Archive

Archive for January, 2010

Usefull page

January 19, 2010 Leave a comment

Updated :

http://www.objectmentor.com/resources/publishedArticles.html

Advertisements
Categories: Uncategorized

Kesesuaian antara Manajemen Strategis, Teknologi dan Operasional dalam Networked Economy

January 11, 2010 Leave a comment

Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan peradaban, khusus perkembangan dalam teknologi informasi membuat peta sebaran industri dan market share nya tidak hanya dikuasai oleh negara-negara adidaya, namun hampir merata tersebar diseluruh penjuru dunia. Industri yang dimulai pada masa revolusi industri di Inggris, sampai awal 90-an yang masih menganut konsep industrial economy, perlahan-lahan tapi pasti mulai bertransformasi ke arah networked economy.

Ketika masa jaya industrial economy, hampir semua sektor industri dikuasai oleh para pemilik modal yang notabene berasal dari negara-negara maju. Industri otomotif dikuasai oleh Amerika, Eropa dan Jepang, industri militer dikuasai oleh Amerika dan Uni sovyet (sekarang rusia), industri pesawat terbang didominasi oleh Boeing, dan Airbus. Sehingga pada waktu itu timbul istilah golongan kapitalis, yaitu golongan yang menguasai modal yang merupakan syarat utama untuk membangun sebuah kerajaan industri. Sedangkan negara-negara ketiga atau negara-negara berkembang, hanya menjadi lahan pemasaran atau lahan untuk mensuplai bahan baku dan tenaga kerja yang murah. Sehingga timbullah istilah industri perakitan.

Namun, hal itu sedikit demi sedikit berubah, ketika teknologi informasi berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu tulang punggung perkembangan industri dan sektor-sektor pendukungnya, maka transfer pengetahuan dari negara-negara adidaya ke negara-negara berkembang, prosesnya bisa lebih cepat, sehingga perkembangan teknologi dan industri di negara lain, bisa dengan cepat informasinya didapatkan dan jika memungkinkan diadopsi oleh negara – negara bekembang. Apalagi ketika teknologi internet berkembang sangat pesat, pertukaran informasi menjadi lebih cepat dan lebih transparan, tidak lagi dikotak-kotak oleh batas negara dan benua, semua bisa dengan cepat mengakses informasi yang dibutuhkan dangan cepat. Akibat langsung dari adanya pertukaran informasi yang cepat ini, menyebabkan kegiatan perekonomian menjadi transparan dan real time, sehinga perubahan perokonomian disuatu negara bisa secara langsung mempengaruhi negara-negara yang lain dengan cepat. Contoh yang masih segar dalam ingatan adalah krisis ekonomi di Amerika yang efeknya langsung terasa di seluruh belahan dunia.

Namun dibalik itu semua, perkembangan teknologi informasi juga mendorong perkembangan industri disuatu negara menjadi lebih cepat dan menjadi lebih subur. Hal ini disebabkan oleh perubahan paradigma dalam dunia industri, yang pada masa kejayaan industrial economy disokong oleh ekonomi kapitalis, dalam artian yang memiliki modal memegang peranan yang sangat penting dalam maju, atau berkembangnya industri. Dalam peta pasar industrial economy, tantangan yang sangat kritis adalah manajemen kompetisi standar teknologi yang akan digunakan untuk mendominasi teknologi[ ], yang secara langsung akan mempengaruhi market share. Namun, hal itu masih kurang, karena dalam networked economy yang dimulai akibat adanya transparansi informasi, yang memiliki peranan penting adalah yang memiliki informasi (knowledge), bukan hanya penguasaan teknologi. Hal ini secara langsung mengubah peta industri dari konsep menjual brand menjadi menjual ide. Ciri khas yang paling mencolok dari networked industry adalah inovasi dan jaringan menjadi tulang punggung dari perkembangan industri. Sehingga bisa dikatakan, yang memiliki inovasi paling segar, kemungkin besar akan menguasai pasar. Contoh yang riil adalah Apple dengan Iphone dan Ipod nya yang merajai pasar teknologi multimedia portable multi fungsi.

Dibalik itu semua, perkembangan indsutri yang semakin cepat, mendorong bermunculannya perusahaan-perusahaan skala kecil dan menengah yang menawarkan konsep dan ide-ide baru ke pasar. Namun, dari sekian banyak perusahaan yang bermunculan, hanya sedikit yang bisa bertahan dalam kompetisi. Alasan yang paling klasik adalah karena kalah dalam modal dan kalah dalam strategi pemasaran.

Dalam kaitannya dengan kombinasi antara kemampuan manajerial dan implementasi teknologi dilapangan dalam pengelolaan organisasi, yang turut mendukung sukses dan berkembangnya dunia industri dalam era networked economy.

