Archive

Archive for April, 2010

Love doesn’t need an education level …

April 30, 2010 2 comments

Sepotong kalimat yang diucapkan temenku ketika malam ini ngobrol yang gak tahu dimulai dari mana kok akhirnya malah nyampe di kalimat tersebut. Bagi sebagian orang mungkin istilah cinta, mencari cinta adalah makanan sehari-hari yang bisa dengan mudah dijadikan sebagai penghias kehidupan. (Sebelumnya harus diluruskan dulu,  istilah cinta disini menggunakan makna yang sempit, yaitu rasa senang yang timbul kepada lawan jenis). Namun bagi sebagian orang perlu waktu dan butuh perjuangan yang sangat berat untuk memahami dan menyelami makna dan mendapatkan feel terhadap kata sakral itu. Hal itu bisa disebabkan oleh ego, latar belakang kehidupan atau faktor lain yang menyebabkan adanya RF (resistance force) terhadap cinta.

Pernahkah terbersit dalam pikiran, bahwa kita pasti ingin mendapatkan pasangan hidup kita itu selevel ? baik itu level pendidikan, kepintaran ataupun level materi ?. tidak bisa dinafyikan bahwa hal ini memang ada dan sangat manusia untuk terjadi kepada manusia. Contoh ini merupakan contoh real resistance force yang menyebabkan kesulitan untuk menggenggam entitas cinta beserta turunnannya. Bahkan mungkin ada yang menganggap bahwa mencari pasangan harus dilihat dari dua sisi, yaitu ditinjau dari perspektif apakah pasangan kita itu termasuk cost center atau profit center. Dan tentu saja ini masih manusiawi. Tentunya kita tidak ingin, bahwa sebuah hubungan yang dibentuk itu menjadi sebuah proses saling membebani antar pelakunya. Seharusnya sebuah hubungan harus dilandasi keinginan saling mengisi dan melengkapi. Dengan landasan inilah maka kelanggengan dan ketulusan sebuah hubungan bisa terus berjalan dan meminimalkan gesekan yang mungkin terjadi.

Kadang terjadi juga, sebuah hubungan tidak bisa dilanjutkan atau bahkan tidak bisa terbentuk hanya karena alasan prestise saja. Prestise yang hanya dinikmati lahiriah, namun mengabaikan sisi bathiniyah. Menikah dengan seorang anak presiden tentu akan memberikan level prestise yang lebih bagi seseorang, jika dibandingkan menikah dengan seorang anak petani yang datang dari pelosok ujung negara indonesia yang bahkan tidak pernah nongol dipeta. Namun apakah ini cukup, apakah kita bisa menggapai kebahagiaan dalam sebuah hubungan hanya dilandasi kepuasan lahiriah saja. Tentu tidak, karena secara kodratnya manusia diciptakan memiliki dua sisi yang saling melengkapi dan harus dijaga keseimbangannya, sisi lahiriah dan bathiniyah. Ketika sisi lahir mendapat pasokan yang cukup, namun sisi bathin menderita, maka kebahagiaan yang ada hanya pura-pura. Keseimbangan kedua sisi ini mutlak diperlukan agar terjadi harmonisasi dalam hidup. Bahkan kecenderungan yang terjadi, ketika kebutuhan bathiniyah bisa dipenuhi, maka kebutuhan lahiriah cenderung lebih positif. Contoh simpelnya, penahkan kita melihat sebuah keluarga sederhana, tinggal di rumah yang sederhana, namun senyum dan tawa selalu menghiasi rumah tersebut. Namun ada keluarga yang tinggal dirumah besar, mewah dengan mobil terparkir dimana-mana, namun selalu sepi, tidak pernah terdengar senyuman, bahkan raut muka penghuninya selalu kelihatan cemberut.

Ini semua mungkin diakibatkan oleh satu faktor, yaitu ego, ego yang melahirkan kebutuhan akan prestise, ego yang melahirkan sisi materialistis lebih dominan, ego yang menyebabkan keinginan untuk mendapatkan yang lebih dan lebih lagi tanpa mempertimbangkan aspek sifat kemanusiaan yang ada, ego juga yang menghalangi seseorang untuk mengungkapkan perasannya. Ego di satu sisi memang diperlukan, namun disisi yang lain kadang harus dipinggirkan terlebih dahulu.

