Archive

Archive for November, 2010

Komitmen, Kerjasama, Communication, Satisfaction …

November 29, 2010 Leave a comment

Pelajaran yang sangat mahal yang diperoleh hari ini.
Dalam bisnis, Trust adalah hal yang mahal, sekali kita kehilangan trust, maka dipastikan kita akan kolaps dengan sukses.

Komunikasi adalah ujung tombak dalam bisnis.

Dalam dunia bisnis, setiap pakta kerjasama antara bisnis to bisnis, secara hukum dan umum
diikat dalam bentuk kerjasama yang dituangkan dalam bentuk kontrak, yang merepresentasikan
komitmen kedua belah pihak dalam melakukan kewajiban dan mendapatkan hak-haknya sesuai dengan posisinya masing-masing.

Kerjasama antara manufaktur dan distributor, kewajiban manufaktur adalah menyediakan barang yang akan didistribusikan, sedangkan distributor berkewajiban membayar barang yang diambil dari manufaktur. hak manufaktur adalah memperoleh pendapatan dari barangnya, sedangkan distributor berhak untuk mendapatkan barang sesuai dengan apa yang telah dituangkan dalam
perjanjian kerjasama dengan pihak manufaktur.

Kerjasama antara konsultan dan client, juga diikat dalam bentuk kerjasama (kontrak). konsultan memberikan jasanya kepada client sesuai dengan kebutuhan yang diminta client, dan client wajib memberikan apresiasi terhadap apa yang diberikan konsultan. begitupun sebaliknya. hak-hak biasanya kebalikan dari masing-maing kewajiban yang berlawanan arah.

Pertanyaan pertama yang muncul:
mengapa harus dibuat perjanjian kerjasama ?
jawabannya sederhana, karena kedua belah pihak membutuhkan aspek legal formal yang dijasikan sebagai landasan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan, berikut punishment atau rewards nya jika salah satu pihak tidak bisa menjalankan kewajibannnya.

Perjanjian kerjasama, adalah bentuk komitmen antara kedua belah pihak dalam melakukan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. komitmen inilah yang dijadikan acuan untuk mengukur sejauh mana tingkat hubungan yang terbentuk antara kedua belah pihak. apakah bersifat decoupled, loosely coupled atau tight coupled.

Decoupled terjadi ketika komitmen ini benar-benar tidak bisa dijalankan, apakah itu disebabkan oleh tidak dipenuhinya kewjiban oleh salah satu pihak, ataupun malah kedua belah pihak.

Loosely coupled, terjadi jika dalam kerjasama masih ada komitmen yang dijalankan, walaupun dalam prakteknya ada beberapa yang tidak bisa dijalankan. fase loosely coupled ini bisa menjadi decoupled atau menjadi tight coupled, tergantung kemauan kedua belah pihak untuk mengkonsolidasikan kembali komitmen yang telah dibuat.
Tight coupled terjadi jika kedua belah pihak sama-sama menjalankan komitmennya sesuai dengan apa yang telah dituangkan dalam perjanjian kerjasama.

Decoupled terjadi bisasanya jika dari awal, perjanjian yang dibuat memiliki kelemahan, seperti tidak jelasnya batasan kewajiban dan hak, sehingga secara aspek legal bisa ditafsirkan berbeda-beda.
Loosely coupled terjadi, jika ternyata dalam perjalanan terjadi hal-hal yang tidak diprediksi diawal perjanjian yang menyebabkan salah satu atau sebagian komitmen tidak bisa di lakukan oleh salah satu atau kedua belah pihak.
Tight coupled, terjadi kalau dari awal, semua hala-hal yang bersifat future diprediksi, sehingga jika hal tersebut terjadi, sudah dituangkan bagaimana mengatasinya. yang paling penting, adalah perjanjian kerjasama ini harus disepakati oleh kedua belah pihak.

yang sangat penting lagi
Mulailah pekerjaan setelah perjanjian kerjasama tersebut disepakati, sehingga aspek hukumnya jelas.

Harus diperhatikan, bahwa rekan kerjasama pada dasarnya adalah client. perlakuannya sama seperti perlakukan client, konsep customer satisfaction harus tetap diterapkan. Namun mengenai konsep customer satisfaction, ada hal yang perlu kita ingat juga, membuat costumer satisfied jangan sampai mengorbakan diri kita sendiri, tetap harus berimbang. Ikutilah semua komitmen yang telah dibuat, termasuk kewajiban-kewajiban yang ada dalam komitmen tersebut. namun, tetap kita harus memperjuangkan juga hak yang harus kita terima, jangan sampai berat sebelah. Dalam hal ini, dalam prakteknya, bisa membuat sebuah kerjasama masuk kedalam fase loosely coupled.
Yang harus tetap kita lakukan adalah berkomunikasi dengan pihak pembuat komitmen, dan harus dilakukan dengan komunikasi yang baik, jangan sampai malah menjadi blunder yang memperburuk keadaan. ini yang dipelajari hari ini, gara-gara cara komunikasi yang salah, akhirnya terjadi kesalahan persepsi yang impactnya sangat besar.

Namun jika setelah dikomunikasikan dengan baik, ternyata masih juga tidak mencapai titik temu, maka skenario paling buruk adalah Breaking Contract (membatalkan kerjasama).
Sebuah perjanjian kerjasama bisa dibatalkan, jika terjadi kondisi sebagai berikut :

  • salah satu pihak dalam perjanjian kerjasama mungkin dengan kata atau tindakan menunjukan bahwa perjanjian tersebut tidak lagi mengikat dia, sehingga bisa dianggap sebagai pelanggaran kerjasama.
  • penyebab poin ini terjadi jika :
    a.  Salah satu pihak dalam perjanjian meninggalkan kewajiban kerjasama.
    b.  Performa salah satu pihak tidak memungkinkan untuk memenuhi kewajiban dan hak dalam isi perjanjian
  • Salah satu pihak melakukan cara-cara untuk menyangkal kewajibannnya yang ada dalam perjanjian.