Dalam tulisan ini diangkat isu, apakah degree alignment antara manajemen strategis , teknologi dan operasional perusahaan mampu menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kemampuan survival dalam kompetisi di industri berbasis networked economy ?.

Manajemen Strategis
Basis dasar manajemen strategis adalah kemampuan strategi untuk memadukan antara kekuatan internal perusahaan dengan kelemahan yang dimilikinya, dan di lain pihak kemampuan untuk mengkombinasikan antara kesempatan dan ancaman eksternal perusahaan[ ].

Manajemen strategis erat kaitannya dengan kemampuan perusahaan untuk mengembangkan competitive advantage yang sustainable, yang berdampak dalam pembentukan nilai di organisasi tersebut. Differensiasi dalam manajemen strategis adalah antara content dan proses, yaitu strategi itu sendiri (content) dan implementasinya (proses)[ ]. Dibagian content, dibagi menjadi 3 level strategi, yaitu :
1. Corporate strategy , yang mendefinisikan jenis bisnis yang akan digeluti dan bagaimana cara melaksanakan dan mengelolanya.
2. Business level strategy, yang fokus dalam pembentukan dan pengembangan competetive advantage disemua lini bisnis perusahaan.
3. Functional level strategy, yang menjadi pendukung bahkan baseline untuk pelaksanaan 2 strategi yang lain, contohnya seperti strategi pemasaran, strategi HRD, dan strategi penelitian dan pengembangan (RND).[ ]

Kemampuan dalam manajemen strategis, merupakan salah satu faktor penting yang mempunyai peran sebagai desainer bisnis sekaligus sebagai bahan rujukan dan petunjuk umum operasional perusahaan. Semua kebijakan dalam perusahaan idealnya merupakan turunan dari kerangka manajemen strategis yang dirumuskan oleh semua pihak yang berkepentingan dan berhak dalam penentuan keputusan dan kebijakan perusahaan. Hal ini merupakan pondasi dasar kebijakan perusahaan.

Namun sayangnya, untuk perusahaan skala kecil, kemampuan ini masih kurang di gali. Sehingga, kebijakan yang dilaksanakan umumnya kebijakan insidental, sehingga bentuk perusahaannya menjadi seperti organisasi tanpa bentuk tapi terstruktur, dalam artian peusahaan menjadi jenis perusahaan yang oportunis jangka pendek, tidak mempunyai rencana jangka panjang. Perusahaan-perusahaan tipe inilah yang tingkat resistansi terhadap gangguan dari luar berada dalam tingkat yang rendah, dan mudah goyah. Hal ini diakibatkan tidak adanya rencana dan strategi jangka panjang untuk menghadapi ancaman dari luar yang mungkin terjadi.

Dalam penyusunan manajemen strategis yang dituangkan dalam bentuk bisnis plan, harus pula menyertakan analisis internal dan ekstenal yang menjadi kekuatan dan kelemahan perusahaan yang bisa menghambat kemajuan perusahaan, beserta solusi untuk memperbaikinya. Beberapa faktor yang bisa menghambat perkembangan perusahaan diantaranya adalah [ ] :
1. Kekurangan informasi terkait pelaksanaan kerjasama dengan instansi lain.
2. Kekurangan capital dan SDM dalam pengembangan produk
3. Rendahnya kualifikasi dan tidak adanya motivasi kerja (workforce)
4. Kesulitan dalam melakukan kerjasama riset dengan instansi pendidikan
5. Kurangnya fasilitas dan infrastruktur perusahaan
6. Kultur organisasi yang buruk
7. Kurangnya kepercayaan diri dalam melakukan kompetisi dan berinovasi
8. Terbatasnya kapasitas/ kompetensi
9. Konflik kepentingan baik internal maupun eksternal.
10. Tidak adanya visi bisnis yang holistik.

Kemampuan dalam penyusunan dan pembuatan rencana jangka panjang perusahaan yang umumnya dituangkan dalam bisnis plan, di era networked economy ini harus pula didukung oleh faktor yang lain dan tidak kalah penting, yaitu faktor impelementasi teknologi informasi dan sistem informasi yang mumpuni yang sejalan dengan kerangka bisnis plan yang telah dibuat. Hal ini karena dalam era networked economy, teknologi informasi tidak hanya sebagai pendukung terhadap kelangsungan bisnis, namun perannya sudah lebih jauh, yaitu menjadi sebagai enabler, yang mempunyai kemampuan untuk mendorong impelementasi bisnis dan adakalanya menjadi faktor strategis yang dijadikan sebagai bahan acuan penentuan keputusan kebijakan strategis perusahaan.

Implementasi Teknologi
Sebagaimana telah disinggung pada bagian manajemen strategis, kemampuan mengkombinasikan antara bisnis plan dan implementasi teknologi yang cocok dan sesuai dengan rencana kebijakan perusahaan, merupakan salah satu faktor yang bisa mendorong tumbuh dan berkembangnya perusahaan di era networked economy ini.

