Archive

Archive for December, 2009

cerita tanpa judul[2]

December 30, 2009 Leave a comment

Hari itu diperempatan sudut kota jakarta, ketika kilatan cahaya kilat yang terlukis diangkasa, seperti siluet akar langit yang mencengkram bumi, menebarkan pesona keindahan sekaligus menggambarkan kekuasaan dengan gelegarnya, basah kuyup sesosok tubuh berdiri di tepi kolam air dengan landasan aspal bolong2 tergerus air hujan, berdiri membungkuk meratapi nasib, menggelar tangan mengharap belas kasihan … Sosok itu, keriput wajahnya, sorot matanya seakan telah menjadi saksi perjuangan tiga jaman, jaman ketika hidup dalam belenggu penjajahan, jaman ketika hiruk pikuk revolusi 66 dan meriahnya reformasi 98 yang sekarang nggak tahu kelanjutannya … tiga jaman itu berbeda, tapi punya satu kesamaan, hanya memberikan penderitaan bagi dirinya, lahir bathin …

Sosok itu terus berdiri, memaksakan diri sampai titik akhir .. bersanggakan tongkat harapan, harapan akan datangnya seorang dermawan, namun apa yang diharap tidak selalu sesuai dengan kenyataan, letihnya kaki berdiri, bungkuknya kondisi badan tidak sedikitpun menyentuh nurani, mereka, orang-orang dengan segala kelebihan .. acuh tidak peduli …
Sosok itu akhirnya tenggelam dalam dalam keremangan ibu kota diselimuti kepedihan dan ketidakadilan hidup, bukan ketidakadilan Tuhan, tapi ketidakdilan pengemban amanah negeri… yang hanya sibuk akan urusannya sendiri tanpa peduli jerit tangis jutaan penghuni negeri …..

Categories: Story of life

cerita tanpa judul [1]

December 28, 2009 Leave a comment

Bismillah ….

Hembusan angin menerpa wajah-wajah yang kuyu, kusut masai, semburat cahaya
merah menyembur dari ufuk barat, mengiringi tenggelamnya rasa damai dalam
suasana terang ditengah hiruk pikuknya, hilir mudiknya hamba-hamba mengejar
segala asa dan cita.

Jakarta, ibu kota negara, pusat segala asa namun penuh dengan gejolak dan suasana
yang kadang lebih sering memberikan nestapa bagi sebagian pengadu nasib yang
terlalu terbuai dengan indahnya kata metropolitan kota sejuta harapan, tempat semua
kesempatan hidup terbuka.

Hari itu, entah hari apa, entah jam berapa, entah menit atau detik yang keberapa, yang
teringat hanya suasana seperti itulah yang selalu dirasa ketika kaki gontai melangkah
menuju tempat berlindung dari dingiinya malam, tempat untuk melepas lelah setelah
seharian berkutat dengan tugas yang membebani, mencoba untuk selalu bertahan dan
menumbuhkan optimisme, hari esok mungkin tidak akan seberat hari ini ….

Tidak terasa, kalau dihitung, ntah berapa langkah den jejak yang dibuat ketika
menyusuri lorong-lorong pengap perkampungan ibukota , sebuah slump area yang
sangat kontras ketika membandingkan dengan kawasan pusat bisnis yang jaraknya
hanya 300 meter di depan ….

Kontras sungguh kontras, ketika kawasan bisnis dihiasi dengan rangkaian bunga yang
selalu terlihat segar sebagai pembatas jalan protokol, thamrin namanya dengan sarinah
sebagai landmark tanda kekuatan bisnis pertama yang muncul di pusat ibu kota, dan
bundaran hotel indonesia, yang sekarang berubah dengan embel-embel kempinsky
sebagai pusat perjuangan untuk melepaskan ekpresi ketidakpuasan akan ketidak
adilan di negara ini, pinggir-pinggir jalan yang di penuhi dengan gedung pencakar
kangit menjulang tinggi, menera eksekutif, skyline buillding, menara thamrin, wisma
kosgoro dan Plaza indonesia sebagai landmark baru, yang katanya sebagai pusat
perbelanjaan terlangkap, yang sayangnya hanya diperuntukan bagi orang yang tidak
pernah merasakan betapa susahnya mendapatkan sebungkus nasi kering dengan lauk
garam dan sepotong tempe bongkrek sisa kemarin malam. Namun kawan, coba
tengok tiga ratus meter dibelakang gedung-gedung tersebut, lorong pengap, bau
tempat anak-anak kecil berlari-lari menangkap masa kecil mereka, tempat tikus-tikus
got berseliweran berebut jalan dengan manusia penghuni ibukota yang kadang hanya
bisa termangu, menggerutu dan marah –marah akibat merasa ketidak adilan hidup
yang mereka rasakan. Ketika orang berjas berlalu lalang dengan rasa pongah
meneriakan kesombongan dengan gelegar klakson penyumbang polusi ibukota,
meraka, orang pinggiran itu harus susah payah berjalan perlahan di trotoar kusam
yang sebagain besar direbut pengendara roda .. jakarta oh jakarta …