Namun pada akhirnya, breaking contract harus dihindari jika tidak terpaksa untuk melakukannnya. Gunakan pendekatan yang lebih humanis, karena kerjasama dalam bisnis asumsinya adalah kerjasama jangka panjang yang saling menguntungkan.

Jakarta, 30 November 2010

A. Ahmad Kusumah

Categories: Umum Tags: , ,

Bisnis Inteligence dalam Cloud Service … (Paper DMBI)

November 27, 2010 Leave a comment

Tugas Paper

Data Mining Dan Business Intelligence

Dosen : Yudho Giri Sucahyo Ph.D

Aah Ahmad Kusumah (0806 482 863)

 

I. Pendahuluan

Perkembangan dunia industri dalam beberapa tahun ini semakin pesat. Perubahan orientasi dunia industri dari yang asalnya menganut konsep industrial economy sampai tahun 90-an, perlahan tapi pasti mulai bertransformasi ke arah networked economy. Salah satu ciri dari networked economy yang paling menonjol adalah semakin besarnya peran informasi. Siapa yang menguasai informasi, maka pihak tersebut yang paling berpeluang untuk mengembangkan organisasinya. Ini berlaku baik itu untuk organisasi profit maupun non-profit.

Pemicu transformasi orientasi industri ini salah satu penyebab yang mempunyai peran yang signifikan adalah perkembanga teknologi yang berhubungan dengan pertukaran informasi secara khusus dan segala bentuk teknologi yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan dan penyebaran informasi pada umumnya. Perkembangan teknologi informasi juga mendorong perkembangan industri disuatu negara menjadi lebih cepat dan menjadi lebih subur. Hal ini disebabkan oleh perubahan paradigma dalam dunia industri, yang pada masa kejayaan industrial economy disokong oleh ekonomi kapitalis, menjadi kemampuan untuk mengumpulkan, mengolah dan memanfaatkan informasi pada iklim networked economy.

Dalam peta pasar industrial economy, tantangan yang sangat kritis adalah manajemen kompetisi standar teknologi yang akan digunakan untuk mendominasi teknologi[[1]], yang secara langsung akan mempengaruhi market share. Namun, hal itu masih kurang, karena dalam networked economy yang dimulai akibat adanya transparansi informasi, yang memiliki peranan penting adalah yang memiliki informasi (knowledge), bukan hanya penguasaan teknologi. Hal ini secara langsung mengubah peta industri dari konsep menjual brand menjadi menjual ide. Namun ide saja tidak cukup tanpa didukung oleh kemampuan untuk menganalisis fenomena bisnis internal maupun eksternal dan menjadikannya informasi yang cepat dan akurat sebagai bahan dalam memutuskan strategi perusahaan kedepannya dalam menghadapi kompetisi.

Berawal dari hal itulah, maka timbul kesadaran untuk memanfaatkan data-data perusahaan yang asalnya hanya diperlakukan sebagai arsip, menjadi sebuah sumber informasi untuk menganalisis keadaan perusahaan dan memetakan kebijakan-kebijakan strategis berdasarkan informasi tersebut. Maka berkembanglah suatu bagian dari teknologi informasi yang disebut sebagai business intelligence.

Secara umum, karakteristik business inteligence adalah sebagai berikut :

a.       Kemampuan untuk menampilkan data yang cepat dan akurat.

b.      Mempunyai kemampuan untuk menampilkan historical data.

c.       Memiliki kemampuan untk menampilkan data secara real time dari berbagai sumber data

d.      Memiliki fitur pelapotan yang komprehensif dengan tingkat akurasi yang tinggi.

e.       Memiliki kemampuan untuk menampilkan hasil analisis yang bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan decission maker dalam pengambilan keputusan strategi bisnis.

f.       Memiliki stabilitas, availability dan reliabilitas yang mumpuni.

Pembahasan mengenai business intelligence akan dibahasa kembali lebih rinci pada bagian tersendiri dari tulisan ini.

Permasalahan yang menjadi kendala dalam penerapan business inteligence adalah kecenderungannya memiliki up-front cost yang besar. Hal ini karena kebutuhan dalam pembangunan sebuah sistem business intellligence yang cukup memakan biaya yang disebabkan oleh kebutuhan dasar dalam pengembangan sistemnya. Hal inilah juga yang menyebabkan teknologi yang mendukung business intelligence masih masuk dalam kategori high and expensive.

Untuk mengatasi kendala ini, seiring dengan tumbuhnya teknologi yang mendukung cloud service, maka diajukan sebuah solusi untuk menggabungkan atau mengimplementasikan business intelligence dengan menggunakan cloud service. Mengenai cloud service akan dibahas pada bagian tersendiri.

Secara umum yang menjadi permasalahan utama yang akan dibahas pada tulisan ini terkait dengan pertanyaan :

1.      apakah Business intelligence bisa diimplementasikan pada layanan cloud ?

2.      apakah dampak yang ditimbulkan akibat implementasi Business intelligence pada layanan cloud?

3.      bagaimana cara untuk meminimalkan resiko implementasi Business intelligence pada layanan cloud?

II. Business Intelligence

Secara etimologi, business intelligence berkaitan dengan proses perubahan, pengolahan data-data yang dimiliki oleh perusahaan menjadi informasi yang hasilnya akan dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan keputusan untuk kepentingan bisnis.

Mengingat bahwa implementasi sebuah sistem business intelligence sebagaimana telah disinggung pada bagian pendahuluan tulisan ini cenderung membutuhkan biaya yang sangat besar, maka sebelumnya perlu diperhatikan faktor-faktor yang mengindikasikan kebutuhan untuk implementasinya. Karena ada kalanya, sebuah perusahaan cukup mengandalkan OLTP biasa untuk membantu pengambilan keputusan, dan dirasa tidak perlu untuk implementasi sistem business intelligence.