Alasannya sederhana, karena networked economy, menitikberatkan kemampuan mengakses dan penguasaan informasi yang cepat untuk bisa bersaing dalam ranah networked industry. Kemampuan penguasaan informasi ini menjadi tulang punggung untuk akselerasi perkembangan perusahaan dan faktor pertimbangan untuk mengekstrapolasi pola-pola penyimpangan yang mungkin terjadi, sehingga bisa diantisipasi lebih dini dengan alternatif solusi yang tepat.

Alasan inilah yang memicu peran teknologi informasi menjadi semakin besar, dari yang asalnya hanya sebagai pendukung menjadi salah satu faktor strategis dalam kebijakan perusahaan. Alasan ini pulalah yang mendorong implementasi teknologi menjadi memiliki pors yang cukup besar dalam pelaksanaan operasional perusahaan yang ditujukan untuk mendorong operasional perusahaan menjadi lebih efektif, efisien dan lebih baik lagi.

Yang harus diperhatikan dalam implementasi teknologi informasi adalah ketergantungan terhdapa produk dari pihak ketiga. Untuk jangka pendek ketergantungan ini tidak cukup berpengaruh signifikan, namun untuk jangka panjang, ketergantungan ini, secara tidak langsung membuat operasional perusahaan yang membutuhkan teknologi tersebut menjadi tergantung terhadap pihak ketiga tersebut, akibat lebih parahnya seakan-akan roda operasional tersebut berada dalam genggaman penyedia produk teknologi informasi tersebut.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu mekanisme yang sistematik dan terencana untuk merubah orientasi implementasi teknologi informasi, dari technology sourcing menjadi knowledge management. Artinya perusahaan diposisikan bukan hanya sebagai pengguna, namun ada proses pembelajaran terhadap teknologi yang diterapkan di perusahaan tersebut dan kaitanny dengan proses bisnis diperusahaan tersebut. Hal ini untuk mengantisispasi perubahan teknologi yang cepat berkembang, sehingga dengan adanya pemahaman dan pengetahuan terhadap teknologi ini, maka perusahaan tidak serta merta mengupgrade sistem demi mengejar versi teknologi terbaru, namun disesuaikan dengan proses bisnis yang berjalan. Jika tidak terlalu kritis, upgrading sistem yang mempunyai resiko tinggi bisa dihindari. Atau lebih jauhnya impelementasi teknologi yang dibutuhkan berasal dari internal perusahaan, bukan dari tawaran pihak luar.

Implementasi bisnis plan dan teknologi informasi merupakan tahapan yang akan dijadikan sebagai rujukan dalam operasional perusahaan. Sukses atau tidaknya implementasi kedua faktor diatas bisa dilihat dengan menganalisis kinerja perusahaan. Untuk bagian operasional akan dibahas tersendiri pada bagian Operasional perusahaan.

Operasional Perusahaan
Sukses atau tidaknya implementasi bisnis plan dan implementasi teknologi disebuah perusahaan bisa dilihat dari kinerja operasional perusahaan. Jika kinerjanya meningkat , lebih efektif, efisien dan produktif, maka secara kast mata bisa dikatakan bahwa implementasi bisnsi plan dan teknologi yang diinvestasikan oleh perusahaan berhasil dengan baik.

Operasional perusahaan merupaka ujung dari proses perencanaan dan impelementasi kebijakan strategis perusahaan yang melibatkan setiap unsur strategis perusahaan. Dalam perusahaan yang memupnya sistem yang sudah matang, pelaksanaan operasionala perusahaan mengacu seluruhnya ke bisnis plan yang telah dibuat pada tahapan penyusunan strategi bisnis perusahaan perusahaan.

Dalam operasional perusahaan, poin-poin yang dijadikan ujukan harus melewati tahapan, analisis yang cukup rumit dan memerlukan pemikiran yang mendalam. Data-data yang dihasilkan dari pengamatan operasional perusahaan akan dijasikan sebagai bagan perimbangan untk pengambilana kebijakan perusahaan selanjutnya. Salah satu tahap anaisis data-data ini dipakai dalam risk management. Resiko (Risk) adalah sebuah konsep yang menyatakan negative impact dari beberapa nilai yang mungkin muncul sebagai akibat dari proses yang akan terjadi[ ].

Hasil dari analisis resiko ini nantinya dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk :
a. Analisis pola umum resiko yang mungkin terjadi
b. Fokus pada penangan resiko yang mempunyai tingkat resiko paling tinggi
c. Membantu penentuan aksi yang akan dilakukan jika salah satu resiko terjadi.