Ah … tapi buat apa mengumpat, itu hanya menunjukan ketidak mampuan dan iri hati
dan hasad yang tidak ada dasarnya, toh .. dengan tidak mengumpatpun hidup ini
sudah terasa berat.. mungkin itulah satu-satunya penghibur penghuni slump area di
tengah ibukota untuk mendinginkan dan menurunkan tensi emosi yang tidak jelas
ujung pangkalnya, namun satu yang jelas, disebabkan ketidak becusan penguasa
negeri yang hanya memikirkan kondisi real makro ekonomi tanpa melihat kondisi real
mikro yang terjadi dimasyarakat .. tidak peduli berapa orang lagi masyarakat negara
yang subur ini yang lahir dalam penderitaan hidup, yang mereka pedulikan Cuma
bagaimana menaikan pamor negeri dengan mengutak-atik pertumbuhan ekonomi 3
digit yang sebenarnya hanya dinikmati sebagian kecil penduduk negeri ini, kalangan
borjuis, kapitalis dan opportunis bengis yang mengais rejeki diatas tumpukan
penderitaan proletar, sapi perah yang dibodoh-bodohi dengan janji-janji kemakmuran
yang hanya tinggal janji tanpa realisasi …

Kawan, kau mungkin bertanya, kenapa aku peduli, kenapa aku tahu realitas kehidupan
di ibu kota yang katanya lebih kejam dari pada ibu tiri …. Jawabnya, .. yah mungkin
aku sotoy , sok tahu sok peduli sok kritis, tapi satu yang pasti pemikiran dan pendapat
itu muncul akibat pengulangan dan pemahaman sebuah pengalaman hidup, yang
walau tidak terasa sudah ku jalani menjelang 12 bulan setelah pertama kali semenjak
aku memutuskan meninggalkan hiruk pikuk kehidupan kampus, meninggalkan
kenangan hidup yang penuh dengan liku dan perjuangan anak manusia dalam
menggapai cita menempatkan diri di jajaran manusia yang katanya ‘berpendidikan ‘….
Hampir setiap hati selama 12 bulan ini ku susuri jalan yang sama, kompleks yang
sama suasana yang sama bahkan jalan yang sama, sehingga kalo dihitung jejak
langkahku dengan asumsi 1 hari ku berjalan kaki bolak balik tempat kerja 4 KM,
berarti 4 * 12 * 30 = 1440 KM sudah ku lewatkan kakiku menginjak tempat yang
hampir sama dengan 4 * jarak bandung jakarta. Yah mungkin juga kau akan langsung
protes, aku terlalu menggenalisir keadaan, tidak semua tempat di ibu kota seperti itu
… yah mungkin sample yang ku buat terlalu sempit dan sedikit, tapi tetap mempunyai
probabilitas kebenaran kan ? walupun hanya sepersekian ratus dari ‘kebenaran’ versi
yang lain.

Sudahlah kita gak usah berdebat tentang hal itu, itu realitas yang bisa dibantah jika
engkau berada di sisi penguasa negeri, lengkap dengan hasil statistik yang ntah
‘kebenarannya’ berepa persen mereka mengklaim telah memajukan dan
mensejahterakan negeri ini …

Imperium [senin, 28 dec 09, 2:30 PM]

Categories: Story of life

IT doesn’t Matter ? fakta atau fakta ? [bag -1]