Dalam buku [2], disebutkan beberapa kriteria dan faktor yang harus diperhatikan sebelum business intelligence diimplementasikan :

a.       Informasi seperti apa yang dibutuhkan ?

b.      Untuk tujuan apa analisis bisnis dilakukan ?

c.       Keputusan bisnis seperti apa yang akan dilakukan ?

d.      Apakah akan mempengaruhi core bisnis perusahaan ?

e.       Berapakah nilai bisnis value yang diharapkan ?

f.       Dengan perubahan apakan hal-hal tersebut ingin dicapai, dengan perubahan orang, perubahan proses atau perubahan teknologi ?

Hal ini juga dilakukan untuk mengindentifikasi dan menganalisis alignment antara strategi bisnis dan strategi TI terkait implementasi sistem business intelligence. Hal ini untuk mencegah terjadinya pemborosan anggaran yang tidak sesuai dengan peruntukannya yang pada akhirnya akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.

Dalam implementasinya, busines intelligence tetaplah hanya berfungsi sebagai alat yang membutuhkan input data. Akurat atau tidaknya hasil analisis dari business intelligence tergantung kualitas data yang dijadikan sebagai inputnya. Dalam hal ini, business intelligence menganut konsep garbage in garbage out.

Gambar 1. Business Intelligence flow

Dalam penyediaan data input, keberadaan sebuah data warehouse merupakan sebuah hal yang sangat dianjurkan walaupun bisa saja menjadikan transactional data menjadi input. Hal ini disebabkan oleh karakter datawarehouse bersifat non-volatile dan time variant, sehingga komparasi data hasil analisis dari waktu kewaktu bisa dilakukan dan terus terjaga. Hal ini juga untuk menjaga performa dari sistem business intelligence itu sendiri, terkait dengan pemrosesan di level data source.

Dalam perkembangannya, business intelligence juga mengkombinasikan antara kemampuan data mining, artificial intteligence dan statistik semisal analitic hirarki process agar bisa menghasilkan suggestion yang valid dan menghasilkan proses yang lebih adaptif dalam pengolahan datanya.

I. Cloud Service

Istilah cloud, sebagaimana dalam istilah cloud computing, berasal dari simbol cloud pada sebuah topologi jaringan, yang lebih sering digunakan sebagai simbol untuk internet.

Mengenai pengertian cloud itu sendiri, secara luas bisa diartikan sebagai semua sumberdaya yang berhubungan dengan komputasi atau perangkat lunak yang berada diluar firewall [1]. Menurut pengertian ini, semua sumberdaya yang berada diluar firewall perusahaan dikategorikan sebagai cloud, termasuk juga penggunaan sumberdaya yang berasal dari mekanisme outsourcing.

Dalam pengertian yang lebih sempit, cloud didefinisikan sebagai infrastruktur berbasis jaringan, software dan kapasitas sebagai penyedia sumberdaya bagi user pada sebuah lingkungan tertentu sesuai dengan permintaannya. Cloud menyediakan komputer virtual yang memeberikan kemampuan kepada user untuk mengoperasikannya sesuai dengan kebutuhan, dan pembayarannya sesuai dengan penggunaannya [2].

Dari kedua pengertian diatas bisa dikatakan bahwa cloud adalah sebuah layanan yang memberikan layanan kepada user dalam penyediaan sumberdaya yang dibutuhkan oleh user dengan memanfaatkan koneksi jaringan, dengan menggunakan mekanisme pay on usage. Bentuk layanan yang disediakan bisa berupa infrastruktur ataupun software. Tipikalnya, layanan cloud memanfaatkan web browser sebagai sarana untuk mengakses layanan yang disediakan oleh pemilik layanan.

Salah satu karakteristik yang utama dari cloud berdasarkan uraian diatas, adalah secara kasat mata user tidak mengetahui keberadaan ataupun lokasi hardware ataupun software yang digunakan untuk melayaninya, karena pada cloud, user membayar servicenya, bukan membayar software ataupun hardwarenya.

Beberapa tipe layanan yang disediakan cloud, diantaranya adalah :

1.      Utility computing

Yaitu penyediaan sumberdaya yang sistem pembayarannya berdasarakan penggunaanya.

2.      Software as a service (SaaS)

Yaitu aplikasi yang didistribusikan atau dikirimkan oleh pihak ketiga melalui browser.

3.      Platform as a service(PaaS)

Yaitu lingkungan development yang disediakan sebagai sebuah layanan yang berjalan diatas infrastruktur yang dimiliki oleh penyedia layanan.

4.      Web service in the cloud

API (application programming interface) yang menyediakan fungsionalitas melalui internet.

5.      Managed service Providers

Yaitu aplikasi yang disediakan untuk IT terpusat, seperti scan virus, anti spam dan monitoring jaringan.

6.      Infrastructure as a service (IaaS)

Yaitu infrastruktur disediakan oleh provider untuk kebutuhan user, seperti penyediaan virtualized privte server.

Dari kelima tipe layanan tersebut, yang dilakukan user hanya request layanan yang diinginkan, dan provider yang menyediakan semua sarana dan infrastrukturnya, sehingga bisa melayani kebutuhan user. Dalam hal ini lebih sering user tidak berinteraksi langsung dengan infrastruktur yang disediakan oleh provider, kecuali untuk layanan utility computing yang masih memungkinkan user bersentuhan langsung dengan infrastrukturnya.

Pendekatan dengan mekanisme cloud ini akibatnya tidak hanya mempengaruhi bagaimana cara penggunaan service, tapi juga mempengaruhi teknologi dan proses yang digunakan untuk membangun dan mengelola teknologi informasi pada perusahaan dan penyedia layanan. Hal ini juga akan secara langsung mempengaruhi resiko yang mungkin timbul, sehingga diperlukan sebuah mekanisme assesment resiko yang lebih dalam dan komprehensif, terkait faktor confidentiality, integrity, availability dan accountability dari data yang diolah dalam sistem cloud. Hal ini juga akan berdampak langsung kepada kebutuhan service level aggreement yang menyangkut hak-hak dan kewajiban antara user dan penyedia layanan yang lebih ketat.