Data-data hasil penilaian dibagian operasional akan dijadikan input untuk menentukan stragei perusahaan kedepan. Dari pola ini terlihat, terjadi siklus yang berkelanjutan dan tidak terputus antara proses perencanaan yang menghasilkan rencana strategis perusahaan yang akan dijadikan sebagai petunjuk pelaksanaan operasional perusahaan, yang input datanya salah satu sumber terbesarnya adalah data-data hasil evaluasi operasional itu sendiri. Informasi ini sangat berharga bagi kelangsungan perusahaan.

Kesimpulan
Dari uraian diatas, bisa diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Di era networked economy , alignment antara manajemen strategis, implementasi teknologi dan operasional perusahaan merupakan faktor yang mendorong kelangsungan sebuah perusahaan.
2. Proses perencanaan strategi, impelementasi teknologi dan operasional perusahaan merupakan siklus tertutup yang berkelanjutan.

A. Ahmad Kusumah
(27 Oktober 2009, Setiabudi, 01:09 WIB)

Categories: Teknologi Informasi, Umum

Potensi Diri vs Kemapanan

January 10, 2010 Leave a comment

Hidup itu memang memerlukan tantangan ….
hanya dengan adanya tantangan dan adanya tujuan yang ingin dicapai, hidup bisa lebih hidup dan bisa lebih bermakna .. sungguh bahagia orang yang tidak terjebak dalam zona kenyamanan semu, kenyamanan yang isinya hanya buaian yang membuat potensi diri kita terkubur bersama rutinitas homogen yang mendampingi hari demi hari .. Programmer dengan aktivitas codingnya, sekretaris dengan catatan schedulenya, dan tukang sortir surat kantor pos dengan palu capnya …

Tapi tidak bisa disalahkan begitu saja, hal itu diakibatkan oleh kebutuhan hidup yang terus mengegerogoti idealisme dan kesadaran akan potensi dirinya. Ketika dihadapkan dengan iming-iming kemapanan hidup dengan setumpuk dollar di hadapan, sungguh itu akan membuat orang bisa melupakan jati dirinya sendiri, jika tidak pandai-pandai melakukan instrospeksi dan membangunkan kembali fitrahnya sebagai hamba yang diberi kelebihan dibandingkan makhluk ciptaan Tuhan yang lain …

Namun apakah zona kenyamana itu selalu kontradiktif dengan pengembangan potensi ?, tentu tidak, banyak contohnya orang yang berkembang dari kesadaran akan potensi dirinya, kemudian mengembangakan cara-cara untuk memaksimalkan potensi dirinya, yang akhirnya bisa menggapai kemapanan hidup. Bill gates, Steve Jobs, merupakan contoh orang-orang yang bisa sekaligus menikmati zona kenyamanan sekaligus menikmati masa-masa memetik buah kesuksesan sebagai akibat langsung dari kesadaran akan potensi diri yang ditindaklanjuti dengan aksi nyata, yang tentunya dengan segala macam bentuk rintangannya…

Steve jobs, merupakan contoh yang bisa mewakili karakteristik itu semua, ketika dia bisa menikmati hasil dari jerih payahnya dalam pemngembangan komputer apple bersama steve wozniak, kemudian mengalami kemunduran dan dipecat dari apple, yang notabene perusahaan yang dia dirikan sendiri, kemudian bangkit dengan perusahaan animasi Pixar yang menelurkan Monster Alien dan sekarang bergabung dalam kendaraan Disney, dan pada akhirnya dia direkrut kembali oleh apple sebagai CEO untuk menikan pamor apple yang turun drastis di akhir 90-an, dan lewat tangannyalah, lewat potensi yang dimilikinyalah akhirnya apple bisa kembali menjadi salah satu pemain besar yang disegani di dunia pengembangan IT, dengan terobosan ipod, iphone, mac book dan lain-lain …

Terispirasi dari itu semua, tekad semakin kuat untuk jadi seorang yang mampu mengendalikan diri dan potensi yang dimiliki, bukan menjadi orang yang dikendalikan oleh potensi orang lain ……

Categories: Umum

Liferay at glance [realPath problem]

January 7, 2010 1 comment

Sometimes on portlet development, we need to write and read file inside WEB-INf folder …

if we use tomcat as web apllication server, liferay automatically create context.xml on META-INF folderwith the following content :

antiJARLocking=”true”
antiResourceLocking=”true”

The fact that application is ran from temp folder is most likely due to configuration in META-INF/context.xml (see Tomcat docs for more information about in this subject).
so if invoke the following code to get real path :

PortletUtils.getRealPath(getPortletContext(), “”)

it will return temp folder, not webapps folder.

to avoid this thing happen, change context.xml above with the following line :

antiJARLocking=”false”
antiResourceLocking=”false”

then restart the application server.

this will solve the realpath problem, and now the application will return webappas folder not temp folder …

(tested on liferay 5.2.3, tomcat 6.0.18)

Categories: Java