December 24, 2009 Leave a comment

Bagi orang yang berkecimpung di dunia IT, artikel yang ditulis oleh Nicholas g. Carr di Harvard Business Review edisi Mei 2003 mengenai Posisi It didunia industri, yang menyiratkan bahwa IT adalah hanya sebagai komoditas tidak lebih dari itu, pasti cukup menohok. Di saat perkembangan dunia IT sedang bagus-bagusnya dan sangat cepat berkembang yang di mulai sejak era komputerisasi dan internetisasi (maksa banget) yang menyebabkan hampir semua informasi bisa bebas berkeliaran dan bisa diakses dari manapun dan kapanpun, tiba-tiba muncul statement, ” IT Doesn’t Matter “, yang memberi arti, tanpa IT pun industri toh bisa berkembang, tentu saja hal ini sedikit banyak menyebabkan pertentangan di kalangan Praktisi ataupun selebritis IT …

Trus bagaimana menyikapinya ? haruskah disikapi dengan sikap kritis destruktif dengan mengeluarkan bantahan dan membeberkan fakta-fakta betapa pentingnya IT didunia industri yang akhirnya hanya mendorong pada kondisi debat kusir tanpa aksi atau kritis konstruktif dengan melakukan evaluasi terhadap argumentasi yang dikeluarkan oleh Carr dalam mendukung pendapatnya, dan hasilnya digunakan untuk perbaikan sektor IT dan meningkatkan fungsi dan peran IT di dunia industri … tentu saja pilihan kedua adalah pilihan terbaik …

Sebelum melangkah lebih jauh ke pembahasan solusi dan sikap yang harus dilakukan dalam menanggapi aryikel Carr tersebut, ada baiknya kita lihat kondisi IT, peran dan fungsinya dari masa ke masa ..

Pada era tahun 60-80 an, ketika perkembangan IT untuk mendukung dunia industri masih sangat minim, bisa dikatakan IT tidak punya pengaruh atau hanya sedikit pengaruh yang diberikannya kepada sektor industri. Namun, hal itu berbalik saat era mainframe terjadi. Saat itu mainframe menjadi salah-satu faktor yang membantu perusahaan untuk melakukan analisis terhadap data-data yang tidak bisa dilakukan secara manual. Dengan adanya mainframe yang mempunyai kemampuan lebih dalam pengolahan data dibandingkan dengan melakukan pengolahan data manual, dilihat dari segi waktu dan sedikitnya kesalahan yang mungkin terjadi dengan mengenyampingkan human error pada saat pengoperasian atau technical failure pada mainframe itu sendiri, maka mau tidak mau menempatkan mainframe menjadi salah satu tolok ukur efektifitas operasional perusahaan secara umum, yang secara langsung mempengaruhi daya saing (competitive advantages) perusahaan tersebut, Sehingga pada masa ini menempatkan IT yang diwakili oleh fungsi mainframe menjadi sesuatu hal yang kritikal bagi industri. dan perlu dicatat, pada masa ini hanya perusahaan-perusahaan dengan skala besarlah yang mampu menyediakan Mainframe…

Namun hal itu tidak bertahan lama, se iring dengan perkembangan teknologi, yang ditandai dengan munculnya perangkat personal komputer dengan harga yang lebih terjangkau, menyebabkan dominasi perusahaan besar dalam penguasaan infrastruktur IT yang berkaitan dengan kemampuan pengolahan data mulai bergeser. perusahaan – perusahaan dengan skala mid-size sudah bisa mengimbangi kemampuan perusahaan besar dalam masalah pengolahan data. pergeseran ini, juga imbasnya adalah kepada peran IT itu sendiri, yang pada mulanya dijadikan sebagai tolok ukur kemapanan dan kesuksessan sebuah perusahaan, bergeser hanya menjadi sebagai pendukung operasional perusahaan saja, sebagai akibat dari hilangnya peran IT sebagai salah satu faktor yang bisa meningkatkan competitive advantages yang dominan.

[continued] —>

Puri Imperium, 24 desember 2009
03.12 PM

Categories: Teknologi Informasi

Tomcat 6.6 service problem on windows

December 22, 2009 Leave a comment

Apache tomcat, is one of the most popular Web Application Server for Java Platform development.

Typically, on windows platform, we just need to download the executable distribution and install it as usual application,
and we just need to relax and wait the rest till the installation complete .

But, sometimes we found a Strange behavior that the application cannot start and if we look on it’s log, we found this line of error :
[174 javajni.c] [error] The specified module could not be found

To solve this problem we just need to put

msvcr71.dll

on bin on tomcat directory …
then, try to start the tomcat again ..
and now, your application server will run smoothly ..

Categories: Java