Gambar 2. Cloud challenges  

Keberadaan SLA yang mencakup keempat aspek diatas merupakan sebuah keharusan. Hal ini terlebih sangat diperlukan jika menggunakan public cloud service. Dalam implementasinya, terdapat 5 buah tantangan seperti terlihat pada gambar 2, yaitu, terkait dengan :

1.      Pengelolaan keamanan dan resiko bisnis

2.      Menjaga tatakelola dan proses audit

3.      Flexibilitas dalam pemilihan penyedia layanan

4.      Mengelola service lifecycle

5.      Proses integrasi dengan IT dan proses bisnis.

Jika kelima buah tantangan tersebut bisa dihadapi, maka penggunaan layanan cloud dalam sebuah organisasi akan meningkatkan agility, mengurangi cost, dan adanya pembagian resiko yang diakibatkan oleh adanya threat dan vulnerabilities yang dimiliki oleh sistem penyedia layanan yang digunakan antara pengguna layanan dengan pihak penyedia layanan.

I. Business Intelligence dalam Cloud service

IV.1  Arsitektur dan Implementasi

Sebagaimana telah disinggung pada bagian sebelumnya, tingginya biaya yang harus disediakan dalam implementasi business intelligence bisa diatasi dengan cara membuat business intelligence berjalan dengan menggunakan layanan cloud.

Yang bisa digunakan sebagai sarana impelemtasi business intelligence dalam layanan cloud, adalah memanfaatkan tipe layanan Software as a service (SaaS). Dalam artian, provider menyediakan sistem business intteligence dan user hanya membayar layanannya saja, sehingga user tidak dibebani biaya pengadaan dan pengembangan business intelligence. Hal yang diharapkan dari penggunaan SaaS sebagai kendaraan Business Intelligence adalah agar layanan business intelligence tersedia bagi seluruh kalangan yang potensial, bukan hanya yang memiliki kapital yang besar saja.

Namun untuk solusi yang lebih komprehensif, kombinasi antara SaaS, PaaS dan IaaS bisa menjadi pilihan yang menjanjikan. hal ini didasarkan atas alasan jika SaaS saja, harus dipikirkan mekanisme data loadingnya, dan keamaan ketika transport data ke  layanan sistem business inteliigence. Dengan integrasi ketiga layanan SaaS untuk sisi aplikasi, PaaS untuk sisi platform dan IaaS untuk infrastruktur maka permasalahan diatas bisa diatasi dengan lebih mudah.

Yang harus dipertimbangkan juga dalam penggunaan cloud untuk penggunaan layanan business intelligence, adalah faktor :

1.      Data loading

2.      Keamaan data

3.      Service level agreement antara pengguna layanan dan provider

4.      Integrasi sistem cloud dengan sistem yang ada di internal perusahaan

5.      Kualitas provider

6.      Investasi vs keuntungan yang akan didapat.

Data loading terkait dengan mekanisme loading data input ke sistem business intelligence. Keamanan data terkait dengan confidentiality, dan integrity data. SLA terkait dengan pengaturan hak dan kewajiban antara penyedia layanan dan pengguna layanan. Integrasi terkait dengan interoperabilitas antara sistem cloud yang digunakan dengan sistem yang ada di internal pengguna layanan, hal ini terkait juga dengan mekanisme pertukaran data, pengolahan data dan distribusi data. Kualitas provider diperlukan untuk menghindari hal-hal yang bisa merugikan pengguna layanan akibat buruknya layanan yang disediakan. Yang terakhir, investasi dan keuntungan yang didapatkan dari penggunaan layanan business intelligence dengan menggunakan cloud, hal ini berkaitan dengan profitabilitas yang diinginkan oleh pengguna layanan sebagai akibat langsung dari penggunaan sistem business intelligence.

Gambar 3. Kombinasi SaaS, PaaS dan IaaS

IV.2 Assesment Resiko

Dalam kaitannya dengan assesment resiko sebelum memilih menggunakan layanan cloud untuk implementasi business intelligence, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut untuk menjaga faktor confidentiality, integrity, availability dan accountability dari data-data yang sangat mungkin bersifat kritis bagi perusahaan, langkah-langkah ini bersifat generic dan bisa diimplementasikan untuk implementasi selain business intelligence.

1.      Identifikasi aset-aset yang di deploy di layanan cloud

Yang dimaksud aset disini bisa dikelompokan secara umum menjadi 2 buah kelompok besar, yaitu :

a.       Data

b.      Aplikasi termasuk proses atau fungsi

2.      Evaluasi aset

Setelah Identifikasi, maka evaluasi dilakukan untuk mengukur resiko yang dikandung masing-masing aset, sehingga bisa dilakukan pemilahan aset-aset mana saja yang bisa di deploy di layan cloud, mana yang harus tetap berada di internal perusahaan.

3.      Menentukan model layanan cloud

Setelah mengidentifikasi dan mengevaluasi aset, maka langkah selanjutnya adalah menentukan model layanan cloud yang akan digunakan, apakah akan menggunakan public cloud, private cloud, atau hybrid.

4.      Mengevaluasi model layanan cloud dan provider.

Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi kelebihan dan kekurangan masing-masing model dan memilih yang cocok dengan kebutuhan.

Yang tidak kalah pentingnya, juga mengevaluasi providernya. Kedua hal ini akan sangat diperlukan untuk melakukan skenario penanganan terhadap resiko yang mungkin terjadi, apakah di mitigasi, dihindari atau di terima.

