Archive

Archive for the ‘Story of life’ Category

Ceritapun Dimulai …

September 24, 2012 2 comments

Ini adalah permulaan dari sebuah cerita ….

ini adalah permulaan dari petualangan ….

ini adalah permulaan dari langkah ….

ini adalah potongan mozaik kehidupan ….

ini adalah awal dari permulaan dari sebuah akhir …

————————————————————————————

Dan Apipun Menyala

Bismillah ….

Hembusan angin menerpa wajah-wajah yang kuyu, kusut masai, semburat cahaya merah menyembur dari ufuk barat, mengiringi tenggelamnya rasa damai dalam suasana terang ditengah hiruk pikuknya, hilir mudiknya hamba-hamba mengejar segala asa dan cita.

Jakarta, ibu kota negara, pusat segala asa namun penuh dengan gejolak dan suasana yang kadang lebih sering memberikan nestapa bagi sebagian pengadu nasib yang terlalu terbuai dengan indahnya kata metropolitan kota sejuta harapan, tempat semua kesempatan hidup terbuka.

Hari itu, entah hari apa, entah jam berapa, entah menit atau detik yang keberapa, yang teringat hanya suasana seperti itulah yang selalu dirasa ketika kaki gontai melangkah menuju tempat berlindung dari dingiinya malam, tempat untuk melepas lelah setelah seharian berkutat dengan tugas yang membebani, mencoba untuk selalu bertahan dan menumbuhkan optimisme, hari esok mungkin tidak akan seberat hari ini ….

Tidak terasa, kalau dihitung, entah berapa langkah den jejak yang dibuat ketika menyusuri lorong-lorong pengap perkampungan ibukota , sebuah slump area yang sangat kontras ketika membandingkan dengan kawasan pusat bisnis yang jaraknya hanya 300 meter di depan ….

Kontras sungguh kontras, ketika kawasan bisnis dihiasi dengan rangkaian bunga yang selalu terlihat segar sebagai pembatas jalan protokol, thamrin namanya dengan sarinah sebagai landmark tanda kekuatan bisnis pertama yang muncul di pusat ibu kota, dan bundaran hotel indonesia, yang sekarang berubah dengan embel-embel kempinsky sebagai pusat perjuangan untuk melepaskan ekpresi ketidakpuasan akan ketidak adilan di negara ini, pinggir-pinggir jalan yang di penuhi dengan gedung pencakar kangit menjulang tinggi, menera eksekutif, skyline buillding, menara thamrin, wisma kosgoro dan Plaza indonesia sebagai landmark baru, yang katanya sebagai pusat perbelanjaan terlangkap, yang sayangnya hanya diperuntukan bagi orang yang tidak pernah merasakan betapa susahnya mendapatkan sebungkus nasi kering dengan lauk garam dan sepotong tempe bongkrek sisa kemarin malam.

Namun kawan, coba tengok tiga ratus meter dibelakang gedung-gedung tersebut, lorong pengap, bau tempat anak-anak kecil berlari-lari menangkap masa kecil mereka, tempat tikus-tikus got berseliweran berebut jalan dengan manusia penghuni ibukota yang kadang hanya bisa termangu, menggerutu dan marah –marah akibat merasa ketidak adilan hidup yang mereka rasakan. Ketika orang berjas berlalu lalang dengan rasa pongah meneriakan kesombongan dengan gelegar klakson penyumbang polusi ibukota, meraka, orang pinggiran itu harus susah payah berjalan perlahan di trotoar kusam yang sebagain besar direbut pengendara roda .. jakarta oh jakarta …

Ah … tapi buat apa mengumpat, itu hanya menunjukan ketidak mampuan dan iri hati dan hasad yang tidak ada dasarnya, toh .. dengan tidak mengumpatpun hidup ini sudah terasa berat.. mungkin itulah satu-satunya penghibur penghuni slump area di tengah ibukota untuk mendinginkan dan menurunkan tensi emosi yang tidak jelas ujung pangkalnya, namun satu yang jelas, disebabkan ketidak becusan penguasa negeri yang hanya memikirkan kondisi real makro ekonomi tanpa melihat kondisi real mikro yang terjadi dimasyarakat .. tidak peduli berapa orang lagi masyarakat negara yang subur ini yang lahir dalam penderitaan hidup, yang mereka pedulikan Cuma bagaimana menaikan pamor negeri dengan mengutak-atik pertumbuhan ekonomi 3 digit yang sebenarnya hanya dinikmati sebagian kecil penduduk negeri ini, kalangan borjuis, kapitalis dan opportunis bengis yang mengais rejeki diatas tumpukan penderitaan proletar, sapi perah yang dibodoh-bodohi dengan janji-janji kemakmuran yang hanya tinggal janji tanpa realisasi …