Dalam mencari entitas cinta, yang diperlukan adalah saling memahami kebutuhan masing-masing pasangan. Seorang pria harus memahami kebutuhan yang dibutuhkan seorang wanita, begitupun sebaliknya seorang wanita harus bisa memahami kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi pria. Ada tulisan menarik disini (ijin ngelink ichee):

http://asaria.wordpress.com/2010/02/15/what-a-woman-need/

yang dibutuhkan seorang wanita adalah feel secured and beloved. jadi buat para pria, buatlah pasanganmu merasa aman ketika berada didekatmu, dan selalu merasa dicintai. Dan buat para wanita, buatlah pria pasanganmu merasa nyaman berada disisimu, merasa dibutuhkan dan tidak merasa dimanfaatkan.

Kesimpulannnya, bagi orang-orang yang masih kesulitan untuk mendapatkan entitas cinta karena egonya, maka akhirilah … hidup itu yang penting ikhlas, keikhlasan untuk menerima apapun yang terjadi pada diri sebagai sesuatu yang terbaik. Kadang, apa yang diinginkan bukanlah hal terbaik buat hidup kita.

Cinta bukan milik sebagian orang, cinta adalah anugerah untuk semua orang. Cinta bukan hanya milik profesor, doktor ataupun pesohor, namun cinta adalah milik orang-orang yang menginginkannya.

Akhir kata, mulailah berusaha untuk mendapatkan dan ikut bergabung dengan orang-orang yang telah memiliki ikatan cinta. Jangan malu untuk berkata, “ I do need you”. Dan jangan takut dengan kata “I do don’t like you at all forever in this life “.

(Credit to Sari Amelia, thx atas obrolannya)

Categories: Diary

Chemistry vs Kompetensi (Catatan Seorang Mahasiswa) ….

April 28, 2010 1 comment

Keyword: chemistry, inner beauty, pasangan hidup, proyek TI, kompetensi . Biar tidak lupa yang didapat waktu kuliah tadi. Sebenarnya tema ini asalnya merupakan bagian dari pembahasan change management and conflict yang disampaikan oleh Bpk. Riri Satria (see.. ririsatria40.wordpress.com). Namun, dalam tulisan ini mungkin akan dibahasa dari perspektif yang lain, social networking, isu profesionalitas, memilih pasangan hidup, dan isu-isu yang lainnya yang mungkin akan muncul yang sekarang belum kepikiran sewaktu mulai menulis tulisan ini.

Dalam ilmu managemen sumberdaya manusia terkait dengan penempatan seseorang dalam sebuah posisi, baik itu dalam kasus disebuah organisasi, strata sosial kemasyarakatan, (erkecuali posisi dalam sebuah sistem yang menganut sistem kerajaan atau kesultaan yang cenderung mengedepankan sistem pewarisan), maka ada 2 faktor penting yang mendasari keputusan tersebut, yaitu :

  1. faktor kompetensi
  2. faktor chemistry

Faktor yang pertama, adalah faktor kompetensi yang terkait dengan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor seseorang di bidang tertentu. Hal ini mungkin bagi sebagian orang merupakan faktor pertama yang dilihat dalam menempatkan orang ini pada posisi yang sesuai dengan bidang yang dia kuasai. Sebagai contohnya, ketika seorang karyawan ditempatkan dalam posisi programmer, pasti alasannya adalah kemampuannya dalam level programming yang mungkin lebih jika dibandingkan dengan kempuannya dalam bidang marketing misalnya, atau ketika seseorang ditempatkan sebagai seorang system analis IT, pasti disebabkan karena kemampuan daya analisisnya yang bagus dalam bidang IT.

Hal ini dalam dunia IT, khususnya yang berhubungan dengan bidang teknis, faktor inilah yang mempunyai kredit paling besar. Dengan tujuan untuk mendeliver sebuah solusi IT yang handal dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemilik proyek, maka tentu saja tim yang diturunkan dalam tim pengembang adalah tim yang memiliki kompetensi yang tinggi pula.

Namun ternyata, dalam beberapa kasus yang pernah dihadapi oleh penulis, ternyata tim yang dihuni oleh orang-orang dengan kompetensi yang tinggi dibidangnya, tidak serta merta bisa mengantarkan proyek tersebut menuju level sukses, bahkan ada yang tingkat kesuksesannya sangat rendah sekali. Mengapa hal ini terjadi ?. Setelah ditelisik lebih lanjut ternyata bukan kemampuannya yang kurang bagus atau requiremen yang didapatkan tidak jelas, namun disebabkan oleh timbulnya konflik didalam tim tersebut. Pertanyaan selanjutnya, kenapa bisa terjadi konflik ? apakah sebelum proyek dilaksanakan tidak ada assesment risiko dan konflik yang mungkin terjadi selama pelaksanaan proyek tersebut ? atau justru ada faktor yang tidak dimasukan dalam pertimbangan pembentukan tim pengembang tersebut terkait pemilihan anggotanya ?, dan ternyata jawabannya adalah adanya faktor yang kadang dilewatkan, yaitu faktor chemistry antar anggota tim pengembang, yang justru ini kadang memiliki porsi yang besar dalam kesuksesan pelaksanaan sebuah proyek. Untuk jelasnya, bagian chemistry akan dibahas pada bagian tersendiri.

