Archive

Archive for September, 2012

Ceritapun Dimulai …

September 24, 2012 2 comments

Ini adalah permulaan dari sebuah cerita ….

ini adalah permulaan dari petualangan ….

ini adalah permulaan dari langkah ….

ini adalah potongan mozaik kehidupan ….

ini adalah awal dari permulaan dari sebuah akhir …

————————————————————————————

Dan Apipun Menyala

Bismillah ….

Hembusan angin menerpa wajah-wajah yang kuyu, kusut masai, semburat cahaya merah menyembur dari ufuk barat, mengiringi tenggelamnya rasa damai dalam suasana terang ditengah hiruk pikuknya, hilir mudiknya hamba-hamba mengejar segala asa dan cita.

Jakarta, ibu kota negara, pusat segala asa namun penuh dengan gejolak dan suasana yang kadang lebih sering memberikan nestapa bagi sebagian pengadu nasib yang terlalu terbuai dengan indahnya kata metropolitan kota sejuta harapan, tempat semua kesempatan hidup terbuka.

Hari itu, entah hari apa, entah jam berapa, entah menit atau detik yang keberapa, yang teringat hanya suasana seperti itulah yang selalu dirasa ketika kaki gontai melangkah menuju tempat berlindung dari dingiinya malam, tempat untuk melepas lelah setelah seharian berkutat dengan tugas yang membebani, mencoba untuk selalu bertahan dan menumbuhkan optimisme, hari esok mungkin tidak akan seberat hari ini ….

Tidak terasa, kalau dihitung, entah berapa langkah den jejak yang dibuat ketika menyusuri lorong-lorong pengap perkampungan ibukota , sebuah slump area yang sangat kontras ketika membandingkan dengan kawasan pusat bisnis yang jaraknya hanya 300 meter di depan ….

Kontras sungguh kontras, ketika kawasan bisnis dihiasi dengan rangkaian bunga yang selalu terlihat segar sebagai pembatas jalan protokol, thamrin namanya dengan sarinah sebagai landmark tanda kekuatan bisnis pertama yang muncul di pusat ibu kota, dan bundaran hotel indonesia, yang sekarang berubah dengan embel-embel kempinsky sebagai pusat perjuangan untuk melepaskan ekpresi ketidakpuasan akan ketidak adilan di negara ini, pinggir-pinggir jalan yang di penuhi dengan gedung pencakar kangit menjulang tinggi, menera eksekutif, skyline buillding, menara thamrin, wisma kosgoro dan Plaza indonesia sebagai landmark baru, yang katanya sebagai pusat perbelanjaan terlangkap, yang sayangnya hanya diperuntukan bagi orang yang tidak pernah merasakan betapa susahnya mendapatkan sebungkus nasi kering dengan lauk garam dan sepotong tempe bongkrek sisa kemarin malam.

Namun kawan, coba tengok tiga ratus meter dibelakang gedung-gedung tersebut, lorong pengap, bau tempat anak-anak kecil berlari-lari menangkap masa kecil mereka, tempat tikus-tikus got berseliweran berebut jalan dengan manusia penghuni ibukota yang kadang hanya bisa termangu, menggerutu dan marah –marah akibat merasa ketidak adilan hidup yang mereka rasakan. Ketika orang berjas berlalu lalang dengan rasa pongah meneriakan kesombongan dengan gelegar klakson penyumbang polusi ibukota, meraka, orang pinggiran itu harus susah payah berjalan perlahan di trotoar kusam yang sebagain besar direbut pengendara roda .. jakarta oh jakarta …

Ah … tapi buat apa mengumpat, itu hanya menunjukan ketidak mampuan dan iri hati dan hasad yang tidak ada dasarnya, toh .. dengan tidak mengumpatpun hidup ini sudah terasa berat.. mungkin itulah satu-satunya penghibur penghuni slump area di tengah ibukota untuk mendinginkan dan menurunkan tensi emosi yang tidak jelas ujung pangkalnya, namun satu yang jelas, disebabkan ketidak becusan penguasa negeri yang hanya memikirkan kondisi real makro ekonomi tanpa melihat kondisi real mikro yang terjadi dimasyarakat .. tidak peduli berapa orang lagi masyarakat negara yang subur ini yang lahir dalam penderitaan hidup, yang mereka pedulikan Cuma bagaimana menaikan pamor negeri dengan mengutak-atik pertumbuhan ekonomi 3 digit yang sebenarnya hanya dinikmati sebagian kecil penduduk negeri ini, kalangan borjuis, kapitalis dan opportunis bengis yang mengais rejeki diatas tumpukan penderitaan proletar, sapi perah yang dibodoh-bodohi dengan janji-janji kemakmuran yang hanya tinggal janji tanpa realisasi …