Kawan, kau mungkin bertanya, kenapa aku peduli, kenapa aku tahu realitas kehidupan di ibu kota yang katanya lebih kejam dari pada ibu tiri …. Jawabnya, .. yah mungkin aku sotoy , sok tahu sok peduli sok kritis, tapi satu yang pasti pemikiran dan pendapat itu muncul akibat pengulangan dan pemahaman sebuah pengalaman hidup, yang walau tidak terasa sudah ku jalani menjelang 12 bulan setelah pertama kali semenjak aku memutuskan meninggalkan hiruk pikuk kehidupan kampus, meninggalkan kenangan hidup yang penuh dengan liku dan perjuangan anak manusia dalam menggapai cita menempatkan diri di jajaran manusia yang katanya ‘berpendidikan ‘….

Hampir setiap hati selama 12 bulan ini ku susuri jalan yang sama, kompleks yang sama suasana yang sama bahkan jalan yang sama, sehingga kalo dihitung jejak langkahku dengan asumsi 1 hari ku berjalan kaki bolak balik tempat kerja 4 KM, berarti 4 * 12 * 30 = 1440 KM sudah ku lewatkan kakiku menginjak tempat yang hampir sama dengan 4 * jarak bandung jakarta. Yah mungkin juga kau akan langsung protes, aku terlalu menggenalisir keadaan, tidak semua tempat di ibu kota seperti itu … yah mungkin sample yang ku buat terlalu sempit dan sedikit, tapi tetap mempunyai probabilitas kebenaran kan ? walupun hanya sepersekian ratus dari ‘kebenaran’ versi yang lain.

Sudahlah kita gak usah berdebat tentang hal itu, itu realitas yang bisa dibantah jika engkau berada di sisi penguasa negeri, lengkap dengan hasil statistik yang ntah ‘kebenarannya’ berepa persen mereka mengklaim telah memajukan dan mensejahterakan negeri ini …

Oh iya kawan, hari ini aku ingin menyampaikan sesuatu, sesuatu hal yang aku butuh pendapatmu, pendapat seorang sahabat yang ku percaya. Aku tahu aku bukanlah sahabat terbaik mu, mungkin malah aku adalah sahabat yang paling jelek yang kau punyai .. tapi ku berharap engkau mau membantu masalahku ini, aku sudah pusing, penat dan kehilangan arah mencari pemecahannya ….

Masih ingatkah engkau akan kisahku beberapa waktu yang lalu, kisah saat keberanianku muncul untuk berkata ya .. jujur kepada diri, jujur kepada kehendak hati. Justru bermula dari hal itu sekarang aku terjebak dalam lingkaran ketidak pastian antara melanjutkan atau berjuang untuk terus maju menumbuhkan optimisme dibelantara pesimisme …

Saat itu pikiranku tanpa bisa ku kontrol mengajukan sebuah hipotesis asumsi yang sangat dipaksakan, hipotesis bahwa itu semata-mata hanya untuk sebuah status dan komitmen. Sungguh naif, memang sangat naif, setelahnya aku sungguh malu, malu terhadap kekhilafanku dan ketidakmampuanku mengendalikan pikiranku sendiri .

Semenjak saat itu ku berjalan mundur perlahan, mengurangi sedikit demi sedikit harapanku, aku menilai sungguh tidak pantas lintasan pikiran itu terkontar .. tidak pantas karena dangkalnya pikiranku …. mulailah rasa bersalah dan marah bercokol dalam dada …

Hari berganti, minggu berlalu dan bulan datang dan pergi, kucoba memadamkan bara api yang terlanjur menyala, Ternyata aku salah, aku tetap tidak bisa menghilangkannya … ku coba dengan segala cara,namun itu semua tidak membuat hal ini pudar.. aku tetap terikat dan terkungkung sangkar bara …

Dan cerita ini pun dimulai …..