Faktor Chemistry, adalah faktor penilaian seseorang berdasarkan pendekatan sisi kemanusiaan, seperti faktor kekeluargaan, faktor emosi, faktor karakter dan sikap. Faktor ini memiliki peranan yang sangat penting. Dalam contoh diatas, kegagalan yang terjadi dalam pembentukan sebuah tim proyek akibat mengabaikan faktor ini. Ada mungkin anggota tim yang memiliki kompetensi teknis yang sangat tinggi, mungkin jenius, tapi tidak bisa klop dengan anggota tim secara mayoritas, misalnya tidak mau menerima pendapat orang, merasa diri selalu paling benar, sehingga pada akhirnya riak-riak konflik yang lama kelamaan semakin meuncak dan pada akhirnya menghambat pelaksanaan proyek.

Aspek kompetensi dan chemistry juga tidak hanya berlaku di tataran teknis IT atau tataran bisnis saja, bisa juga ditemui dikehidupan sehari-hari, namun kadang tidak kita sadari. Cuma yang jadi permasalahan selanjutnya adalah, aspek manakah yang akan kita dahulukan, apakah aspek kompetensinya dulu atau aspek chemistrynya dulu?. Dalam beberapa kasus, mungkin aspek kompetensi yang diutamakan, misal dalam pemilihan tim olimpiade fisika, pastinya kompetensi dibidang fisika yang diutamakan. Namun dalam kasus lain, aspek chemistry yang diutamakan.

Ada pertanyaan yang menggelitik yang dilontarkan, dalam pemilihan pasangan hidup, mana yang lebih diutamakan, chemistrynya dulu atau kompetensinya dulu ?. dan Ternyata, lebih banyak yang memilih chemistrynya dulu, baru kompetensinya. Mengapa demikian ? alasannya simple saja, chemistry itu berkaitan dengan karakter, dan tipikalnya mengubah karakter seseorang itu sangaaaaaaaaat sulit, mungkin bisa berubah, tapi memiliki effort yang sangat besar. Faktor chemistry sangat erat kaitannya dengan istilah inner beauty yang dimiliki oleh seseorang.

Sedangkan kompetensi, berhubungan dengan kemampuan kognitif yang notabene lebih mudah untuk dibentuk. Karena katanya potensi manusia itu dari sisi ini sama, yang diperlukan untuk upgradenya hanya kerja cerdas saja. Sebagai perbandingan, kemampuan untuk memecahkan relativitas umum einstein, bisa dilakukan dengan belajar, seminggu mungkin bisa dipecahkan. Namun, untuk mengubah seseorang dari yang tadinya pemarah, emosian menjadi penyabar, mungkin butuh waktu tahunan.

Dalam kasus pemilihan posisi di organisasi pun, belum tentu nepotisme itu jelek. Mengapa begitu ? silahkan anda pikirkan sendiri …. (hehehehe xD).

Kesimpulannya, faktor kompetensi dan chemistry harus selalu menjadi faktor pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Sedangkan penentuan mana yang lebih dulu diprioritaskan, tergantung kasusnya.

Namun jika setelah anda melaksanakannya masih menemui kegagalan, cobalah evaluasi lagi kegagalan tersebut, bukan kesalahn pemilihan kedua faktor tadi, tapi bisanya diakibatkan kesalahan dalam menentukan prioritas utama dari kedua aspek tersebut.

Final word :

“ Never surrender on first rejection “ ……….. coba dan cobalah lagi …

Catatan Kuliah MPPTI  (A.Ahmad Kusumah)

MTI-UI 28 April 2009 (rabu)

Lecturer : Bpk. Riri Satria

Categories: Teknologi Informasi

Chapter VI : Hidup itu resiko, sebuah studi kasus ngawur (ilmiah bro..) – bagian II

April 23, 2010 Leave a comment

Ini lanjutan dari  bagian I

3. Analisis resiko secara kualitiatf dan kuantitatif

Setelah melakukan identifikasi resko yang mungkin terjadi dan menentukan solusi alternatif secara global, maka langkah yang selanjutnya adalah menganalisis resiko secara lebih mendalam, baik itu secara kualitatif atupun kuantitatif. Untuk kualitatif bisa dilakukan dengan memberikan statement dan skala prioritas berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya resiko tersebut. Hal ini bisa menggunakan data-data sekunder yang berupa historical data.