Kawan, kau mungkin bertanya, kenapa aku peduli, kenapa aku tahu realitas kehidupan di ibu kota yang katanya lebih kejam dari pada ibu tiri …. Jawabnya, .. yah mungkin aku sotoy , sok tahu sok peduli sok kritis, tapi satu yang pasti pemikiran dan pendapat itu muncul akibat pengulangan dan pemahaman sebuah pengalaman hidup, yang walau tidak terasa sudah ku jalani menjelang 12 bulan setelah pertama kali semenjak aku memutuskan meninggalkan hiruk pikuk kehidupan kampus, meninggalkan kenangan hidup yang penuh dengan liku dan perjuangan anak manusia dalam menggapai cita menempatkan diri di jajaran manusia yang katanya ‘berpendidikan ‘….

Hampir setiap hati selama 12 bulan ini ku susuri jalan yang sama, kompleks yang sama suasana yang sama bahkan jalan yang sama, sehingga kalo dihitung jejak langkahku dengan asumsi 1 hari ku berjalan kaki bolak balik tempat kerja 4 KM, berarti 4 * 12 * 30 = 1440 KM sudah ku lewatkan kakiku menginjak tempat yang hampir sama dengan 4 * jarak bandung jakarta. Yah mungkin juga kau akan langsung protes, aku terlalu menggenalisir keadaan, tidak semua tempat di ibu kota seperti itu … yah mungkin sample yang ku buat terlalu sempit dan sedikit, tapi tetap mempunyai probabilitas kebenaran kan ? walupun hanya sepersekian ratus dari ‘kebenaran’ versi yang lain.

Sudahlah kita gak usah berdebat tentang hal itu, itu realitas yang bisa dibantah jika engkau berada di sisi penguasa negeri, lengkap dengan hasil statistik yang ntah ‘kebenarannya’ berepa persen mereka mengklaim telah memajukan dan mensejahterakan negeri ini …

Oh iya kawan, hari ini aku ingin menyampaikan sesuatu, sesuatu hal yang aku butuh pendapatmu, pendapat seorang sahabat yang ku percaya. Aku tahu aku bukanlah sahabat terbaik mu, mungkin malah aku adalah sahabat yang paling jelek yang kau punyai .. tapi ku berharap engkau mau membantu masalahku ini, aku sudah pusing, penat dan kehilangan arah mencari pemecahannya ….

Masih ingatkah engkau akan kisahku beberapa waktu yang lalu, kisah saat keberanianku muncul untuk berkata ya .. jujur kepada diri, jujur kepada kehendak hati. Justru bermula dari hal itu sekarang aku terjebak dalam lingkaran ketidak pastian antara melanjutkan atau berjuang untuk terus maju menumbuhkan optimisme dibelantara pesimisme …

Saat itu pikiranku tanpa bisa ku kontrol mengajukan sebuah hipotesis asumsi yang sangat dipaksakan, hipotesis bahwa itu semata-mata hanya untuk sebuah status dan komitmen. Sungguh naif, memang sangat naif, setelahnya aku sungguh malu, malu terhadap kekhilafanku dan ketidakmampuanku mengendalikan pikiranku sendiri .

Semenjak saat itu ku berjalan mundur perlahan, mengurangi sedikit demi sedikit harapanku, aku menilai sungguh tidak pantas lintasan pikiran itu terkontar .. tidak pantas karena dangkalnya pikiranku …. mulailah rasa bersalah dan marah bercokol dalam dada …

Hari berganti, minggu berlalu dan bulan datang dan pergi, kucoba memadamkan bara api yang terlanjur menyala, Ternyata aku salah, aku tetap tidak bisa menghilangkannya … ku coba dengan segala cara,namun itu semua tidak membuat hal ini pudar.. aku tetap terikat dan terkungkung sangkar bara …

Dan cerita ini pun dimulai …..