 

Jakarta, 24 September 2012

JWeBs Tower

 

A. Ahmad Kusumah

Mencoba Bercerita (Inspired by Monte Cristo)

September 19, 2012 Leave a comment

Count Of Moste Cristo

Akhirnya selesai juga memelototi baris demi baris, halaman demi halaman, lembar demi lembar, salah satu novel sastra besar abad ke 19 Count Of Monte Cristo karya Alexandre Dumas (jangan salah baca). Sebuah novel dengan latar belakang pengkhianatan, cinta dan pembalasan yang tentu saja diakhiri dengan ending yang sudah bisa ditebak namun tetap membuat penasaran.

Gaya penuturan yang sederhana, enak untuk dicerna namun sarat akan makna menjadi salah satu ciri khas dari novel ini. Ada beberapa paraghrap yang membutuhkan pemahaman berulang-ulang dengan karakter novel satra yang begitu kental namun masih bisa dinikmati oleh orang-orang yang tidak terlalu menyukai novel jenis ini. Namun disarankan untuk membaca novel impornya daripada versi terjemahan indonesianya, karena emosi yang terbentuk akan lebih kuat ketika membaca versi aslinya (maksudnya inggris) jika dibandingkan dengan efek versi terjemahannnya yang mungkin karena susahnya mencara kata yang tepat sebagai padanan kata aslinya.

Cerita ini berkisar tentang jalan hidup seorang pemuda Edmond Dantes (Count monte cristo, Abe Busoni,Lord Wilmore, Sinbad the sailor) Mercedes Mondego de Morchef, Baron Danglars, Ferdinand Mondego (count de morchef), De Villefort dan Caredouse. Kisah ini dimulai ketika Edmond Dantes dikhianati ketika menjelang hari pernikahannnya, sampai menjadi korban persekongkolan sehingga mengantarkan dia mendekam dipenjara selama 14 tahun dengan tuduhan sebagai seorang partisan bonapartis. Dan dipenjara inilah justru menjadi titik balik kehidupan Edmond Dantes ketika mulai mengenal sosok Abbe Faria yang mengangkat dia sebagai anak angkatnya dan mengajarkan segala macam ilmu pengetahuan sampai rahasia besar yang mengubah Edmond Dantes menjadi seorang Sosok yang begitu dikagumi kelak, dengan jiwa yang dipenuhi oleh dendam kesumat kepada orang-orang yang telah menjerumuskan hidupnya dan keluarganya ke titik yang paling menyakitkan.

Untuk lebih jelasnya silahkan baca Novel ini, walaupun tidak seberat Quo Vadis nya Henryk Sienkiewicz, namun tetap menjadi tantangan karena alurnya yang saling berkaitan, maju mundur dan penuh dengan teka-teki yang akan terbuka ketika mendekati bagian akhir …

Terinspirasi dari novel ini, maka secara berkala akan menulis sebuah cerita yang sebenarnya sudah di susun sejak lama namun tercecer dimana-mana …. Semoga Bisa tetap bersemangat menulisnya … :D:D:D

 

Jakarta, 19 September 2012

JWeBs Tower

 

A. Ahmad Kusumah

Jujur dan apresiatif sekadarnya saja ….

December 17, 2010 Leave a comment

(ilustrasi courtesy of  multiply.com)

Ada yang bilang,

“jika kita melakukan sesuatu hal melampaui batas, malah yang akan kamu dapatkan adalah sebaliknya.”

“Siapa saja yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, pada akhirnya dia hanya akan mendapatkan sesuatu yang kosong saja”

Pernahkah kita menyanjung orang ? atau pernahkan kita memuji seseorang atas prestasinya ? atau pernahkah menjenguk orang yang sakit dan menghiburnya ?

Dari ketiga pertanyaan tersebut ada 2 aspek yang berbeda, yang bisa kita tinjau:

Yang pertama, masalah memuji atau memberikan apresiasi. pada dasarnya, memuji sesorang adalah hal yang wajar-wajar saja,  sebagai bentuk penghargaan terhadap apa yang telah dia capai. Namun perlu diingat, janganlah memberikan apresiasi sehingga seakan-akan terlalu hiperbolis. sekali dua kali kita mengatakan hal tersebut, pada orang tersebut, kemungkinan dia akan merasa bangga dan merasa dihargai, namun jika keterusan dan terkesan hiperbolis, maka ada kemungkinan dia malah menganggap kita menjelek-jelekannnya.