Secara kuantitatif bisa dilakukan dengan melakukan analisis memakai tools statistik, seperti menghitung probabilitas terjadinya resiko, mengukur dampak yang mungkin terjadi, kemudian mengkalkulasikan semua faktor tersebut dengan melakukan operasi perkalian antara probabilitas dan dampak yang mungkin timbul.

Btw, mungkin untuk contoh diatas bisa dijabarkan sebagai berikut :

Case : menyatakan rasa suka kepada seseorang yang kita sukai.

Resiko yang mungkin muncul :

  • Resiko Positif : diterima

i.      Kualitatif : berdasarkan data-data yang lalu, dan pengalaman yang telah dilakukan dalam hal pengelolaan hubungan dan cinta, kecil sekali harapan untuk diterima. Maka harus dilakukan langkah-langkah juntuk mengoptimalkan peluang ini agar bisa terwujud. Maka prioritas pertama adalah menentukan langkah prospektif untuk memaksimalkan peluang tersebut.
ii.      Kuantitatif : berdasarkan statistik dengan menggunakan fungsi sigmmoid dan menggunakan aturan stepwise, probabilitas diterima hanya 10 %, namun dampaknya sangat besar bagi kehidupan, skala bisa mencapai 90 dari skala 100, bisa menyebabkan kebahagiaan yang terus menerus, semangat hidup tumbuh, dll. jadi skala resiko == 10% * 90 = 9.

  • Resiko negatif : ditolak

i.      Kualitatif : ternyata kans untuk ditolak berdasarkan pengalaman sangat besar. Maka berkebalikan dengan respons positif, maka untuk kemungkinkan ini harus dilakukan langkah-langkah untuk meminimalkan peluang terjadinya resiko ditolak.
ii.      Kuantitatif : untuk analisis secara kuantitatif, maka ternyata didapatkan hasil probabilitas sebesar 90 %, dan dampaknya pun kecil hanya 10 dari skala 100, dikarenakan sudah terbiasa ditolak, jadi gak ngaruh apa-apa. Maka skala resikonya == 90% * 10 = 9.

Setelah melakukan scoring dan analisis probablitas dan dampak, maka langkah selanjtnya adalah merencakan responnya.

4. Perencanaan respon resiko.

Setelah diketahui tingka resiko yang mungkin terjadi, maka harus diikuti dengan merencakan respon terhadap resiko jika event yang menyebabkan resiko tersebut terjadi.

Dalam menghadapi resiko, maka bisa dilakukan beberapa cara :

  • MITIGASI, dengan melakukan langkah-langkah preventif dalam menghadapi resiko, jika tingkat resikonya medium.
  • AVOID , dengan menghindari event yang akan menyebakan resiko tersebut terjadi, jika tingkat resiko dan dampaknya sangat besar.
  • TRANSFER, dengan memindahkan beban resiko dari kita ke target yang lain, jika ada aggreement dengan pihak lain yang akan dijadikan taret pengalihan resiko.
  • ACCEPT, dengan menerima segala resiko yang mungkin terjadi, jika tingkat resikonya kecil dan masih dalam ambang batas kemampuan diri.

Dalam kasus ini, maka ACCEPT lebih cocok untuk digunakan, jadi terimalah resikonya, karena masih berada dalam ambang batas nilai kemanusiaan, mo diteriam kek, ditolak kek, gak maslah tuh …

5. Pengendalian dan monitoring resiko.

Langkah yang terakhir adalah dengan melakukan monitoring dan pengendalian resiko. Atau lebih tepatnya mengimplementasikan strategi-strategi yang telah ditetapkan pada langkah-langkah sebelumnya dan lakukan evaluasi secara periodik. Serta lakukan adjustment jika diperlukan.

Ini gambaran singkat risk management, konsepnya beneran tapi contoh kasusnya ngawur .. jadi pesan penulis ..

“Ambil nilai baiknya, buang nilai buruknya …………..“

Resiko selalu ada selama kita menjalani hidup, jadi kelola lah resiko tersebut agar dampak positifnya maksimal, dan dampak negatifnya berkurang …..

Jangan menyerah sebelum mencoba …..

Categories: Umum

Chapter V : Hidup itu resiko, sebuah studi kasus ngawur (ilmiah bro..) – bagian I

April 21, 2010 5 comments

Tulisan chapter ke lima, mohon maaf jika bahasa yang digunakan nyablak.. alias ngalor ngidul gak jelas ritme dan alurnya.