5.      Membuat data flow

Data flow disini, maksudnya adalah data flow antara layan cloud, sistem yang ada di internal perusahaan dan stakeholder lainnya yang berkaitan langsung dengan layanan yang dideploy di layanan cloud.

6.      Membuat SLA

Langkah yang paling terakhir adalah membuat Service Level Aggreement untuk mengakomodasi hasil-hasil analisis yang dilakukan pada poin-poin sebelumnya.

 

IV.3 Komparasi kelebihan dan kekurangan

Disamping perlunya menerapkan mekanisme assesment resiko dan pengelolaan yang lebih ketat, penggunaan layanan cloud dalam implementasi business intelligence jika dibandingkan dengan implemnasti di internal, bisa dilihat pada tabel berikut :

Cloud BI

Internal BI

Tidak memerlukan setup dan maintain server

Memerlukan sumberdaya IT untuk set up dan me-maintain server

Tidak memerlukan capital expenditure

Memerlukan capital expenditure

Dapat di deploy dengan cepat

Memerlukan sumber daya untuk membeli server, installasi dan konfigurasi software BI

Upgrade software ottomatis

Upgrade software harus manual

Dapat melakukan penambahan jumlah user yang diinginkan sesuai permintaan

Harus menambah kapasitas server dan memperbarui lisensi jika terjadi penambahan user

Dapat berhenti menggunakan layanan kapan saja.

Harus terus menerus membayar biaya perawatan sesuai dengan kontrak per tahun.

 

Table 1. Komparasi Cloud BI dan Internal BI [1],[2]

 

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa penggunaan layanan cloud untuk implementasi Business intelligence memiliki beberapa kelebihan diantaranya jika ditinjau dari sisi fleksibilitas, agility, adaptasi terhadap perubahan, mengurangi up-front cost, mereduksi biaya perawatan, dan mereduksi capital expenditure dengan syarat pengelolaan dan service level agreement dipenuhi.

 

Kesimpulan

Dari pembahasan dan uraian diatas, bisa ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Business intelligence bisa digunakan sebagai sarana pendukung dalam pengambilan keputusan strategis dalam perusahaan

2. Implementasi business intelligence bisa dilakukan dengan memanfaatakan layanan cloud

3. Implementasi Business intelligence dengan menggunakan layanan cloud lebih fleksibel, agile, adaptif, mengurangi up-front cost, mereduksi biaya perawatan, dan mereduksi capital expenditure .

Implementasi busines intelligence dengan layanan cloud memiliki resiko dan memerlukan penanganan yang lebih ketat untuk menjaga data-data perusahaan yang berkaitan dengan faktor confidentiality,integrity, availability dan accountability.


DAFTAR PUSTAKA
Arnaud X. Vare, Ralf W. Seifert. Third party provision Of Conversion Technologies in network  Markets. Journal of Technology Management and Inovation. 2009 Volume 4. Issue 2.
Wayne Eckerson .When SaaS and On-Premise Collide , TDWI Research 2009
Distributed Management Task Force .Interoperable Clouds. 2009
Steve Williams and Nancy Williams.The profit impact of business intelligence, Morgan Kaufmann 2007.
InfoWorld – “Cloud Computing Reality” , April 7, 2008
 

Cloud BI

Internal BI

Tidak memerlukan setup dan maintain server

Memerlukan sumberdaya IT untuk set up dan me-maintain server

Tidak memerlukan capital expenditure

Memerlukan capital expenditure

Dapat di deploy dengan cepat

Memerlukan sumber daya untuk membeli server, installasi dan konfigurasi software BI

Upgrade software ottomatis

Upgrade software harus manual

Dapat melakukan penambahan jumlah user yang diinginkan sesuai permintaan

Harus menambah kapasitas server dan memperbarui lisensi jika terjadi penambahan user

Dapat berhenti menggunakan layanan kapan saja.

Harus terus menerus membayar biaya perawatan sesuai dengan kontrak per tahun.

Ketika pencarian itu dimulai … (Bidadari Surga)

November 27, 2010 Leave a comment

Bismillah ….

Dengan menyebut Asma-Mu yaa Allah, kumulai langkah ini,
langkah menuju kesempurnaan agama yang Engkau Ridloi.

Yaa Ilaahi rabbi …
Diatas sajadah ini kutengadahkan tangan untuk seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari kehidupanku.
seseorang yang merupakan calon bidadarinya surga
seseorang yang menjadikanku menjadi orang kedua setelah Engkau dan Rasul-Mu
seseorang yang telah engkau ciptakan sebagai sebaik-baiknya perhiasan dunia
seseorang yang hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun hidup demi kemanfaatan dan kemaslahatan bagi umat-Mu
seseorang yang senantiasa mengingatkanku kepadaMu
seseorang yang sabar dikala senang dan susah
seseorang yang hanya berserah diri kepadaMu
seseorang yang hanya butuh senyumanku untuk mengobati kesedihannya
seseorang yang selalu mendampingiku dalam mengarungi samudera dunia
seseorang yang menjadi navigator atas bahtera rumah tangga
seseorang yang menyayangi keluarga dan suaminya karenaMu
seseorang yang menjadi Qurrata ‘ayuun bagiku sepanjang hidupku

Yaa Allah yang maha pemberi
Aku tidak berharap kesempurnaan didirinya
Aku tidak berharap dia semulia Fatimah Az-Zahra RA
aku tidak berharap dia sesholehah Rabiyah Al-Adawiyah
aku tidak berharap dia sekaya Khodijah RA
aku tidak berharap dia setaqwa Aisya RA
Aku hanya berharap sesorang yang asing diakhir jaman
Asing karena selalu taat kepada syari’ah dan agama Mu
Asing karena selaul menjaga dirinya dari pandangan penuh syahwat
Asing karena dia bangga menutup auratnya karenaMu
aku tidak berharap kesempurnaan karena aku sadar
aku bukanlah sosok seshaleh Abu Bakar Ash-Shidiq RA
aku bukanlah sosok segagah Umar Ibn Al-Khatab RA
aku bukanlah sosok sekaya Utsman Ibn Affan
aku bukanlah sosok setampan Ali ibn Thalib RA
aku hanyalah sesosok hamba yang selalu meminta kepadaMu
aku hanyalah sesosok hamba yang dianugerahi kesempatan untuk beribadah kepadaMu
aku hanyalah sesosok hamba yang diciptakan dari air yang hina
aku hanyalah sesosok hamba yang selalu berharap bimbinganMu agar selalu berada di jalan yang Engkau Ridloi