Contoh sederhana,

Ada seorang mahasiswa fisika, yang kesehariannya biasa-biasa saja, dalam hal akademis tidak terlalu menonjol. Pada suatu ketika, ketika mengikuti ujian mekanika kuantum yang terkenal sangat jlimet dan sangat sulit, dia mendapatkan nilai yang sangat mengagumkan, 99 dari skala 100. Seorang temannya, langsung memujinya, ” wah kamu, pintar banget, bisa dapat nilai nyaris sempurna dalam mata kuliah ini”. Si mahasiswa tersipu dan menjawab, ” ahh, biasa saja, mungkin lagi beruntung saja, saya menghapal bagian yang keluar di ujian.” lalu pada kesempatan lain, Seorang temannya ada memuji dia lagi, ” Wah, pintar sekali kamu, einstein aja kalah sama kamu, einstein perlu puluhan tahun untuk memahami mekanika kuantum , kamu cuma semalam saja, kereenn”. Namun si mahasiswa tadi bukannya senang malah marah.

Coba lihat , apa yang beda antara pujian yang pertama dan pujian yang kedua ?? dan mengapa reaksinya bisa berbeda ??

Yang kedua, masalah menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, atau memberikan sesuatu sebelum waktunya atau tidak tepat pada waktunya. Kejujuran adalah sesuatu yang diperintahkan dan menjadi salah satu nilai lebih bagi seorang manusia. namun kejujuran juga harus melihat waktunya, ada kalanya kejujuran itu harus kita sembunyikan.

Sebagai contoh sederhana.

Ada seorang laki-laki menjenguk temannnya yang sedang sakit tipus. Dengan membawa sekeranjang buah tangan (buah-buahan) dia masuk ke dalam kamar perawatan si sakit. kemudian, dia berbicara kepada yang sedang sakit ” Oh, mukamu pucat sekali, matamu menguning, bibirmu kering , dan penglihatanmu terlihat tidak fokus”. Coba kita renungkan, pantaskah kita mengatakan hal tersebut kepada orang yang sedang sakit ? dilihat dari segi kejujuran tidak ada yang salah, memang begitulah keadaanya, namun ditinjau dari sisi psikologis, apa yang diucapkan laki-laki tersebut malah akan menyebabkan semangat sembuh si sakit semakin drop, dia mungkin akan berpikir, ” benarkah saya sudah separah itu ?”.

ada lagi sebuah kisah yang diambil dari Istamti bi hayatik .

Ada seseorang yang mengunjungi seorang temannnya yang memang lagi sakit dengan penyakit yang cukup berbahaya. dia kemudian bertanya kepada si sakit, penyakitnya apa. setelah dijawab oleh si sait, si penjenguk tadi berkata “Ohh, penyakit ini pernah diderita si anu, dan akhirnya seminggu setelah dirawat dia meninggal dunia. Penyakit ini pula pernah diderita oleh teman saudaraku, dan kemudian dia meninggal juga”.

Coba renungkan lagi, pantaskah si penjenguk berkata hal demikian ?? walaupun apa yang dia akatakan itu benar ??

Ada kisah lainnya.

Ada seorang laki-laki menaruh hati pada seorang wanita. Bertahun- tahun dia memendam perasaan tersebut, dan tidak berani mengungkapkannya atau tidak mau berkata jujur kepada wanita tersebut bahwa dia menyukainya. Suatu ketika, ketika dia udah merasa siap, dengan berani dia berkata, gw harus jujur atau tidak sama sekali.

Dengan semangat 66, dia datang kerumah wanita tersebut, setelah memberikan salam, dia langsung berkata pada wanita tersebut. “teh, saya suka sama kamu. mau gak nikah sama saya”.

Namun apa yang terjadi, dia malah digebukin orang banyak. kenapa bisa terjadi begitu ? karena dia berkata ketika wanita tersebut lagi melakukan akad nikah dengan calon suaminya …. (… kisah ngelantur … 😀 😀 :D)

Jadi kesimpulannya ,

Katakanlah sesuatu pada tempat dan waktu yang tepat, serta jangan berlebihan.

(jujurlah ketika saatnya memungkinkan….) 😀

 

Jakarta, 17 Desember 2010

A. Ahmad Kusumah

Categories: Story of life, Umum Tags: ,

Surat Kepada Siapa

November 11, 2010 Leave a comment

Dear lost left ribs,

However this letter reaches you, i would like to say what has been bothering me for the past few years. I would like to confess that i am longing for you, no matter  in fact i don’t know who you really are.