Jadi ingat sebuah jargon ketika mengikuti OS dulu. “hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan ada konsekwensinya”. Namun jika dilihat dari bahasa, kayaknya kita punya hak prerogatif untuk menentukan hidup, karena secara implisit, pernyataan diatas mengindikasikan ada pilihan yang lain yang bisa dipilih dan ditentukan oleh manusia untuk dipilih (mungkin juga bukan ini maksudnya). Tapi mungkin juga jargon tersebut tidak dimaksudkan untuk itu, tapi memiliki makna bahwa setiap langkah yang kita tempuh dalam menjalani hidup, yang kita rancang dan rencanakan pasti memiliki konsekwensinya masing-masing. So, ketika kita membat sebuah rencana baik itu jangka pendek maupun jangka panjang, kita harus sudah mengerti resiko yang akan dihadapi. Bukan Cuma tahu dan mengerti tapi mempunyai methodology untuk mengantisipasi resiko tersebut.

Kembali dengan istilah resiko, kadang orang mengkonotasikan resiko itu negatif, padahal sejatinya resiko bisa saja positif. Misal saja, ketika kita mempunyai mobil, resiko negatifnya bahwa kemungkinan besar kita akan menyumbang peran dalam peningkatan polusi udara, atau mobil kita dicuri orang. Namun resiko positifnya bahwa mobilitas menjadi lebih tinggi (asumsi bukan di jakarta yeee, biar gak kena macet dimana2). Mengingat hal tersebut maka perlu mekanisme untuk memaksimalkan potensi positif yang ada dari sebuah peristiwa (event)/ keadaan dan meminimalkan dampak negatifnya. Proses untuk mencapai hal diatas disebut dengan management resiko alias risk management.

Mungkin kita lebih familiar dengan istilah manajemen resiko dalam ruang lingkup bisnis, perusahaan ataupun proyek. Namun sebenarnya manajemen resiko juga sangat perlu diterapkan dalam hidup sehari-hari. Setiap aspek apapun yang kita rencanakan dalam hidup, setiap tindakan yang akan dilakukan harus memikirkan aspek resikonya, dan harus dipikirkan dengan jernih dan memperhitungkan segala hal yang mungkin terjadi, positif dan negatifnya. Dalam prosesnya, tentu saja harus dilakukan risk assesment terlebih dahulu. Untuk memudahkan hal itu maka analogikanlah hidup ini sebagai sebuah proyek implementasi amal dan ilmu yang tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sesuai dengan judul diatas, bahwa hidup adalah resiko, dan setiap resiko harus di manage dan dikelola dengan baik. Yang harus dilakukan adalah dengan melakukan self risk assesment. Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam mengelola resiko, dalam hidup :

1. Rencanakan hidup dengan baik, buat perencanaan dengan baik

Maksudnya, buatlah perencanaan untuk setiap aktivitas yang akan dilakukan, termasuk membuat perencanaan untuk menanggulangi resiko yang mungkin dihadapi.

Misalnya, buatlah todo list daily, weekly or monthly, dan kalo bisa tentukan target yang ingin dicapai. Jangan lupa tentukan langkah-langkahnya, secara global aja.

2. Identifikasi resiko yang mungkin terjadi dan buat alternatif solusi global

Cobalah dari langkah-langkah dan todo list yang telah dibuat, identifikasikan resiko yang mungkin muncul, dan coba kuantifikasi nilainya, misal dalam persen berdasarkan dampak dan probabilitasnya.

Contoh simpel:

Todo list minggu ini :

  • Target : menyatakan rasa suka kepada seseorang yang pasti kita sukai dong
  • langkah :
  • alternatif I : jika berani, kemukakan langsung didepannya didepan banyak orang, sambil bawa bunga mawar.
    • Resiko positif : diterima dan dijadikan sebagai ajang pengumuman kepada khalayak ramai bahwa kita jadian. Score = 3
    • Resiko negatif : ditolak, digampar, dikata-katain (berani2nya loe suka ame gw), bikin malu diri sendiri, diketawain orang, dll. Score = 2, Final score = 3-2 = 1.

  • Alternatif II : jika jauh dan gak punya modal, Kirim via SMS dengan bahasa “dewa.
    • Resiko positif : diterima, dibales lagi dengan bahasa “dewa” juga, irit ongkos, sebagai latihan sebagai penulis sajak, kalo ditolak gak akan malu, pura2 salah kirim …Score = 2
    • Resiko negatif : ditolak, dikatain=” gak modal banget sih lo, kalo mau ama gw dateng dong jantan dong”. Score = 5.   Final Score = 2-5 = -3.