Yaa Allah yang menguasai isi hati
Kelak jika engkau pertemukan Aku dengan dirinya
Jadikanlah aku sebagai imam yang baik baginya
jadikanlah dirinya sebagai sandaran ketika aku sedang goncang
jadikanlah dirinya sebagai orang yang aku cintai karenaMu sepenuh-penuhnya kasih sayang
tumbuhkanlah wuddan di hati kami
jadikanlah kami menjadi keluarga didunia dan akhirat, keluarga yang engkau Restui dan ridloi

Yaa Allah Yang Maha Pemberi Petunjuk
Berikanlah aku jalan untuk menuju kepadanya
Bukakanlah selimut tabir rahasia yang menghalangiku berjalan menuju kepadanya
bimbinglah dirinya berjalan menuju waktu ketika engkau takdirkan aku bertemu dengannya dalam keridloanMu
Aku tahu, segala sesuatu akan lebih Indah jika engkau takdirkan waktunya
semua akan lebih indah ketika waktunya …

Yaa Muqallibal Quluub …
tegarkanlah qalbu ini, jangan jadikan nafsu menjadi kendali atasnya
berikanlah petunjuk dan bimbingan kepadanya agar senantiasa condong kepadaMu
agar selalu ikhlas atas semua keputusanMu

Laailaaha Illa Anta Subhaanaka Inni kuntu Minna Dzhalimiin…
Astagfirullah Alladzi laa ilaaha illa hua Al-Hayyu Al-Qayyum
Wa Atuubu ilaihi …

Jakarta, 27 November 2010

A. Ahmad Kusumah

Categories: Diary

Inilah aku ..

November 26, 2010 Leave a comment

Inilah aku ….

inilah aku, seorang hamba yang lahir ke dunia ketika dunia mencapai usia tuanya

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika buaian keduniaan semakin menampakan hegemoninya

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika syubhat menjadi disukai dan haram menjadi kebiasaan

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika banyak wanita menyerupai pria dan begitupun sebaliknya

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika banyak wanita menyukai jenisnya, dan pria menyukai bangsanya dengan dalih hak asasi manusia

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika ulama akhirat menjadi asing, dan ulama dunia menjadi populer

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika agama banyak diselewengkan dengan dalih ijtihad

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika banyak wanita yang berpakaian tapi telanjang (kasiyat ‘aariyat)

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika agama dikesampingkan dan pendidikan dunia dikedepankan

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika zina lebih disukai daripada jima’ yang halal

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika zina dipoles dengan istilah pacaran dan dianggap halal dengan dalih ta’aruf

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika surat kabar lebih disenangi daripada Al-Qur’an

inilah aku, seorang hamba yang tumbuh ketika kartun dan komik lebih disukai daripada sejarah kenabian

inilah aku, seorang hamba yang menyaksikan hilangnya keramaian surau oleh anak-anak yang belajar agama

inilah aku, seorang hamba yang menyaksikan orang tua berlomba-lomba membuat anaknya pintar dunia namun bodoh akhirat

inilah aku, seorang hamba yang menyaksikan ketika orang tua menjadi pembantu anak-anaknya

inilah aku, seorang hamba yang menyaksikan ketika kasih sayang orang tua dibalas dengan tuba

inilah aku, seorang hamba yang menyaksikan ketika anak berani menampar orang tuanya

inilah aku, seorang hamba yang menyaksikan ketika pernikahan hanya dijadikan mainan untuk kesenangan dunia saja

inilah aku, seorang hamba yang menyaksikan ghibah menjadi “halal” dengan kemasan berita

inilah aku, seorang hamba yang selalu mengharapkan kebaikan tapi sedikit sekali melakukan kebaikan

inilah aku, seorang hamba yang selalu meminta kepada Tuhan-nya namun masih lalai menghamba kepada-Nya

inilah aku, seorang hamba yang selalu berharap keindahan surga namun masih berjalan bersisian dengan neraka

inilah aku, seorang hamba yang selalu meminta bimbingan kepada Tuhan, namun sering lupa kepada-Nya

inilah aku, seorang hamba yang tidak akan lelah terus memohon pentunjuk kepada Tuhan Semesta Alam,mengharapkan kebaikan untuk diri dan keluarga, berusaha untuk menjauhkan diri dan meraka dari api neraka

inilah aku, seorang hamba yang lemah yang selalu meminta agar bisa menjalankan syaria’ah dan sunnah dengan sebaik-baiknya

inilah aku, seorang hamba yang mengharapkan bisa hidup bersama bidadari surga (Wanita Shalehah) di dunia dan akhirat

inilah aku, seorang hamba yang lemah yang selalu berharap agar bisa menjadi imam bagi keluarga, membimbing mereka kepada jalan yang diridloi Allah

Allahumma Rabbana taqobbal minna innaka Anta Samii’un aliim ….

Jakarta, 26 November 2010

A. Ahmad Kusumah

Categories: Diary

Gak penting (not important)

November 23, 2010 Leave a comment

hanya tulisan pendek saja.

Berawal dari pertanyaan, mengapa nama blognya A. Ahmad Kusumah Dairy, salah tuliskah, apakah maksudnya A. Ahmad Kusumah Diary ?. itu pertanyaan ditanyakan temen saya kepada saya. gak tahu juga kenapa dia bertanya seperti itu, namun gak penting juga untuk ditanyakan maksud pertanyaanya.

