangkutan bertumbangan, dan skenario terburuknya adalah gulung tikar, yang akibat langsungnya adalah adanya PHK karyawan UKM, yang tentunya bisa menimbulkan krisis sosial yang baru.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan cara-cara yang praktis untuk menjaga daya saing UKM, sehingga tetap bisa bertahan dalam terpaan badai persaingan bisnis, bahkan krisis.

Pada paragraf sebelumnya disinggung tentang zona red ocean. Zona ini secara umum bisa diartikan adalah sebuah lingkungan bisnis, yang pemain yang terlibat didalamnya sudah sangat banyak. Salah satu zona bisnis yang masuk kategori ini adalah bisnis di bidang Teknologi Informasi, baik berupa jasa maupun produk. Zona ini lah yang akan dibahas lebih dalam dalam makalah ini, dalam kaitannya dengan peran serta UKM dalam bisnis ini. Analis yang akan dilakukan dengan menggunakan metode literatur dan argumentatif deskriptif, dengan melihat pola perkembangan UKM dalam bidang TI dan hubungannya dengan implementasi CMMI dengan pendekatan analisis entropi.

II. CMMI dan Entropi

Capability Maturity Model Integration (CMMI) dalam software engineering adalah sebuah model dari kematangan kemampuan dalam bisnis proses tertentu. Maturity model bisa didekripsikan sebagai kumpulan elemen-elemen yang mewakili aspek tertentu kematangan sebuah organisasi, dan membantu dalam memahami proses sebuah organisasi. Elemen –elemen yang terkandung dalam CMMI lebih dikenal dengan instilah Key Process Area.

Konsep CMMI itu sendiri berkembang dari gagasan Watts Humprey dalam bukunya ’Managing the Software Process’ pada tahun 1989. CMMI pada awalnya ditujukan sebagai sebuah tool untuk mengevaluasi kemampuan vendor yang terlibat dalam proyek pemerintah US. Model ini mengidentifikasi 5 tahap proses kematangan dalam sebuah organisasi, yaitu :

1.      Initial (chatic, ad hoc, heroic), merupakan titik awal.

2.      Repeatable (project managemen, prosess discipline), proses dilakukan secara berulang.

3.      Defined (Instituionalized), proses didefinisikan sebagai sebuah standar untuk proses bisnis.

4.      Managed (quantified), proses manajemen dan pengukuran dilakukan.

5.      Optimizing (process improvement), proses manajemen meliputi proses pengembangan menuju hal yang lebih baik (Improvement).

Untuk setiap level ini, terdapat beberapa KPA, dan untuk setiap KPA terdapat 5 bagian yang diidentifikasi, yaitu :

1.      Goals

2.      Commitment

3.      Ability

4.      Measurement

5.      Verification

Implementasi CMMI dalam sebuah organisasi, bisa memberikan beberapa hal, diantaranya :

a.       permulaan sebuah proses organisasi

b.      keuntungan dalam komunitas organisasi lewat berbagi pengalaman

c.       adanya visi yang sama

d.      adanya framework untuk melakukan kegiatan sesuai dengan prioritas

e.       menunjukan jalan untuk melakukan improvement dalam sebuah organisasi.

Sehingga pada akhirnya, CMMI dengan elemen-elemen yang terkandung didalamnya bisa dijadikan sebagai tolok ukur level kematangan sebuah organisasi, lebih khususnya dalam bisnis proses yang dilakukannya.

Entropi dalam dunia ilmu eksakta berarti adalah ketidakteraturan akibat hilangnya energi. hal ini merupakan sebuah fenomena alamiah, bahwa semua sistem pasti akan menuju ketidakteraturan. Hal ini tidak bisa dicegah, tapi bisa diperlambat. Dalam hukum kekekalan energi disebutkan, bahwa energi itu dalam sebuah sistem tertutup, tidak hilang atau tidak bertambah. Yang bisa terjadi adalah energi bisa berubah bentuk.

Dalam hukum kedua termodinamika disebutkan, pada sebuah sistem tertutup, energi akan berubah dari bentuk yang berguna mejadi bentuk yang kurang berguna. Misalnya energi kinetik pada roda sepeda saat berjalan, akan berubah menjadi energi panas akibat gesekan antara roda dan jalan. Hal ini yang menyebabkan timbulnya istilah baru, efisiensi. Secara natural, tidak ada sebuah sistem yang 100 % efisien, pasti selalu ada yang lost.

Dengan menggunakan pendekatan naik atu tidaknya entropi sebuha sistem, bisa dilakukan analisis terhadap keadaan sebuah organisasi denga mengukur total resource yang menjadi energi penggerak organisasi tersebut, dan mengukur efisiensi dari organisasi tersebut dibandingkan terhadap perubahan nilai entropi yang diukur berdasarkan jumlah energi dari resource yang ada yang berubah menjadi energi yang tidak bisa digunakan.

Gbr.1 Ilustrasi Entropi dalam Sebuah organisasi

Pada gambar 1, diilustrasikan sebuah sistem organisasi yang memiliki kumpulan elemen berenergi, dan keterkaitan antar elemennya, dan perubahan yang mungkin terjadi dalam elemen berenergi tersebut.

Salah satu hal yang bisa menyebabkan tingkat entropi semakin tinggi adalah ketidak teraturan elemen pembentuk sistem tersebut. Dengan ketidakterautran elemen tersebut, bisa menyebabkan tabrakan antara elemen, dan setiap elemen bebas bergerak semaunya, sehingga probabilitas hilangnnya energi menjadi lebih besar, soalnya seperti kita ketahui, tabrakan bisa menyebabkan perubahan energi menjadi panas.