Every time i face the night, the flash of misery comes and wont go till the sun rises, cause of missing you my lost left ribs. When someone comes a few times, i expect that would be you yourself,  but then my heart shatters again and again.

I know for a fact that God creates you from my own left ribs, i know someday if God gives His Will, i definitely will see you. But When ?,  i am afraid before that time comes, my strawberry tart  has been torn apart and can not recognize you anymore.

I know, God made you cryptic on my existence first  like an encrypted code using unlimited bit of encryption method, cause God has a plan for my own life, a plan i should follow, and it’s the best for me as my way to always remember His Gifts given to me and grateful for. This way is the way i serve God on entirely of my life as devotion to Him.

I know this letter will change nothing, but My confession was for me to get off my chest and stop the pain in my stomach and the headache i have on years lately.

My only regret for writting this letter is that you may find this and you don’t recognize that this letter is for you, cause you also don’t know who i am. I have always been jealous of man who has been given by God a way to find their lost left ribs, but i am just not the type of person to take out  jealousy on them, what I can do know is just cry on my knee and ask to the Great Owner’s Fate to show the way on reaching you.

Well i better rap this up. Just remember that i will wait you and will always wait you, my dear lost left ribs.

Dear God, please give me a way …. to find my missing piece ..

 

Jakarta, November 11th, 2010

 

A2K …..

 

Categories: Story of life

Chapter V : Hidup itu resiko, sebuah studi kasus ngawur (ilmiah bro..) – bagian I

April 21, 2010 5 comments

Tulisan chapter ke lima, mohon maaf jika bahasa yang digunakan nyablak.. alias ngalor ngidul gak jelas ritme dan alurnya.

Jadi ingat sebuah jargon ketika mengikuti OS dulu. “hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan ada konsekwensinya”. Namun jika dilihat dari bahasa, kayaknya kita punya hak prerogatif untuk menentukan hidup, karena secara implisit, pernyataan diatas mengindikasikan ada pilihan yang lain yang bisa dipilih dan ditentukan oleh manusia untuk dipilih (mungkin juga bukan ini maksudnya). Tapi mungkin juga jargon tersebut tidak dimaksudkan untuk itu, tapi memiliki makna bahwa setiap langkah yang kita tempuh dalam menjalani hidup, yang kita rancang dan rencanakan pasti memiliki konsekwensinya masing-masing. So, ketika kita membat sebuah rencana baik itu jangka pendek maupun jangka panjang, kita harus sudah mengerti resiko yang akan dihadapi. Bukan Cuma tahu dan mengerti tapi mempunyai methodology untuk mengantisipasi resiko tersebut.

Kembali dengan istilah resiko, kadang orang mengkonotasikan resiko itu negatif, padahal sejatinya resiko bisa saja positif. Misal saja, ketika kita mempunyai mobil, resiko negatifnya bahwa kemungkinan besar kita akan menyumbang peran dalam peningkatan polusi udara, atau mobil kita dicuri orang. Namun resiko positifnya bahwa mobilitas menjadi lebih tinggi (asumsi bukan di jakarta yeee, biar gak kena macet dimana2). Mengingat hal tersebut maka perlu mekanisme untuk memaksimalkan potensi positif yang ada dari sebuah peristiwa (event)/ keadaan dan meminimalkan dampak negatifnya. Proses untuk mencapai hal diatas disebut dengan management resiko alias risk management.

Mungkin kita lebih familiar dengan istilah manajemen resiko dalam ruang lingkup bisnis, perusahaan ataupun proyek. Namun sebenarnya manajemen resiko juga sangat perlu diterapkan dalam hidup sehari-hari. Setiap aspek apapun yang kita rencanakan dalam hidup, setiap tindakan yang akan dilakukan harus memikirkan aspek resikonya, dan harus dipikirkan dengan jernih dan memperhitungkan segala hal yang mungkin terjadi, positif dan negatifnya. Dalam prosesnya, tentu saja harus dilakukan risk assesment terlebih dahulu. Untuk memudahkan hal itu maka analogikanlah hidup ini sebagai sebuah proyek implementasi amal dan ilmu yang tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sesuai dengan judul diatas, bahwa hidup adalah resiko, dan setiap resiko harus di manage dan dikelola dengan baik. Yang harus dilakukan adalah dengan melakukan self risk assesment. Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam mengelola resiko, dalam hidup :

1. Rencanakan hidup dengan baik, buat perencanaan dengan baik

Maksudnya, buatlah perencanaan untuk setiap aktivitas yang akan dilakukan, termasuk membuat perencanaan untuk menanggulangi resiko yang mungkin dihadapi.