Dan saya pun setelah dia bertanya saya menjawab. secara kosa kata memang artinya sangat jauh, Kalau Dairy itu artinya “Susu”, kalo Diary itu “Buku harian”. saya tegaskan, memang tidak salah penulisannya, memang A. Ahmad Kusumah Dairy. Harapannya, adalah semua tulisan atau informasi yang tertuang di blog ini seperti susu, lebih banyak manfaatnya daripada madharatnya. murni , tidak terkontaminasi hal-hal yang tendendius terhadap sesuatu hal. yah intinya semoga saja blog ini isinya tetap bisa memberikan informasi yang murni dan benar-benar bermanfaat bagi pembaca dan penulisnya sekaligus.

 

Just a short note …

The beginning of this note is triggered by a simple question from  one of my friend, why my current blog title used A. Ahmad Kusumah Dairy instead of A. Ahmad Kusumah Diary. is this just misspelling or has it’s own purpose?

And this my answer. My blog title used word Dairy instead of Diary indeed has a purpose. I hope this blog give the reader and the writer clear and pure information and give positive benefit as the purpose of the writer when creates this blog.

 

 

Categories: Diary

Perbedaan Konsultan dan Praktisi, sebuah opini

November 23, 2010 Leave a comment

Lanjut nulis lagi ….

Ide tulisan ini timbul setelah diskusi yang cukup asyik bersama saudara Sandy Wibisono, sebagai salah seorang shareholder JWebs, dan Pak Sur yang seorang yang sangat berpengalaman dibidang consulting. (22 november 2010).

Yang jadi concern hasil diskusi tersebut adalah, mengapa perusahaan yang bergerak dibidang consulting dan services banyak yang kolaps, atau mengalami gangguan akibat kesalahan strategi dan management yang ironisnya adalah sesuatu yang mereka jual ke client. Apanya yang salah ? salah sistemnya kah ? atau karena kesalahan individu yang terlibat di sistem tersebut ?.

Berhubungan dengan hal tersebut, terbersit sebuah pertanyaan yang cukup menarik, apakah mereka gagal menerapkan strategi dan management karena mereka bukan seorang praktisi, yang akhirnya mereka hanya bisa memberikan petunjuk dan pertimbangan bagi orang lain, sedangkan diri mereka sendiri gagal menerapkannya. wah bakal lebih seru kalau dilanjutkan nih …

Sebelum masuk ke ranah analisis yang mungkin masih immature, mari kita lihat definisi dari konsultan dan praktisi.

Menurut kamus, bahasa indonesia,

Konsultan adalah ahli yg tugasnya memberi petunjuk, pertimbangan, atau nasihat dalam suatu kegiatan (penelitian, dagang, dsb); penasihat.

Paktisi didefiniskan sebagai pelaksana atau orang yang biasa melaksanakan.

Dari definisi terlihat jelas, bahwa seorang Konsultan adalah seseorang yang tugas utamanya adalah memberikan pertimbangan terhadap kebijakan atau malah menyerankan sebuah kebijakan dalam suatu kegiatan pun organisasi. bisa dikatakan seorang konsultan adalah seorang staff ahli, sebagai “Orang Pintar” yang sering dijadikan tempat untuk bertanya. Dalam prakteknya, seorang konsultan tidak dituntut memiliki pengalaman melakukan apa yang dia sarankan, yang penting saran yang dikeluarkan acceptable dan bersifat menguntungkan dari sisi kebijakan strategis. Yang mungkin jadi pra Syarat utama seorang konsultan adalah memiliki pengetahuan yang cukup sebagai justifikasi terhadap saran-saran yang dia keluarkan.

Sebagai tambahan, menurut Bapak Riri Satria (http://ririsatria40.wordpress.com/2010/11/13/anda-masih-butuh-konsultan/) dalam tulisannya, “konsultan itu dibutuhkan bukan hanya karena kompetensi mereka (akumulasi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan) tetapi juga karena posisi mereka yang dianggap netral sebagai orang luar sehingga diharapkan sanggup melihat persoalan secara jernih di dalam sebuah perusahaan karena mereka tidak punya kepentingan.”

Namun ada penyakit yang mungkin dimiliki oleh sebagian konsultan, yaitu bahwa mereka merasa lebih mampu dan lebih kompeten  dalam hal tertentu sehingga memiliki kecenderungan untuk memaksakan apa yang mereka ketahui kepada client. Bagi client yang masih “polos”, hal ini mungkin bisa berhasil, tapi untuk client yang memiliki background knowledge yang cukup baik, hal ini bisa menjadi senjata makan tuan, bahkan proyek tersebut bisa gagal total, karena tarik menarik antara ego konsultan dengan keinginan pemilik proyek, padahal yang paling mengetahui kebutuhan dan keadaan internal pemilik proyek, ya pemilik proyek itu sendiri. (lihat bahasannnya di sini).
Untuk Praktisi sendiri, sesuai dengan definisi adalah pelaksana atau orang yang biasa melaksanakan. Bahkan banyak seorang praktisi yang sangat berpengalaman dibidang tertentu bisa menjadi seorang konsultan yang sangat handal, karena pengetahuan lapangan yang mereka miliki yang kadang tidak dimiliki seorang konsultan yang backgroundnya bukan seorang praktisi. lihatlah Warren Buffet, Bob sadino, Ono W Purbo, adalah orang-orang yang berlatar belakang praktisi yang menjelma menjadi panutan dibidangnya masing-masing, dan pendapatnya banyak diikuti oleh banyak orang. bisa dikatakan, mereka adalah konsultan sekaligus praktisi yang sangat berhasil.