  • Alternatif III : jika jauh dan biar bisa panjang lebar, Kirim via Email dengan attachment lagu kenny roger (“have I told you lately that I love U “), dilengkapi dengan soneta 14 baris mengisahkan perjuangan cinta, dan jangan lupa memakai latar belakang music kenny G (jika bisa), atau background bunga mawar..
    • Resiko Positif : Diterima, dan dapet balesan email berupa novel ayat-ayat cinta. Score = 6
    • Resiko Negatif : Di tolak, emailnya masuk spam box, didelete oleh antivirus, didelete temennya (kyk di friends).Score = 1 ,Final Score = 5.

Dari uraian yang dibuat, maka diputuskanlah alternatif 3 yang paling baik scorenya untuk dilaksanakan dan dieksekusi untuk mencapai target agar diterima jadi pasangan orang yang kita sukai.

(Bersambung, udah nguantuuuuuuuk ……)

Categories: Story of life, Umum

“3 On” Paradigm

April 21, 2010 Leave a comment

What do customers think when they proposed a proposal to a developer to help their current business run efficiently, cost effective and operational improvement and help them on every strategic decission to make ? The answer is they always want a perfect system, less of bugs, easy to use and and dynamically can change it current business logic (if needed) as easy as button click.

This is a danger two sword side for a developer. On a side, to gain an industry-wide recognition of excelence and maintain current existency on a red zone of competition, this is a challange to take, and worth to be. But on, other side, this is sometimes or even commonly, can destroy current goal and make goodwill and existence that have been built for years lost caused by failure, if the strategy to build the system is on wrong direction.

There are 3 major conditions that show the current projects is on it’s way of failure.

  1. The project is not on budget (over budget)
  2. The project is not on time (over time)
  3. The project cannot  meet customer needs.

The main factor that’s caused the 3 conditions above is no enough or less understanding of customers need, wrong calculation of project scope,  and less of technology failure.

On Software development Life Cycle, Planning, Analysis and Design take the biggest share of project. It takes about 50% to 60% of project time schedule. And Just 30 % on Development phase and 10 % on Implementation and Transition Phase. The common mistake that make the project is on a way to it’s death is less understanding of this concept. Developer force itself to code without complete requirement document and understanding of customer needs, and finally this cause weak baseline and produce unpredictable bugs and unmanageable lot of change and make the time is up by this headeache things.

To avoid this condition, and have a strong competitive edge in a rapidly evolving marketplace, and to improve the ability to predict costs and revenues, and find ways to raise productivity and lower expenses, we should have a methodology to follow, and spread this concept all over organization.

In order to meet any of these objectives, we must have a clear understanding of what it takes to produce our products or services, complete with all document and documentation. To improve, we need to understand the variability in the processes of methodology that we follow, so that when we adjust them, we will know whether the adjustment is advantageous. In short, we will want to manage our business using accurate data about both products and processes.

This doesn’t guarantee to avoid failure, but reduce factors that cause failure. This also gives documented feedback for periodic evaluation to improve whole organization process. And also gives a quality of processes that guide to produce quality of products.

If we follow the guidance of methodology, at least we can reach ‘3 On’ goal of organization :

On Budget, On Time and On Direction.

To Keep our product has best quality, we have to ensure that our product, meet at least 3 McCall’s Quality Factor : Integrity, Maintainability, Flexibility on product revision, product transition and Correctness, Reliability, Usability and efficiency on product operation.

Finally, we have to remember that,

“ There is always no enough time to make a perfect system,”

“ But there is  always enough time to make it Better and better and better”. (Eko K. Budiarjo)

“Technology just a tools, but without technology we are a fool”

For better Organization ………..

References:

Kusumah, A.Ahmad. Lecture notes at Magister Teknologi Informasi UI. 2009. Personal Notes. Copyright : Kusumah, A. Ahmad.

Categories: Umum

Chapter IV : Cinta sejati itu memang ada …

April 19, 2010 Leave a comment

Sepenggal kalimat yang terus menerus terngiang dalam sanubari. Ketika bicara tentang cinta dan kasih sayang, takkan pernah habis waktu untuk hal itu. Cinta dan kasih sayang juga yang menjadikan hidup terasa lebih berwarna, membuat semangat hidup terus tumbuh, membuat rasa optimis dalam menjalani lika-liku kehidupan, yang terkadang dan memang sudah menjadi sunatullah selalu naik turun antara dua sisi yang berlawanan, kadang membahagiakan kadang menyedihkan. Namun dengan cinta, hal tersebut tidak akan mempengaruhhi kualitas hidup, bahkan satu momen ketika manusia dicoba dengan kesedihan, maka dengan taburan cinta dan kasih sayang, justru hal itu akan membuat langkah manusia makin tegap dan makin kuat untuk terus berjalan menuju rasa syukur atas segala nikmat yang begitu besar dari Tuhan, jika dibandingkan dengan kecilnya cobaan yang menimpa. Cinta … sungguh anugrah yang terindah yang diberikan sang Maha Pencipta pada makhluknya, tanpa cinta tidak akan tercipta kedamaian didalam kehidupan manusia di dunia.