Misalnya, buatlah todo list daily, weekly or monthly, dan kalo bisa tentukan target yang ingin dicapai. Jangan lupa tentukan langkah-langkahnya, secara global aja.

2. Identifikasi resiko yang mungkin terjadi dan buat alternatif solusi global

Cobalah dari langkah-langkah dan todo list yang telah dibuat, identifikasikan resiko yang mungkin muncul, dan coba kuantifikasi nilainya, misal dalam persen berdasarkan dampak dan probabilitasnya.

Contoh simpel:

Todo list minggu ini :

  • Target : menyatakan rasa suka kepada seseorang yang pasti kita sukai dong
  • langkah :
  • alternatif I : jika berani, kemukakan langsung didepannya didepan banyak orang, sambil bawa bunga mawar.
    • Resiko positif : diterima dan dijadikan sebagai ajang pengumuman kepada khalayak ramai bahwa kita jadian. Score = 3
    • Resiko negatif : ditolak, digampar, dikata-katain (berani2nya loe suka ame gw), bikin malu diri sendiri, diketawain orang, dll. Score = 2, Final score = 3-2 = 1.

  • Alternatif II : jika jauh dan gak punya modal, Kirim via SMS dengan bahasa “dewa.
    • Resiko positif : diterima, dibales lagi dengan bahasa “dewa” juga, irit ongkos, sebagai latihan sebagai penulis sajak, kalo ditolak gak akan malu, pura2 salah kirim …Score = 2
    • Resiko negatif : ditolak, dikatain=” gak modal banget sih lo, kalo mau ama gw dateng dong jantan dong”. Score = 5.   Final Score = 2-5 = -3.

  • Alternatif III : jika jauh dan biar bisa panjang lebar, Kirim via Email dengan attachment lagu kenny roger (“have I told you lately that I love U “), dilengkapi dengan soneta 14 baris mengisahkan perjuangan cinta, dan jangan lupa memakai latar belakang music kenny G (jika bisa), atau background bunga mawar..
    • Resiko Positif : Diterima, dan dapet balesan email berupa novel ayat-ayat cinta. Score = 6
    • Resiko Negatif : Di tolak, emailnya masuk spam box, didelete oleh antivirus, didelete temennya (kyk di friends).Score = 1 ,Final Score = 5.

Dari uraian yang dibuat, maka diputuskanlah alternatif 3 yang paling baik scorenya untuk dilaksanakan dan dieksekusi untuk mencapai target agar diterima jadi pasangan orang yang kita sukai.

(Bersambung, udah nguantuuuuuuuk ……)

Categories: Story of life, Umum

Chapter IV : Cinta sejati itu memang ada …

April 19, 2010 Leave a comment

Sepenggal kalimat yang terus menerus terngiang dalam sanubari. Ketika bicara tentang cinta dan kasih sayang, takkan pernah habis waktu untuk hal itu. Cinta dan kasih sayang juga yang menjadikan hidup terasa lebih berwarna, membuat semangat hidup terus tumbuh, membuat rasa optimis dalam menjalani lika-liku kehidupan, yang terkadang dan memang sudah menjadi sunatullah selalu naik turun antara dua sisi yang berlawanan, kadang membahagiakan kadang menyedihkan. Namun dengan cinta, hal tersebut tidak akan mempengaruhhi kualitas hidup, bahkan satu momen ketika manusia dicoba dengan kesedihan, maka dengan taburan cinta dan kasih sayang, justru hal itu akan membuat langkah manusia makin tegap dan makin kuat untuk terus berjalan menuju rasa syukur atas segala nikmat yang begitu besar dari Tuhan, jika dibandingkan dengan kecilnya cobaan yang menimpa. Cinta … sungguh anugrah yang terindah yang diberikan sang Maha Pencipta pada makhluknya, tanpa cinta tidak akan tercipta kedamaian didalam kehidupan manusia di dunia.