Konsultan-konsultan yang bergerak dari seorang praktisi mayoritas bisa lebih berhasil dalam implementasi saran-sarannya di perusahaan atau tempat-tempat yang memerlukan perbaikan atau pengembangan organisasinya, karena apa yang mereka sarankan berdasarkan pengalaman-pengalaman dilapangan yang kadang tidak didapatkan dibangku pendidikan.

Kembali kepada topik utama tulisan ini, banyaknya perusahaan consulting yang kolaps, berdasarkan analisis uraian diatas, adalah karena mereka tidak mampu mempraktekan apa yang mereka ketahui dan mengejawantahkannya  diinternal perusahaan mereka sendiri.

jadi intinya …

Tidak setiap konsultan bisa jadi praktisi, namun Setiap Praktisi kemungkinan besar bisa menjadi konsultan yang berhasil …

 

Jadilah seorang Konsultan yang berjiwa Praktisi ….

 

Jakarta, 23 November 2010

 

Aah Ahmad Kusumah

 

 

 

Categories: Umum

Mawaddah dan Mahabbah, sekilas tentang cinta dan kecintaan

November 19, 2010 Leave a comment

Pertanyaan timbul karena penasaran, mengapa dalam do’a pernikahan, sampai saat ini lebih sering menemukan istillah Mawaddah daripada mahabbah, padahal istilah ini secara harfiah berarti sama-sama kecintaan, kasih sayang, kesukaan.

Oke deh, tinjauan ini mungkin masih immature, perlu didalami lebih lanjut, but worth to try on explanation.

Pertama, kata mahabbah dan mawaddah, keduanya merupakan bentuk masdar dari asal kata Hubb dan wudda, yg dalam ilmu sharaf, walaupun lebih sering diartikan sebagai kata benda, tapi dalam kondisi tertentu fungsinya bisa juga sebagai Fi’il (kata kerja). Sehingga boleh diartikan sebagai kesukaan, kasih sayang, ataupun menyukai, menyayangi, tergantung bentuk kalimatnya.

Kedua, untuk mencari perbedaan makna dari mahabbah dan mawaddah, berdasarkan tinjauan tafsir jalallain dan dijelaskan dalam syarahnya Ash-showii, diambil 2 ayat yg mengandung kata mahabbah dan mawaddah.

Untuk ayat pertama, “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).” (QS. Ali Imron : 14)

Dalam ayat ini terkandung kata Hubbun, yang merupakan naluri dasar yang dianugerahkan Allah kepada seluruh umat manusia, tanpa terkecuali. Yang memiliki arti kecintaan dan kesukaan.
Dalam beberapa tafsir, dijelaskan lebih gamblang, bahwa Hubbun (mahabbah) diartikan sebagai cinta yang bersifat meluap-luap dan bergejolak. Rasa cinta kepada lawan jenis, pada awalnya adalah hubb ini yang muncul. Maka seringkali, katanya orang yg jatuh cinta merasakan diri tidak terkontrol, ada rasa senang yang meluap-luap ketika sedang rindu, ataupun akan sakit se sakit-sakitnya ketika tersakiti oleh yang terkasih. Hal ini terjadi karena sifat yg meluap-luap dan bergejolak itu. Karena sifat ini pula yang kadang hubb ini lebih gampang ditumpangi syahwat dan efeknya impulsif.

Untuk meminimalisir efek yg bergejolak itu ada anjuran dengan berpuasa. Kemudian ada keterangan ,” sayangilah orang yg kamu cintai sekadarnya saja, siapa tahu suatu saat dia akan menjadi orang yang kamu benci”. Karena efek impulsif ini, ketika hubb berubah jadi rasa benci, maka rasa benci tersebut akan sangat besar melebihi rasa hubb nya itu sendiri.

Untuk ayat yang kedua, ” Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah yang maha pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang” (QS Maryam : 96), mengandung kata Wudda (kasih sayang), yang memiliki arti kasih sayang yang diberikan Allah sebagai hadiah atas keimanan, amal sholeh manusia yang disertai keikhlasan dalam melakukannya. Ayat selanjutnya : ” Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Rum : 21). Dalam ayat ini mawaddah (wuddan) berarti kasih sayang yang memiliki sifat menentramkan yang dapat diraih dengan pernikahan oleh masing-masing pasangan akan diberi hadiah kasih sayang dan rahmat oleh Allah SWT sebagai karuniaNya. Dalam pengertian ini, wuddan (mawaddah) lebih bersifat khusus, hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman dan bertaqwa aja. Dalam beberapa tafsir dan literatur, Wuddan diartikan sebagai cinta dan kasih sayang yang tidak akan diraih oleh manusia kecuali Allah menghendakinya, hanya Allah yang akan memberi cinta Nya kepada hamba yang dkehendakiNya. Allah yang akan mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu belanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan cinta jika Allah tidak menghendakiNya. Oleh karena itu diraihnya cinta—wuddan pada satu pasangan itu karena kualitas keimanan dan ketaqwaan ruhani pasangan tersebut. Semakin ia mendekatkan diri kepada sang Maha Pemilik Cinta maka akan semakin besarlah wuddan yang Allah berikan pada pasangan tersebut.

Inilah cinta sebenar-benarnya cinta, bersifat murni, menentramkan dan tidak akan luntur walaupun maut memisahkan. Wuddan inilah yg dalam beberapa keterangan yang mampu menyatukan kembali keluarga didunia, menjadi keluarga yang diridloi oleh Allah di akhirat kelak.

Cinta inilah yang harus kita raih, yang tentu saja dengan meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan diri kita.

Benar apa yang dikatakan seseorang pada suatu ketika, ketika mencoba menguak isi hatinya (uncredited) , “semua akan indah pada waktunya”, baru ngerti sekarang maknanya … Semua diserahkan kepada yang Menguasai Isi Hati , Allah SWT untuk menganugerahkan Wuddan pada hati hamba-Nya….

Jakarta, 19 November. 2010

Aah Ahmad K

Categories: Diary