Namun mengapa kadang ada orang yang desperate karena cinta ? menangis bombay karena putus cinta. Itu disebabkan (mungkin) oleh kesakitan akibat harus menghilangkan kenangan manis selama mengarungi hidup dalam bahtera penuh warna. So, bukan karena cintanya itu sendiri, tapi karena memori yang ditinggalkan oleh rasa yang selalu ada dalam “strawbery tart”, sehingga posisi cinta bergeser dan ditutupi oleh kelabunya awan kesedihan. Memang sangat sulit untuk melepaskan sesuatu yang telah membuat hidup makin bermakna dan berwarna, but indeed ini bukan sebuah alasan untuk hidup terus terkungkung dalam kesedihan. Bahwa selalu ada ibrah (hikmah) yang bisa diambil dari setiap peristiwa, berpikir positif,   merupakan salah satu obat untuk mengembalikan posisi cinta pada tempatnya dan berperan kembali dalam menghidupkan suasana hati yang terlanjur teriris-iris. Salah satu cara yang paling efektif, palingkanlah cinta dari seseorang yang membuat hidup menderita karena tipu dayanya, kepada Dzat Sang Pemberi cinta dan kasih sayang.

Kadang terlintas pertanyaan, apakah ada yang namanya cinta sejati, selain cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, selain cinta kepada kedua orang tua ?. trus cirinya seperti apa ?. secara definitif, ada yang membuat pengertian mengenai cinta sejati sebagai rasa senang, berbunga-bunga dan membuat perasaan berada pada level kebahagian terus-menerus kepada seseorang yang disebabkan oleh sesuatu hal yang kadang tidak bisa dijelaskan. Bukan karena kecantikannya, bukan karena kekayaannya, pokoknya senang aja. Ada yang menambahkan parameter lain yaitu tak lekang oleh waktu ….

Pernahkah merasakan ketika menyukai seseorang, setelah sekian lama waktu berlalu rasa itu tetap ada di lubuk sanubari ? walaupun terpisahkan jarak bahkan mungkin bertahun-tahun tidak pernah ketemu lagi namun rasa itu tetap tumbuh subur di relung hati ?. Itulah contoh sederhana yang karakternya mirip dengan cinta sejati.

Ada sebuah kisah, tersebutlah sebuah keluarga dengan satu orang istri, satu orang suami dan 2 orang anaknya. Pada suatu saat si istri hamil anak yang ketiga. Fase kehamilan yang dialami si istri normal-normal saja, semua anggota keluarga diliputi rasa kebahagiaan karena akan datangnya anggota keluarga yang baru. Suatu saat ketika masa kelahiran akan terjadi, maka dibawalah si istri oleh suami yang sangat mencintainya ke rumah sakit dan karena satu dan lain hal, si istri terpaksa harus melewati operasi cesar untuk menyelamatkan bayi dan ibunya. Namun tuhan berkehendak lain, si istri memang selamat, namun bayinya tidak bisa diselamatkan. Hal ini membuat si istri selalu dirundung rasa sedih yang berkepanjangan, sampai akhirnya pasca operasi cesar, si istri jatuh sakit, dan akibat komplikasi yang dialami si istri, menyebabkan syaraf motorik si istri terganggu, sehingga hampir-hampir dia tidak bisa menggerakan seluruh otot tubuhnya.

Semenjak peristiwa tersebut, si suami dengan telaten mengurusi istrinya yang sekarang sudah tidak bisa berdaya. Memandikan, mengganti pakaian sampai membersihkan bekas hajat istrinya dilakukan si suami dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Minggu berlalu, bulan dan tahun silih berganti, anak-anak keluarga tersebut sudah mempunyai keluarga sendiri dan pergi meninggalkan si suami sama istri tersebut untuk membaktikan hidupnya pada keluarganya yang baru. Rutinitas si suami tetapa seperti biasa, pagi-pagi ketika akan berangkat bekerja memandikan dulu istrinya, mengganti bajunya dan mengangkatnya ke sofa, menyalakan televisi agar si istri tidak kesepian ketika dia sedang bekerja. Hal itu dilakukan terus menerus tanpa merasa ada beban sekalipun.