Namun mengapa kadang ada orang yang desperate karena cinta ? menangis bombay karena putus cinta. Itu disebabkan (mungkin) oleh kesakitan akibat harus menghilangkan kenangan manis selama mengarungi hidup dalam bahtera penuh warna. So, bukan karena cintanya itu sendiri, tapi karena memori yang ditinggalkan oleh rasa yang selalu ada dalam “strawbery tart”, sehingga posisi cinta bergeser dan ditutupi oleh kelabunya awan kesedihan. Memang sangat sulit untuk melepaskan sesuatu yang telah membuat hidup makin bermakna dan berwarna, but indeed ini bukan sebuah alasan untuk hidup terus terkungkung dalam kesedihan. Bahwa selalu ada ibrah (hikmah) yang bisa diambil dari setiap peristiwa, berpikir positif,   merupakan salah satu obat untuk mengembalikan posisi cinta pada tempatnya dan berperan kembali dalam menghidupkan suasana hati yang terlanjur teriris-iris. Salah satu cara yang paling efektif, palingkanlah cinta dari seseorang yang membuat hidup menderita karena tipu dayanya, kepada Dzat Sang Pemberi cinta dan kasih sayang.

Kadang terlintas pertanyaan, apakah ada yang namanya cinta sejati, selain cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, selain cinta kepada kedua orang tua ?. trus cirinya seperti apa ?. secara definitif, ada yang membuat pengertian mengenai cinta sejati sebagai rasa senang, berbunga-bunga dan membuat perasaan berada pada level kebahagian terus-menerus kepada seseorang yang disebabkan oleh sesuatu hal yang kadang tidak bisa dijelaskan. Bukan karena kecantikannya, bukan karena kekayaannya, pokoknya senang aja. Ada yang menambahkan parameter lain yaitu tak lekang oleh waktu ….

Pernahkah merasakan ketika menyukai seseorang, setelah sekian lama waktu berlalu rasa itu tetap ada di lubuk sanubari ? walaupun terpisahkan jarak bahkan mungkin bertahun-tahun tidak pernah ketemu lagi namun rasa itu tetap tumbuh subur di relung hati ?. Itulah contoh sederhana yang karakternya mirip dengan cinta sejati.

Ada sebuah kisah, tersebutlah sebuah keluarga dengan satu orang istri, satu orang suami dan 2 orang anaknya. Pada suatu saat si istri hamil anak yang ketiga. Fase kehamilan yang dialami si istri normal-normal saja, semua anggota keluarga diliputi rasa kebahagiaan karena akan datangnya anggota keluarga yang baru. Suatu saat ketika masa kelahiran akan terjadi, maka dibawalah si istri oleh suami yang sangat mencintainya ke rumah sakit dan karena satu dan lain hal, si istri terpaksa harus melewati operasi cesar untuk menyelamatkan bayi dan ibunya. Namun tuhan berkehendak lain, si istri memang selamat, namun bayinya tidak bisa diselamatkan. Hal ini membuat si istri selalu dirundung rasa sedih yang berkepanjangan, sampai akhirnya pasca operasi cesar, si istri jatuh sakit, dan akibat komplikasi yang dialami si istri, menyebabkan syaraf motorik si istri terganggu, sehingga hampir-hampir dia tidak bisa menggerakan seluruh otot tubuhnya.

Semenjak peristiwa tersebut, si suami dengan telaten mengurusi istrinya yang sekarang sudah tidak bisa berdaya. Memandikan, mengganti pakaian sampai membersihkan bekas hajat istrinya dilakukan si suami dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Minggu berlalu, bulan dan tahun silih berganti, anak-anak keluarga tersebut sudah mempunyai keluarga sendiri dan pergi meninggalkan si suami sama istri tersebut untuk membaktikan hidupnya pada keluarganya yang baru. Rutinitas si suami tetapa seperti biasa, pagi-pagi ketika akan berangkat bekerja memandikan dulu istrinya, mengganti bajunya dan mengangkatnya ke sofa, menyalakan televisi agar si istri tidak kesepian ketika dia sedang bekerja. Hal itu dilakukan terus menerus tanpa merasa ada beban sekalipun.