Begitu juga dengan organisasi, jika antar elemen tidak dioragisisr dan diatur dengan cara yang benar, maka bisa menyebabkan kerugian pada organisasi  akibat kemungkinan adanya friksi antar elemen dalam organisasi semakin besar. Untuk lebih jelasnya, hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian analisis UKM dengan metode Entropi dan CMMI.

III. Analisis UKM dengan metode Entropi sebagai dampak implementasi CMMI

Sebagaimana telah disinggung pada bagian Pendahuluan, akibat adanya persaingan dan perkembangan sektor UKM yang progressif, juga akibat semakin tumbuh berkembanganya unit usaha non-UKM, yang bermodal besar, yang bergerak dalam bidang yang sama dengan UKM menyebabkan diperlukan sebuah mekanisme untuk tetap menjaga daya saing dan kualitas produk yang dihasilkan oleh UKM.

Khusus dalam bidang Teknologi Informasi, penerapan atau implementasi CMMI pada UKM bisa dijadikan sebagai salah satu solusi konkrit yang bisa dijadikan sebagai landasan dasar untuk peningkatan kualitas UKM TI, yang pada dasarnya adalah perbaikan kinerja dan proses yang terjadi ditubuh UKM TI. Dengan adanya perbaikan dalam dalam dua hal ini, maka diharapkan UKM TI bisa tetatp bertahan dan justru memiliki daya saing yang tinggi di dunia TI di indonesia.

Seperti yang telah dibahas pada bagian CMMI, disebutkan bahawa ada 5 tahapan yang dimiliki oleh CMMI untuk memperbaiki kinerja dan meningkatkan proses bisnis yang terjadi dalam organisasi. Yaitu , inisisiasi, repetisi, defined, managed, dan optimisasi. Kelima hal inilah yang dijasikan sebagai tolok ukur implementasi CMMI.

Salah satu kelemahan dalam UKM TI, adalaha kuranganya pemahaman tentang hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan proses bisnis. Hal ini disebabkan, karena UKM biasanya tumbuh dari lingkungan yang tidak terlelu memperhatikan proses yang terjadi, tapi hasil dari output produksi UKM. Orientasi yang dibentuk biasanya adalah orientasi keuntungan semata dengan menerapkan konsep memproduksi sebesar besarnya dan menjual sebanyak-banyaknya. Untuk memproduksi sebanyak-banyaknya biasanya dengan merekrut orang sebanya-banyaknya. Hal ini akan menjadi titik kelemahan dari UKM, kalau manajemen dalam UKM TI tidak bagus, sehingga malah akan menimbulkan friksi antar elemen, yaitu antara tujuan untk memproduksi sebanyak-banyaknya dengan kenyataan kualitas produk yang dihasilkan tidak bagus.

Oleh karena itu, implementasi sebuah metode yang akan dijadikan sebagai acuan untk pengembangan proses bisnis UKM TI sangat diperlukan. Dengan mengimplementasikan KPA-KPA yang ada pada CMMI, diharapkan akan terjadi perbaikan dalam proses bisnis yang terjadi di UKM TI disemua lini. Yaitu perbaikan cara kerja, perbaikan kinerja dan perbaikan sumberdaya yang secara langsung akan menyebabkan output yang dihasilkan akan memiliki kualatas yang bagus. Dengan kualitas yang bagus, otomatis, daya saing UKM TI akan berkembang.

Dengan adanya implementasi CMMI dalam UKM TI, maka diharapkan seluruh proses dan elemen yang ada di tubuh organisasi UKM TI, diharapkan bisa bersinergi untuk kemajuan UKM TI.

Dari tinjuaan teori entropi, keteraturan yang terjadi dalam organisasi, akan menyebabkan kehilangan energi untuk hal-hal yang tidak berguna bisa dimnimalisasi. Sehingga lingkungan organisasi UKM tersebut tetap kondusif dan bisa berjalan dengan efektif dan efisien.

Sehingga pada akhirnya, implementasi konsep –konsep CMMI pada organisasi UKM TI, sangat diperlukan untk menjaga stabilitasdan daya saing UKM TI di sektor industri di indonesia.

IV. Kesimpulan

Dari uraian yang telah dijelaskan diatas, bisa ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. perlu dilakukan mekanisme khusus untuk menjaga dan meningkatkan daya saing UKM TI
  2. implementasi CMMI merupakan salah satu solusi alternatif untuk memperbaiki dan menjaga eksistensi dan daya saing UKM
  3. berdasarkan analisis Teori entropi, implementasi konsep-konsep CMMI dalam UKM TI akan membantu mengurangi kehilangan energi dari UKM TI untuk hal-hal yang tidak produkif
  4. penerapan metode standar semacam CMMI merupakan sebuah keniscyaan untuk UKM TI agar bisa terus eksis dan terus menjadi motor perkembangan perekonomian di Indonesia.

VI. Daftar Pustaka

  1. Crosby, Philip (1979). Quality is Free. McGraw Hill.
  2. Nolan, Richard (July 1973). Managing the computer resource: a stage hypothesis.
  3. (March 2002 edition of CMMI from SEI), chapter 2 page 11.)
  4. www.jimloy.com
  5. http://www.sei.cmi.edu
  6. sentraukm.com
Categories: Umum Tags: , , ,