Suatu waktu, melihat ayah mereka yang sudah tua namun masih tetap melayani kebutuhan ibunya dengan segala kemampuannya, salah seorang anak keluarga tersebut menganjurkan kepada ayahnya, biarkanlah ibunya dia yang mengurus agar ayahnya bisa istirahat menikmati masa tuanya. Namun jawaban si ayah menjawab,

“ Tahukah kamu nak, ayahmu ini mencintai ibumu sepenuh hati, bukan karena kecantikannya, karena seandainya ayah mencintai ibumu karena kecantikannya mungkin dari dulu semenjak ibumu sakit sehinngga badannya semakin kurus, rambutnya rontok, ayah akan menikahi wanita lain yang lebih cantik. Seandainya ayahmu mencintai ibumu karena hartanya, maka ketika harta benda habis untuk pengobatan ibumu, maka ayahmu ini mungkin akan mencari wanita lain yang lebih mampu dan berada secara harta dari ibumu. Dan seandainya saja ayahmu ini mencintai dan menikahi ibumu karena syahwat lahiriah, maka ketika ibumu sakit dan tidak bisa lagi memberikan pelayanan kepada ayahmu ini, mungkin saja ayahmu akan menceraikan ibumu dan mencari wanita lain yang masih normal dan bisa melayani ayahmu. Namun tidak nak, ayahmu mencintai dan menikahi ibumu karena ayahmu benar-benar menyayangi ibumu karena  Allah dan sebagai sarana ibadah kepada-Nya. Maka, nak, biarkanlah selama sisa hidup ayahmu ini, ayah menjalankan sumpah setia ayahmu ketika melakukan ijab qabul dihadapan pennghulu untuk menerima, mencintai dan menyayangi ibumu apa adanya, dan merawat ibumu sampai maut memisahkan ibu dan ayahmu. Semoga kelak, kami dipertemukan kembali di surganya Allah SWT.”

“Bersyukurlah bagi orang-orang yang memiliki cinta kasih dihatinya”.

Categories: Story of life

Chapter III : Salahkah Aku ????

April 13, 2010 Leave a comment

Pertanyaan yang sungguh menggelitik. Sungguh sangat menggelitik. Ketika dihadapkan pada sebuah peristiwa yang melibatkan pihak kedua atau lebih tepatnya pihak ketiga. Ketika perjuangan mendapatkan sebuah hak terbentur dengan hak yang dimiliki orang lain. Kadang kuberpikir sungguh naif orang yang berteriak-teriak memperjuangkan haknya, tapi dirinya sendiri tidak melihat bahwa tuntutan yang dia inginkan juga melanggar hak orang lain.

Ketika kemarin rame-rame orang demo ILGA di surabaya dan puncaknya digeruduk oleh FUI, komnas HAM langsung bereaksi, melanggar HAM katanya. Namun pendapat itu hanya ditinjau dari perspektif orang-orang ILGA, namun apakah mereka (komnas HAM) pernah melihat dari sisi orang FUI, bahwa orang2 FUI juga punya hak untuk mempertahankan dan memperjuangkan agamanya dan ketentraman lingkungannya dari gangguan faktor eksternal akibat adanya resistansi terhadap ILGA. So, jadi sebenarnya definisi hak asasi itu kayaknya harus di redefinisi kembali, harus ditambahi bahawa hak asasi itu adalah sesuatu yang memang layak diterima oleh semua orang dengan memperhatikan kewajiban individu untuk menghormati hak asasi yang lainnya juga.. (iya gitu ???).

Ketika tuntutan hak beririsan dengan orang lain, tentu harus ada kompromi yang dilakukan, kompromi yang dijadikan sebagai landasan agar tidak terjadi clash diakhir. Pikirkanlah bahwa kita akan senang jika hak-hak kita tidak terganggu, begitupun orang lain. Mendapatkan hak adalah boleh tapi menghargai dan menghormati hak orang lain adalah kewajiban, jangan dibalik. Jika prinsip ini dipakai, mungkin harmony kehidupan akan tetap terjaga.. mungkin intinya throw away your selfish mode…

Jangan merasa benar karena memperjuangkan hak tanpa sedikitpun melihat hak-hak orang yang tergerus akibat cara-cara mendapatkan hak tersebut. Ini kesalahan yang kadang tidak disadari atau lebih tepatnya tidak mau tahu. Emosi tinggi bisa menghilangkan pertimbangan ini, harga diri, harga sembako dan harga-harga yang lainnya juga bisa turut memperkeruh kejernihan pikiran dalam menentukan pilihan jalan yang harus ditempuh untuk menggapai ‘sesuatu’ yang jadi hak.
“Hormatilah orang lain sebagaimana kita ingin dihargai”.

Categories: Story of life