 

Jakarta, 24 September 2012

JWeBs Tower

 

A. Ahmad Kusumah

Advertisements

Mencoba Bercerita (Inspired by Monte Cristo)

September 19, 2012 Leave a comment

Count Of Moste Cristo

Akhirnya selesai juga memelototi baris demi baris, halaman demi halaman, lembar demi lembar, salah satu novel sastra besar abad ke 19 Count Of Monte Cristo karya Alexandre Dumas (jangan salah baca). Sebuah novel dengan latar belakang pengkhianatan, cinta dan pembalasan yang tentu saja diakhiri dengan ending yang sudah bisa ditebak namun tetap membuat penasaran.

Gaya penuturan yang sederhana, enak untuk dicerna namun sarat akan makna menjadi salah satu ciri khas dari novel ini. Ada beberapa paraghrap yang membutuhkan pemahaman berulang-ulang dengan karakter novel satra yang begitu kental namun masih bisa dinikmati oleh orang-orang yang tidak terlalu menyukai novel jenis ini. Namun disarankan untuk membaca novel impornya daripada versi terjemahan indonesianya, karena emosi yang terbentuk akan lebih kuat ketika membaca versi aslinya (maksudnya inggris) jika dibandingkan dengan efek versi terjemahannnya yang mungkin karena susahnya mencara kata yang tepat sebagai padanan kata aslinya.

Cerita ini berkisar tentang jalan hidup seorang pemuda Edmond Dantes (Count monte cristo, Abe Busoni,Lord Wilmore, Sinbad the sailor) Mercedes Mondego de Morchef, Baron Danglars, Ferdinand Mondego (count de morchef), De Villefort dan Caredouse. Kisah ini dimulai ketika Edmond Dantes dikhianati ketika menjelang hari pernikahannnya, sampai menjadi korban persekongkolan sehingga mengantarkan dia mendekam dipenjara selama 14 tahun dengan tuduhan sebagai seorang partisan bonapartis. Dan dipenjara inilah justru menjadi titik balik kehidupan Edmond Dantes ketika mulai mengenal sosok Abbe Faria yang mengangkat dia sebagai anak angkatnya dan mengajarkan segala macam ilmu pengetahuan sampai rahasia besar yang mengubah Edmond Dantes menjadi seorang Sosok yang begitu dikagumi kelak, dengan jiwa yang dipenuhi oleh dendam kesumat kepada orang-orang yang telah menjerumuskan hidupnya dan keluarganya ke titik yang paling menyakitkan.

Untuk lebih jelasnya silahkan baca Novel ini, walaupun tidak seberat Quo Vadis nya Henryk Sienkiewicz, namun tetap menjadi tantangan karena alurnya yang saling berkaitan, maju mundur dan penuh dengan teka-teki yang akan terbuka ketika mendekati bagian akhir …

Terinspirasi dari novel ini, maka secara berkala akan menulis sebuah cerita yang sebenarnya sudah di susun sejak lama namun tercecer dimana-mana …. Semoga Bisa tetap bersemangat menulisnya … :D:D:D

 

Jakarta, 19 September 2012

JWeBs Tower

 

A. Ahmad Kusumah

PostgreSQL and Hibernate ‘Upper case’ problem

September 5, 2012 Leave a comment

Today,  i find out strange buggy problem on postgresql and hibernate integration implementation …

as an illustration, i have a table, named user with the following column

USER {

ID,

USERNAME,

PASSWORD

}

Then i create model according to current table as follow :

@Entity

@Table(name = “user”)

public class User implements Serializable {

private Integer id;

private String username;

private String password;

public User(){

}

public User(int id){

this.id = id;

}

@Id

@GeneratedValue(strategy = IDENTITY)

@Column(name = “ID”, unique = true, nullable = false)

public Integer getId() {

return id;

}

..

..

..

But, the strange problem appear when the query invoked, the following problem arises .

error

error

“column this_.ID doesn’t exist “

after several time debugging and try new different configuration, the solution is just convert all column name in user table and table name into lowercase.

and my table now is like this :

user{

id,

username,

password

}

and also the model change to lower case in annotation mapping declaration ..

@Id

@GeneratedValue(strategy = IDENTITY)

@Column(name = “id”, unique = true, nullable = false)

 

Jakarta, 5 September 2012

JWeBs Tower

 

A. Ahmad Kusumah

 

Categories: Database, Java Tags: , ,