Suatu waktu, melihat ayah mereka yang sudah tua namun masih tetap melayani kebutuhan ibunya dengan segala kemampuannya, salah seorang anak keluarga tersebut menganjurkan kepada ayahnya, biarkanlah ibunya dia yang mengurus agar ayahnya bisa istirahat menikmati masa tuanya. Namun jawaban si ayah menjawab,

“ Tahukah kamu nak, ayahmu ini mencintai ibumu sepenuh hati, bukan karena kecantikannya, karena seandainya ayah mencintai ibumu karena kecantikannya mungkin dari dulu semenjak ibumu sakit sehinngga badannya semakin kurus, rambutnya rontok, ayah akan menikahi wanita lain yang lebih cantik. Seandainya ayahmu mencintai ibumu karena hartanya, maka ketika harta benda habis untuk pengobatan ibumu, maka ayahmu ini mungkin akan mencari wanita lain yang lebih mampu dan berada secara harta dari ibumu. Dan seandainya saja ayahmu ini mencintai dan menikahi ibumu karena syahwat lahiriah, maka ketika ibumu sakit dan tidak bisa lagi memberikan pelayanan kepada ayahmu ini, mungkin saja ayahmu akan menceraikan ibumu dan mencari wanita lain yang masih normal dan bisa melayani ayahmu. Namun tidak nak, ayahmu mencintai dan menikahi ibumu karena ayahmu benar-benar menyayangi ibumu karena  Allah dan sebagai sarana ibadah kepada-Nya. Maka, nak, biarkanlah selama sisa hidup ayahmu ini, ayah menjalankan sumpah setia ayahmu ketika melakukan ijab qabul dihadapan pennghulu untuk menerima, mencintai dan menyayangi ibumu apa adanya, dan merawat ibumu sampai maut memisahkan ibu dan ayahmu. Semoga kelak, kami dipertemukan kembali di surganya Allah SWT.”

“Bersyukurlah bagi orang-orang yang memiliki cinta kasih dihatinya”.

Categories: Story of life

Chapter III : Salahkah Aku ????

April 13, 2010 Leave a comment

Pertanyaan yang sungguh menggelitik. Sungguh sangat menggelitik. Ketika dihadapkan pada sebuah peristiwa yang melibatkan pihak kedua atau lebih tepatnya pihak ketiga. Ketika perjuangan mendapatkan sebuah hak terbentur dengan hak yang dimiliki orang lain. Kadang kuberpikir sungguh naif orang yang berteriak-teriak memperjuangkan haknya, tapi dirinya sendiri tidak melihat bahwa tuntutan yang dia inginkan juga melanggar hak orang lain.

Ketika kemarin rame-rame orang demo ILGA di surabaya dan puncaknya digeruduk oleh FUI, komnas HAM langsung bereaksi, melanggar HAM katanya. Namun pendapat itu hanya ditinjau dari perspektif orang-orang ILGA, namun apakah mereka (komnas HAM) pernah melihat dari sisi orang FUI, bahwa orang2 FUI juga punya hak untuk mempertahankan dan memperjuangkan agamanya dan ketentraman lingkungannya dari gangguan faktor eksternal akibat adanya resistansi terhadap ILGA. So, jadi sebenarnya definisi hak asasi itu kayaknya harus di redefinisi kembali, harus ditambahi bahawa hak asasi itu adalah sesuatu yang memang layak diterima oleh semua orang dengan memperhatikan kewajiban individu untuk menghormati hak asasi yang lainnya juga.. (iya gitu ???).

Ketika tuntutan hak beririsan dengan orang lain, tentu harus ada kompromi yang dilakukan, kompromi yang dijadikan sebagai landasan agar tidak terjadi clash diakhir. Pikirkanlah bahwa kita akan senang jika hak-hak kita tidak terganggu, begitupun orang lain. Mendapatkan hak adalah boleh tapi menghargai dan menghormati hak orang lain adalah kewajiban, jangan dibalik. Jika prinsip ini dipakai, mungkin harmony kehidupan akan tetap terjaga.. mungkin intinya throw away your selfish mode…

Jangan merasa benar karena memperjuangkan hak tanpa sedikitpun melihat hak-hak orang yang tergerus akibat cara-cara mendapatkan hak tersebut. Ini kesalahan yang kadang tidak disadari atau lebih tepatnya tidak mau tahu. Emosi tinggi bisa menghilangkan pertimbangan ini, harga diri, harga sembako dan harga-harga yang lainnya juga bisa turut memperkeruh kejernihan pikiran dalam menentukan pilihan jalan yang harus ditempuh untuk menggapai ‘sesuatu’ yang jadi hak.
“Hormatilah orang lain sebagaimana kita ingin dihargai”.

Categories: Story of life